Interaksi Spesies
Organisme organisme laintentu ada didalam situasi natural, dan merupakan bagian yang melengkapi lingkungan. Mereka sangat penting karena dapat menyediakan bahan makanan, menjadi tempat berteduh atau berlindung dan melengkapi kebutuhan kebutuhan lain. Sebaliknya diantaranya tentu ada yang merupakan tetangga yang tidak diinginkan.
Interaksi yang bermacam-macam dapat dibagi dalam dua golongan utama yaitu simbiosa dan antagonisma. Didalam golongan pertama kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan, dan salah satu atau kedua-duanya mendapat keuntungan, sedang dalam golongan yang kedua salah satu pihak dirugikan.
Simbiosa berarti hidup berdampingan. Pada simbiosa mutualisme kedua organisme saling diuntungkan. Pertumbuhan dan survivalnya diuntungkan karenanya, dan dalam keadaan wajar organisme tidak dapat lestari apabila terpisah dari partnernya. Plankton-plankton, mahluk tumbuhan atau hewan yang hidup melayang-melayang didalam air banyak yang merupakan mutualisme. Tumbuhan leguminosa, yaitu yang berbuah polongan juga menjalankan simbiosa semacam, dengan bakteria zat lemas yang mengumpul diakar. Bakteria mendapat karbohidrat dan bahan lain, sebaliknya bakteria mengikat gas nitrogen dari udara dan diberikan kepada induk-semangnya.
Pada simbiosa komensalisme satu pihak saja yang diuntungkan sedang pihak yang lain tidak mendapat dan tidak menderita apa-apa. Termasuk ini ialah tumbuhan epifit yang hidup pada tumbuhan lain, seperti anggrek, lumut pohon, dan tumbuhan lain yang bergelantungan didahan pohon , dan juga hewan-hewan yang hidup di pepohonan seperti katak pohon dan sebagainya. Tumbuhan atau hewan tersebut tidak menghisap makanan dari partnernya hanya numpang tempat tinggal.
Yang termasuk kategori interaksi antagonid ialah antibiosa, eksploitasi dan kompetisi. Organisme mengeluarkan bermacam-macam bahan dari metabolismenya. Karbon dioksida atau asam organik hasil metabolisma, yang memenuhi suatu lingkungan, sering menghambat mahluk lain untuk melangsungkan hidup. Ada kalanya ada bahan produksi khusus yang antagonistik terhadap spesies lain. Cendawan sering kali mengeluarkan bahan semacam itu, seperti pinicillin, streptomycin, auromycin, ialah bahan antibiotik yang dapat membunuh bakteria-bakteria tertentu.
Eksploitasi dilakukan oleh organisme predator dan parasit. Predator merampok mahluk lain untuk dikonsumsi. Termasuk golongan ini ialah pemakan mahluk lain seperti sapi, harimau dan manusia. Parasit relatif kecil dibanding dengan mahluk lain yang dieksploitasi, hidupnya dengan mengambil bahan makanan dari induk semangnya. Memang kadang-kadang tidak terlihat batas yang tegas antara parasitisme dan komensialisme. Contoh parasit misalnya benalu yang menempel pada dahan pohon, tali putri yang hinggap pada dedaunan, cacing yang hidup dalam mahluk lain.
Kompetesi atau persaingan ada dua macam, yaitu tipe persaingan yang langsung bertindak terhadap organisme lain, dan tipe lain yang didorong untuk memenuhi sumber daya hidup, lebih-lebih apabila sediaan sumber daya kurang. Misalnya persaingan untuk memperoleh cahaya, air dan bahan makanan. Apabila kedua belah pihak sama sekali tidak mempengaruhi, maka mereka tidak menjalankan interaksi, mereka mengikuti netralisme.
Menurut Darwin, kompetisi memegang peran utama didalam evolusi kehidupan. Karena semua organisme berkompetisi untuk mendapatkan makanan, maka berakibat perubahan kehidupan kearah kemajuan. Ini dituangkannya didalam hukum seleksi natural sebagai berikut :
a. Semua mahluk berjuang untuk hidup
b. Yang lestari ialah yang paling kuat
karena yang tertinggal hidup yang paling kuat, maka yang paling kuat inilah yang meneruskan kehidupan, sehingga spesies-spesies yang menggantikan makin lama makin baik.
Sesungguhnya yang lestari dan meneruskan perkembangan juga mereka yang dapat bekerja-sama, bersimbiosa. Jadi kompetisi dan kooperasi memegang peranan penting dalam sejarah perkembangan hidup, dan inipun berlaku pada masyarakat manusia.
SPESIES
Keanekaragaman spesies pada kelompok hewan atau tumbuhan tertentu→(ordo)→Kingdom.
40% mamalia
20% burung dari seluruh dunia
40% reptil
Masih ada satwa liar (Wild Life)
Aves→ jenis burung :
Besar : Rhyticeras vigil
Pavo muticuss (merak Jawa)
Argusianus argus (merak Kalimantan)
Bocerus rhimeceros (kepala bertanduk)
Indah : Burung cendrawasih (± 12 jenis di Irja)
Hubungan antara mahluk yang satu dengan yang lain :
1. Hubungan intraspesies : Hubungan antara organisme yang sama spesiesnya.
2. Hubungan antar spesies : Hubungan antara dua organisme yang berbeda jenis atau spesies. Misal : manusia dengan ayam, ayam dengan kambing.
TIPE-TIPE INTERAKSI ANTARA DUA JENIS (SPESIES)
Secara teori, populasi dari dua jenis dapat berinteraksi di dalam cara-cara dasar yang sesuai dengan kombinasi menghasilkan 9 interaksi penting yang telah diperagakan pada skema klasifikasi Haskel.
Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1.Neutralisme di dalam mana tidak ada satu pun populasi yang terpengaruh oleh asosiasi dengan yang lain,
2.tipe persaingan yang saling menghalang-halangi (mutual inhibition competition type) dalam mana kedua populasi secara aktif saling menghalang-halangi,
3.tipe persaingan penggunaan sumber daya, di dalam mana tiap populasi mempunyai pengaruh yang merugikan yang lain dalam perjuangannya untuk memperoleh sumber-sumber yang persediaannya berada dalam kekurangan,
4.Amensalisme, di dalam mana satu populasi dihalang-halangi sedangkan yang lainnya tidak terpengaruh,
5.Parasitisme, dan
6.Pemangsaan (predator), dimana satu populasi merugikan yang lain dengan cara menyerang secara langsung tetapi meskipun begitu tergantung kepada yang lain,
7.Commensalisme, dimana satu populasi diuntungkan sedangkan yang lain tidak terpengaruh,
8.Protocooperation, dalam mana kedua populasi memperoleh keuntungan dengan adanya asosiasi itu tetapi hubungan itu tidak merupakan suatu keharusan,
9.Mutualisme, dimana pertumbuhan dan kehidupan kedua populasi itu mendapat keuntungan dan tidak satupun dapat hidup di alam tanpa yang lain.
Mengenai Saya
- BLOG MATA KULIAH KESEHATAN LINGKUNGAN
- selamat datang di blog materi kuliah kesehattan lingkungan,, blog ini berisi tentang materi-materi kuliah yang ada di jurusan kesehatan lingkungan dan bertujuan mempermudah mahasiswa kesehatan lingkungan dalam mencari materi-materi kuliah. semoga blog ini bermanfaat bagi yang membaca, khususnya bagi mahasiswa kesehatan lingkungan sendiri..
Tampilkan postingan dengan label ekologi (semester 2). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekologi (semester 2). Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Januari 2011
Keanekaragaman Hayati, Fauna
Praktikum : Keanekaragaman Hayati, Fauna
Tempat : Kebun Binatang Purwodadi AD
Kerajaan : Plantae
Divisio : Sphenophyta
Kelas : Equisetopsida
Ordo : Equisetales
Familia : Equisetaceae
Genus : Equisetum
Nama paku ekor kuda merujuk pada segolongan kecil tumbuhan (sekitar 20 spesies) yang umumnya herba kecil dan semua masuk dalam genus Equisetum (dari equus yang berarti "kuda" dan setum yang berarti "rambut tebal" dalam bahasa Latin). Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Di kawasan Malesia (Indonesia termasuk di dalamnya) hanya dijumpai satu spesies saja, E. debile Roxb. (Melayu: "rumput betung", Sunda: "tataropongan", Jawa: "petongan"). Kalangan taksonomi masih memperdebatkan apakah ekor kuda merupakan divisio tersendiri, Equisetophyta (atau Sphenophyta), atau suatu kelas dari Pteridophyta, Equisetopsida (atau Sphenopsida). Hasil analisis molekular menunjukkan kedekatan hubungan dengan Marattiopsida.
Semua anggota paku ekor kuda bersifat tahunan, terna berukuran kecil (tinggi 0.2-1.5 m), meskipun beberapa anggotanya (hidup di Amerika Tropik) ada yang bisa tumbuh mencapai 6-8 m (E. giganteum dan E. myriochaetum).
Batang tumbuhan ini berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di tengahnya, berperan sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batang ini banyak mengandung silika. Ada kelompok yang batangnya bercabang-cabang dalam posisi berkarang dan ada yang bercabang tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang baik, hanya menyerupai sisik yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus (jamak strobili) yang terletak pada ujung batang (apical). Pada banyak spesies (misalnya E. arvense), batang penyangga strobilus tidak bercabang dan tidak berfotosintesis (tidak berwarna hijau) serta hanya muncul segera setelah musim salju berakhir. Jenis-jenis lain tidak memiliki perbedaan ini (batang steril mirip dengan batang pendukung strobilus), misalnya E. palustre dan E. debile.
Spora yang dihasilkan paku ekor kuda umumnya hanya satu macam (homospor) meskipun spora yang lebih kecil pada E. arvense tumbuh menjadi protalium jantan. Spora keluar dari sporangium yang tersusun pada strobilus. Sporanya berbeda dengan spora paku-pakuan karena memiliki empat "rambut" yang disebut elater. Elater berfungsi sebagai pegas untuk membantu pemencaran spora.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai sisa-sisa serasah dari hutan purba ini yang telah membatu.
Tumbuh ditempat terbuka atau sedikit ternaungi, berkumpul pada tanah lembah berpasir dan berbatu-batu yang banyak digenangi air, sepanjang aliran air di pegunungan, tepi sungai, selokan atau di rawa-rawa. Herba ini dapat ditemukan dari 300-2.700 m dpl. Tanaman pakuan yang tumbuh tegak atau tumbuh ke atas diantara tumbuhan lain, tinggi sekitar 1 m. Pangkal kadang merayap, ujung berjuntai, batang agak lemas, berongga dengan diameter 2-10 mm, bergaris-garis, beruas panjang. Cabang-cabang berkarang keluar dari buku-bukunya, selalu hijau dengan akar rimpang yang merayap. Daun keluar di atas buku, tersusun berkarang, kecil, lancip, berbentuk sisik dan merupakan sebuah kelopak tipis. Kantong spora terletak di ujung batang, berupa bulir, panjang 1-2,5 cm bentuknya lonjong dengan ujung yang tajam. Daun spora berbentuk perisai segi enam, bertangkai, di tengah-tengah berangkai dan susunannya berkeliling. Perbanyakan dengan spora.
Penyakit Yang Dapat Diobati antara lain:
* Radang mata merah (acute conjunctivitis).
* Radang saluran air mata (ductus lacrimalis).
* Menghambat pembentukan selaput pada mata (pterygium).
* Influenza, demam.
* Diare, radang usus.
* Hepatitis.
* Kencing berdarah (hematuria), berak darah, darah haid banyak.
* Kencing kurang lancar, bengkak (edema).
* Tulang patah, rematik.
* Wasir (hemorrhoid).
Pemanfaatan
BAGIAN YANG DIPAKAI: Seluruh herba. Tanaman dicuci bersih, dipotong-potong seperlunya. Jemur untuk disimpan.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 10-15 g herba kering, rebus. Pemakaian luar: Dibuat parem.
Digunakan untuk sakit pada persendian, digosokkan pada anak untuk
memperkuat anggota gerak dan obat luka.
CARA PEMAKAIAN:
1. Tulang patah:
Bila kedudukan tulang baik, ambil 2 batang herba segar
seutuhnya, dicuci lalu ditumbuk halus, remas dengan air garam
secukupnya. Ramuan ini dipakai untuk menurap bagian yang cedera, lalu
dibalut. Diganti 2 kali sehari.
2. Hepatitis,
wasir: 30 g herba,greges otot direbus, minum sebagai teh.
3. Acute conjunctivitis, radang mata:
Greges otot, biji boroco (Celosia argentea L.), bunga chrysant
(Chrysanthemum indicum), kulit sejenis jangkrik (Cryptotympana atrata =
cicada), masing-masing 10 g, rebus. Setelah dingin disaring, minum.
4.Rematik:
15 g herba kering dan sebutir asam (Tamarindus indica) direbus
dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin
disaring, minum pagi dan sore hari, sampai sembuh.
5. Wasir:
30 g herba segar greges otot dicuci bersih lalu digiling halus. Tempelkan pada
wasirnya.
CATATAN : Pemakaian lama, dapat mengganggu fungsi ginjal.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Manis, sedikit pahit, netral. Anti radang, peluruh kencing (diuretik), pengobatan radang mata, menghilangkan angin dan panas, astringent, antihemorrhoid, menghentikan perdarahan. KANDUNGAN KIMIA: Asam kersik 5%-10%, asam oksalat, asam malat, asam akonitat (equisetic acid), asam tanat, kalium, natrium, thiaminase dan saponin.
Tempat : Kebun Binatang Purwodadi AD
Kerajaan : Plantae
Divisio : Sphenophyta
Kelas : Equisetopsida
Ordo : Equisetales
Familia : Equisetaceae
Genus : Equisetum
Nama paku ekor kuda merujuk pada segolongan kecil tumbuhan (sekitar 20 spesies) yang umumnya herba kecil dan semua masuk dalam genus Equisetum (dari equus yang berarti "kuda" dan setum yang berarti "rambut tebal" dalam bahasa Latin). Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Di kawasan Malesia (Indonesia termasuk di dalamnya) hanya dijumpai satu spesies saja, E. debile Roxb. (Melayu: "rumput betung", Sunda: "tataropongan", Jawa: "petongan"). Kalangan taksonomi masih memperdebatkan apakah ekor kuda merupakan divisio tersendiri, Equisetophyta (atau Sphenophyta), atau suatu kelas dari Pteridophyta, Equisetopsida (atau Sphenopsida). Hasil analisis molekular menunjukkan kedekatan hubungan dengan Marattiopsida.
Semua anggota paku ekor kuda bersifat tahunan, terna berukuran kecil (tinggi 0.2-1.5 m), meskipun beberapa anggotanya (hidup di Amerika Tropik) ada yang bisa tumbuh mencapai 6-8 m (E. giganteum dan E. myriochaetum).
Batang tumbuhan ini berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di tengahnya, berperan sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batang ini banyak mengandung silika. Ada kelompok yang batangnya bercabang-cabang dalam posisi berkarang dan ada yang bercabang tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang baik, hanya menyerupai sisik yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus (jamak strobili) yang terletak pada ujung batang (apical). Pada banyak spesies (misalnya E. arvense), batang penyangga strobilus tidak bercabang dan tidak berfotosintesis (tidak berwarna hijau) serta hanya muncul segera setelah musim salju berakhir. Jenis-jenis lain tidak memiliki perbedaan ini (batang steril mirip dengan batang pendukung strobilus), misalnya E. palustre dan E. debile.
Spora yang dihasilkan paku ekor kuda umumnya hanya satu macam (homospor) meskipun spora yang lebih kecil pada E. arvense tumbuh menjadi protalium jantan. Spora keluar dari sporangium yang tersusun pada strobilus. Sporanya berbeda dengan spora paku-pakuan karena memiliki empat "rambut" yang disebut elater. Elater berfungsi sebagai pegas untuk membantu pemencaran spora.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai sisa-sisa serasah dari hutan purba ini yang telah membatu.
Tumbuh ditempat terbuka atau sedikit ternaungi, berkumpul pada tanah lembah berpasir dan berbatu-batu yang banyak digenangi air, sepanjang aliran air di pegunungan, tepi sungai, selokan atau di rawa-rawa. Herba ini dapat ditemukan dari 300-2.700 m dpl. Tanaman pakuan yang tumbuh tegak atau tumbuh ke atas diantara tumbuhan lain, tinggi sekitar 1 m. Pangkal kadang merayap, ujung berjuntai, batang agak lemas, berongga dengan diameter 2-10 mm, bergaris-garis, beruas panjang. Cabang-cabang berkarang keluar dari buku-bukunya, selalu hijau dengan akar rimpang yang merayap. Daun keluar di atas buku, tersusun berkarang, kecil, lancip, berbentuk sisik dan merupakan sebuah kelopak tipis. Kantong spora terletak di ujung batang, berupa bulir, panjang 1-2,5 cm bentuknya lonjong dengan ujung yang tajam. Daun spora berbentuk perisai segi enam, bertangkai, di tengah-tengah berangkai dan susunannya berkeliling. Perbanyakan dengan spora.
Penyakit Yang Dapat Diobati antara lain:
* Radang mata merah (acute conjunctivitis).
* Radang saluran air mata (ductus lacrimalis).
* Menghambat pembentukan selaput pada mata (pterygium).
* Influenza, demam.
* Diare, radang usus.
* Hepatitis.
* Kencing berdarah (hematuria), berak darah, darah haid banyak.
* Kencing kurang lancar, bengkak (edema).
* Tulang patah, rematik.
* Wasir (hemorrhoid).
Pemanfaatan
BAGIAN YANG DIPAKAI: Seluruh herba. Tanaman dicuci bersih, dipotong-potong seperlunya. Jemur untuk disimpan.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 10-15 g herba kering, rebus. Pemakaian luar: Dibuat parem.
Digunakan untuk sakit pada persendian, digosokkan pada anak untuk
memperkuat anggota gerak dan obat luka.
CARA PEMAKAIAN:
1. Tulang patah:
Bila kedudukan tulang baik, ambil 2 batang herba segar
seutuhnya, dicuci lalu ditumbuk halus, remas dengan air garam
secukupnya. Ramuan ini dipakai untuk menurap bagian yang cedera, lalu
dibalut. Diganti 2 kali sehari.
2. Hepatitis,
wasir: 30 g herba,greges otot direbus, minum sebagai teh.
3. Acute conjunctivitis, radang mata:
Greges otot, biji boroco (Celosia argentea L.), bunga chrysant
(Chrysanthemum indicum), kulit sejenis jangkrik (Cryptotympana atrata =
cicada), masing-masing 10 g, rebus. Setelah dingin disaring, minum.
4.Rematik:
15 g herba kering dan sebutir asam (Tamarindus indica) direbus
dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin
disaring, minum pagi dan sore hari, sampai sembuh.
5. Wasir:
30 g herba segar greges otot dicuci bersih lalu digiling halus. Tempelkan pada
wasirnya.
CATATAN : Pemakaian lama, dapat mengganggu fungsi ginjal.
Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Manis, sedikit pahit, netral. Anti radang, peluruh kencing (diuretik), pengobatan radang mata, menghilangkan angin dan panas, astringent, antihemorrhoid, menghentikan perdarahan. KANDUNGAN KIMIA: Asam kersik 5%-10%, asam oksalat, asam malat, asam akonitat (equisetic acid), asam tanat, kalium, natrium, thiaminase dan saponin.
Keanekaragaman Hayati, Fauna laut
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin)[1] yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak (jv, bjn), jukut (vkt).
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai "ikan", seperti ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.
Ekologi ikan
Ikan dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam akuarium.
Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton.
Overfishing adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan penangkapan ikan secara berlebihan. Fenomena ini merupakan ancaman bagi berbagai spesies ikan. Pada tanggal 15 Mei 2003, jurnal Nature melaporkan bahwa semua spesies ikan laut yang berukuran besar telah ditangkap berlebihan secara sistematis hingga jumlahnya kurang dari 10% jumlah yang ada pada tahun 1950. Penulis artikel pada jurnal tersebut menyarankan pengurangan penangkapan ikan secara drastis dan reservasi habitat laut di seluruh dunia.
1. Pembahasan
Zebrasoma Scopas (burung laut)
Keluarga: Acanthuridae (Surgeonfishes, tangs, unicornfishes),
subfamily: Acanthurinae
Order: Perciformes (perch-likes)
Kelas: Actinopterygii (ray-ikan bersirip)
Nama FishBase: Twotone kelentang
Max. Ukuran:40,0 cm SL (jantan / unsexed; (Ref. 48637))
Lingkungan: karang-terkait; laut; kisaran kedalaman 1 - 60 m (Ref. 1602), biasanya 1 - 60 m (Ref. 27115)
Iklim: tropis; 25 - 28 ° C, 24 ° - 34 ° S, 32 ° E - 78 ° W
Pentingnya: aquarium: komersial
Ketahanan: Media, minimal dua kali lipat populasi waktu 1,4 - 4,4 tahun (K = 0,425; Tmax = 33)
Kerentanan:Kerentanan tinggi (63,38). (Ref. 59153 ) (Ref. 59153)
Distribusi:
Indo-Pasifik: Afrika Timur, termasuk Mascarene Islands (Ref. 37792) ke Kepulauan Tuamoto, utara ke selatan Jepang, ke selatan dan Tuhan Howe Rapa pulau.
Morfologi
Dark brown (dalam tubuh hidup dengan denda pucat biru-hijau longitudinal skala baris baris berikut, menjadi anteriorly pada titik-titik pada tubuh dan kepala). Kekuning-kuningan kecil remaja ada bar dan kuning specks lebih menonjol daripada orang dewasa.
Biologi
Tergores pada algae, biasanya dalam 20 kelompok individu.Dewasa biasanya dalam kelompok kecil dan kadang-kadang sekolah.Juveniles tersendiri dan biasanya antara karang Hal ikan bertelur aggregations formulir penduduk Monogamous. Berhubung dgn monogami Kelompok dan pasangan hal ikan bertelur telah diamati. Daging tidak pernah poisonous
Berbahaya: harmless berbahaya
2. Pembahasan
Penguin Hijau (gomphosus caerulus)
Keluarga: Labridae (Wrasses)
Order: Perciformes (perch-seperti ikan)
Kelas: Osteichthyes (Ray-ikan bersirip)
Internasional nama: Green birdmouth wrasse
Maksimum Ukuran: 30,0 cm
Habitat: di Laut Merah, bagian barat Samudera Pasifik Indo-kumba
Kondisi hidup: ia menyembunyikan di fissures dan crevices
Laki-laki yang memiliki warna hijau, dan perempuan yang adil. Mereka memiliki panjang hidung nyaman yang dapat digunakan untuk mengambil atau kepiting bite off, mollusks, starfishes dan algae dari crevices.
• Distribusi: Laut Merah dan bagian barat Indo-Pasifik kumba.
• Ukuran: Hingga 30
• Perawatan: Ikan tidak bercanda, karena adaptasi hidup lama dan baik. Ikan ini memerlukan banyak ruang untuk kolam dan akuarium besar Agar ikan ini juga cocok aquariums karang di hadapan yang rongsokan dari batu.
• Makanan: Pada dasarnya, makanan yang utama adalah kepiting, clams, bintang laut, fouling, serta algaeDalam aquariums telah menjadi biasa untuk bebas floating feed. Kemungkinan konten di akuarium: Well cocok untuk ruang dengan batu karang, namun tidak dengan invertebrata lainnya.
• Tetap «Mini-Nemo»: tidak akan cocok.
• Hubungan dengan penduduk lainnya di akuarium: Dalam hal ikan tidak memperlihatkan agresi.
• Curiously: kehijau-hijauan warna laki-laki dan perempuan adalah biru muda.
• Fitur: serupa dari G. varius ditemukan di sebelah timur Pasifik, ia seringkali dapat ditemukan pada penjualan.
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci). Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai "ikan", seperti ikan paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.
Ekologi ikan
Ikan dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara untuk dipamerkan dalam akuarium.
Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton.
Overfishing adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan penangkapan ikan secara berlebihan. Fenomena ini merupakan ancaman bagi berbagai spesies ikan. Pada tanggal 15 Mei 2003, jurnal Nature melaporkan bahwa semua spesies ikan laut yang berukuran besar telah ditangkap berlebihan secara sistematis hingga jumlahnya kurang dari 10% jumlah yang ada pada tahun 1950. Penulis artikel pada jurnal tersebut menyarankan pengurangan penangkapan ikan secara drastis dan reservasi habitat laut di seluruh dunia.
1. Pembahasan
Zebrasoma Scopas (burung laut)
Keluarga: Acanthuridae (Surgeonfishes, tangs, unicornfishes),
subfamily: Acanthurinae
Order: Perciformes (perch-likes)
Kelas: Actinopterygii (ray-ikan bersirip)
Nama FishBase: Twotone kelentang
Max. Ukuran:40,0 cm SL (jantan / unsexed; (Ref. 48637))
Lingkungan: karang-terkait; laut; kisaran kedalaman 1 - 60 m (Ref. 1602), biasanya 1 - 60 m (Ref. 27115)
Iklim: tropis; 25 - 28 ° C, 24 ° - 34 ° S, 32 ° E - 78 ° W
Pentingnya: aquarium: komersial
Ketahanan: Media, minimal dua kali lipat populasi waktu 1,4 - 4,4 tahun (K = 0,425; Tmax = 33)
Kerentanan:Kerentanan tinggi (63,38). (Ref. 59153 ) (Ref. 59153)
Distribusi:
Indo-Pasifik: Afrika Timur, termasuk Mascarene Islands (Ref. 37792) ke Kepulauan Tuamoto, utara ke selatan Jepang, ke selatan dan Tuhan Howe Rapa pulau.
Morfologi
Dark brown (dalam tubuh hidup dengan denda pucat biru-hijau longitudinal skala baris baris berikut, menjadi anteriorly pada titik-titik pada tubuh dan kepala). Kekuning-kuningan kecil remaja ada bar dan kuning specks lebih menonjol daripada orang dewasa.
Biologi
Tergores pada algae, biasanya dalam 20 kelompok individu.Dewasa biasanya dalam kelompok kecil dan kadang-kadang sekolah.Juveniles tersendiri dan biasanya antara karang Hal ikan bertelur aggregations formulir penduduk Monogamous. Berhubung dgn monogami Kelompok dan pasangan hal ikan bertelur telah diamati. Daging tidak pernah poisonous
Berbahaya: harmless berbahaya
2. Pembahasan
Penguin Hijau (gomphosus caerulus)
Keluarga: Labridae (Wrasses)
Order: Perciformes (perch-seperti ikan)
Kelas: Osteichthyes (Ray-ikan bersirip)
Internasional nama: Green birdmouth wrasse
Maksimum Ukuran: 30,0 cm
Habitat: di Laut Merah, bagian barat Samudera Pasifik Indo-kumba
Kondisi hidup: ia menyembunyikan di fissures dan crevices
Laki-laki yang memiliki warna hijau, dan perempuan yang adil. Mereka memiliki panjang hidung nyaman yang dapat digunakan untuk mengambil atau kepiting bite off, mollusks, starfishes dan algae dari crevices.
• Distribusi: Laut Merah dan bagian barat Indo-Pasifik kumba.
• Ukuran: Hingga 30
• Perawatan: Ikan tidak bercanda, karena adaptasi hidup lama dan baik. Ikan ini memerlukan banyak ruang untuk kolam dan akuarium besar Agar ikan ini juga cocok aquariums karang di hadapan yang rongsokan dari batu.
• Makanan: Pada dasarnya, makanan yang utama adalah kepiting, clams, bintang laut, fouling, serta algaeDalam aquariums telah menjadi biasa untuk bebas floating feed. Kemungkinan konten di akuarium: Well cocok untuk ruang dengan batu karang, namun tidak dengan invertebrata lainnya.
• Tetap «Mini-Nemo»: tidak akan cocok.
• Hubungan dengan penduduk lainnya di akuarium: Dalam hal ikan tidak memperlihatkan agresi.
• Curiously: kehijau-hijauan warna laki-laki dan perempuan adalah biru muda.
• Fitur: serupa dari G. varius ditemukan di sebelah timur Pasifik, ia seringkali dapat ditemukan pada penjualan.
REPTILE
Binatang melata atau reptilia adalah sebuah kelompok dari hewan vertebrata. Reptilia adalah tetrapoda, dan juga amniota (hewan yang embrionya dikelilingi oleh membran amniotik). Sekarang ini mereka mewakili empat ordo:
* Ordo Crocodylia (buaya dan alligator): 23 spesies
* Ordo Rhynchocephalia (tuatara dari Selandia Baru): 2 spesies
* Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia {"worm-lizards"}): sekitar 7.600 spesies
* Ordo Testudinata (kura-kura dan penyu): sekitar 300 spesies
Reptilia bisa ditemui di semua benua kecuali Antarktika, walaupun distribusi reptilia yang utama hanya di daerah tropis dan sub-tropis. Kecuali beberapa anggota ordo Testudines, semua reptilia memiliki cangkang
BAB I
BUAYA IRIAN
( C. Novaeguineae )
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Sauropsida
Ordo:
Crocodilia
Famili:
Crocodylidae
Genus:
Crocodylus
Spesies:
C. novaeguineae
Nama binomial
Crocodylus novaeguineae
A. Pengertian
Buaya Irian (Crocodylus novaeguineae) adalah salah satu spesies buaya yang ditemukan menyebar di perairan tawar pedalaman pulau Irian (Papua). Bentuk umum jenis ini mirip dengan buaya muara (C. porosus), namun lebih kecil dan warna kulitnya lebih gelap.
B. Deskripsi
Panjang tubuhnya sampai sekitar 3,35 m pada yang jantan, sedangkan yang betina hingga sekitar 2,65 m. Buaya ini memiliki sisik-sisik yang relatif lebih besar daripada buaya lainnya apabila disandingkan. Di bagian belakang kepala terdapat 4–7 sisik lebar (post-occipital scutes) yang tersusun berderet melintang, terpisah agak jauh di kanan-kiri garis tengah tengkuk. Sisik-sisik besar di punggungnya (dorsal scutes) tersusun dalam 8–11 lajur dan 11–18 deret dari depan ke belakang tubuh. Sisik-sisik perutnya dalam 23–28 deret (rata-rata 25 deret) dari depan ke belakang.
C. Habitat dan kebiasaan
Reptil yang umumnya nokturnal ini menghuni wilayah pedalaman Papua yang berair tawar, di sungai-sungai, rawa dan danau. Meskipun diketahui toleran terhadap air asin, buaya ini jarang-jarang dijumpai di perairan payau, dan tak pernah ditemui di tempat di mana terdapat buaya muara.
Buaya Irian bertelur di awal musim kemarau. Rata-rata buaya betina mengeluarkan 35 butir telur, dengan jumlah maksimal sekitar 56 butir. Berat telur rata-rata 73 gram, sementara anak buaya yang baru menetas berukuran antara 26–32 cm panjangnya. Buaya betina menunggui sarang dan anak-anaknya hingga dapat mencari makanannya sendiri.
D. Catatan Taksonomi
Dari segi morfologi dan habitat, jenis ini mirip dengan jenis-jenis buaya air tawar dari Indonesia bagian barat; yakni buaya Siam (C. siamensis), buaya Mindoro (C. mindorensis), dan buaya Kalimantan (C. raninus). C. mindorensis dahulu dianggap sebagai anak jenis (subspesies) buaya Irian (sebagai C. novaeguineae mindorensis), akan tetapi kini dianggap sebagai jenis tersendiri.
Diketahui ada dua populasi buaya Irian di Papua, yang terpisah oleh pegunungan tengah. Analisis DNA memperlihatkan bahwa kedua populasi itu secara genetik berlainan. Populasi di selatan pegunungan, yang menyebar mulai dari selatan Kepala Burung hingga jazirah selatan Papua Nugini, diusulkan para ahli untuk dianggap sebagai jenis yang terpisah, yakni buaya Sahul. Buaya ini secara morfologis serupa dengan buaya Irian, kecuali bahwa sisik-sisik besar di belakang kepala (post-occipital scutes) biasanya berjumlah tiga pasang (3–6 buah), dan sisik-sisik besar di tengkuk (nuchal scutes) dipisahkan oleh sederet sisik-sisik kecil.
Buaya Sahul juga memiliki musim bertelur yang berbeda (di awal musim hujan), berat telur rata-rata yang lebih tinggi (104 gram), dan jumlah telur rata-rata yang lebih rendah (22 butir). Anak yang ditetaskan berukuran rata-rata lebih panjang, yakni antara 31–37 cm.
E. Konservasi
Buaya Irian merupakan salah satu jenis buaya yang banyak dieksploitasi untuk dimanfaatkan kulitnya. Penangkapan dari alam di Papua Nugini saja tercatat lebih dari 20 ribu ekor pertahun di antara 1977-1980, yang kemudian menyusut menjadi antara 12 ribu – 20 ribu ekor pertahun (1981–1989) dan kini turun lagi menjadi antara 3.000–5.000 ekor pertahun. Sebaliknya, pengumpulan telur dan anakan untuk kepentingan penangkaran terus meningkat, sehingga kini berbagai penangkaran di negara itu bisa menghasilkan antara 2.500–10.000 ekor buaya pertahun.[4] Mempertimbangkan tingginya tekanan terhadap populasinya di alam, Pemerintah Indonesia telah memasukkan Crocodylus novaeguineae sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang, yang membatasi pemanfaatannya. Perdagangan kulit dan produk-produknya diawasi oleh CITES, yang memasukkan jenis ini ke dalam Apendiks II. Sementara IUCN memandangnya sebagai beresiko rendah (LR, lower risks) alias cukup aman, mengingat populasinya yang relatif masih tinggi dengan habitat yang luas di alam. Populasi buaya Irian liar diperkirakan antara 50 ribu hingga 100 ribu ekor, di seluruh pulau Papua.
BAB II
KURA-KURA
Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Sauropsida
Ordo : Testudinata
Linnaeus, 1758
Subordo
Cryptodira
A. Pengertian
Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.
B. Evolusi
Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.
Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.
C. Kebiasaan Hidup
Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).
Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.
Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan Kep. Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.
Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.
Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.
Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).
D. Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran
Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.
Suku-suku tersebut dan beberapa contohnya:
1. Anak bangsa Pleurodira
Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.
Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
* Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
* Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
* Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)
Pelomedusidae
Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.
2. Anak bangsa Cryptodira
Cheloniidae, penyu
Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.
Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
* Penyu hijau (Chelonia mydas)
* Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
Dermochelyidae, penyu belimbing
Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.
Chelydridae
Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.
Kinosternidae
Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.
Dermatemyidae
Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.
Carettochelyidae, labi-labi moncong babi
Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.
Trionychidae, labi-lab
Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia adalah:
* Bulus (Amyda cartilaginea)
* Manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra)
* Labi-labi hutan (Dogania subplana)
* Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
* Antipa, labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)
Emydidae
Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk hewan introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta).
Geoemydidae
Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya
* Biuku (Batagur baska)
* Beluku atau tuntong (Callagur borneoensis)
* Kuya batok (Cuora amboinensis)
Testudinidae, kura-kura darat sejati
Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
* Baning sulawesi (Indotestudo forsteni)
* Baning coklat (Manouria emys)
* Ordo Crocodylia (buaya dan alligator): 23 spesies
* Ordo Rhynchocephalia (tuatara dari Selandia Baru): 2 spesies
* Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia {"worm-lizards"}): sekitar 7.600 spesies
* Ordo Testudinata (kura-kura dan penyu): sekitar 300 spesies
Reptilia bisa ditemui di semua benua kecuali Antarktika, walaupun distribusi reptilia yang utama hanya di daerah tropis dan sub-tropis. Kecuali beberapa anggota ordo Testudines, semua reptilia memiliki cangkang
BAB I
BUAYA IRIAN
( C. Novaeguineae )
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Sauropsida
Ordo:
Crocodilia
Famili:
Crocodylidae
Genus:
Crocodylus
Spesies:
C. novaeguineae
Nama binomial
Crocodylus novaeguineae
A. Pengertian
Buaya Irian (Crocodylus novaeguineae) adalah salah satu spesies buaya yang ditemukan menyebar di perairan tawar pedalaman pulau Irian (Papua). Bentuk umum jenis ini mirip dengan buaya muara (C. porosus), namun lebih kecil dan warna kulitnya lebih gelap.
B. Deskripsi
Panjang tubuhnya sampai sekitar 3,35 m pada yang jantan, sedangkan yang betina hingga sekitar 2,65 m. Buaya ini memiliki sisik-sisik yang relatif lebih besar daripada buaya lainnya apabila disandingkan. Di bagian belakang kepala terdapat 4–7 sisik lebar (post-occipital scutes) yang tersusun berderet melintang, terpisah agak jauh di kanan-kiri garis tengah tengkuk. Sisik-sisik besar di punggungnya (dorsal scutes) tersusun dalam 8–11 lajur dan 11–18 deret dari depan ke belakang tubuh. Sisik-sisik perutnya dalam 23–28 deret (rata-rata 25 deret) dari depan ke belakang.
C. Habitat dan kebiasaan
Reptil yang umumnya nokturnal ini menghuni wilayah pedalaman Papua yang berair tawar, di sungai-sungai, rawa dan danau. Meskipun diketahui toleran terhadap air asin, buaya ini jarang-jarang dijumpai di perairan payau, dan tak pernah ditemui di tempat di mana terdapat buaya muara.
Buaya Irian bertelur di awal musim kemarau. Rata-rata buaya betina mengeluarkan 35 butir telur, dengan jumlah maksimal sekitar 56 butir. Berat telur rata-rata 73 gram, sementara anak buaya yang baru menetas berukuran antara 26–32 cm panjangnya. Buaya betina menunggui sarang dan anak-anaknya hingga dapat mencari makanannya sendiri.
D. Catatan Taksonomi
Dari segi morfologi dan habitat, jenis ini mirip dengan jenis-jenis buaya air tawar dari Indonesia bagian barat; yakni buaya Siam (C. siamensis), buaya Mindoro (C. mindorensis), dan buaya Kalimantan (C. raninus). C. mindorensis dahulu dianggap sebagai anak jenis (subspesies) buaya Irian (sebagai C. novaeguineae mindorensis), akan tetapi kini dianggap sebagai jenis tersendiri.
Diketahui ada dua populasi buaya Irian di Papua, yang terpisah oleh pegunungan tengah. Analisis DNA memperlihatkan bahwa kedua populasi itu secara genetik berlainan. Populasi di selatan pegunungan, yang menyebar mulai dari selatan Kepala Burung hingga jazirah selatan Papua Nugini, diusulkan para ahli untuk dianggap sebagai jenis yang terpisah, yakni buaya Sahul. Buaya ini secara morfologis serupa dengan buaya Irian, kecuali bahwa sisik-sisik besar di belakang kepala (post-occipital scutes) biasanya berjumlah tiga pasang (3–6 buah), dan sisik-sisik besar di tengkuk (nuchal scutes) dipisahkan oleh sederet sisik-sisik kecil.
Buaya Sahul juga memiliki musim bertelur yang berbeda (di awal musim hujan), berat telur rata-rata yang lebih tinggi (104 gram), dan jumlah telur rata-rata yang lebih rendah (22 butir). Anak yang ditetaskan berukuran rata-rata lebih panjang, yakni antara 31–37 cm.
E. Konservasi
Buaya Irian merupakan salah satu jenis buaya yang banyak dieksploitasi untuk dimanfaatkan kulitnya. Penangkapan dari alam di Papua Nugini saja tercatat lebih dari 20 ribu ekor pertahun di antara 1977-1980, yang kemudian menyusut menjadi antara 12 ribu – 20 ribu ekor pertahun (1981–1989) dan kini turun lagi menjadi antara 3.000–5.000 ekor pertahun. Sebaliknya, pengumpulan telur dan anakan untuk kepentingan penangkaran terus meningkat, sehingga kini berbagai penangkaran di negara itu bisa menghasilkan antara 2.500–10.000 ekor buaya pertahun.[4] Mempertimbangkan tingginya tekanan terhadap populasinya di alam, Pemerintah Indonesia telah memasukkan Crocodylus novaeguineae sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang, yang membatasi pemanfaatannya. Perdagangan kulit dan produk-produknya diawasi oleh CITES, yang memasukkan jenis ini ke dalam Apendiks II. Sementara IUCN memandangnya sebagai beresiko rendah (LR, lower risks) alias cukup aman, mengingat populasinya yang relatif masih tinggi dengan habitat yang luas di alam. Populasi buaya Irian liar diperkirakan antara 50 ribu hingga 100 ribu ekor, di seluruh pulau Papua.
BAB II
KURA-KURA
Klasifikasi
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Sauropsida
Ordo : Testudinata
Linnaeus, 1758
Subordo
Cryptodira
A. Pengertian
Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.
B. Evolusi
Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.
Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.
C. Kebiasaan Hidup
Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).
Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.
Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan Kep. Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.
Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.
Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.
Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).
D. Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran
Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.
Suku-suku tersebut dan beberapa contohnya:
1. Anak bangsa Pleurodira
Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.
Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
* Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
* Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
* Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)
Pelomedusidae
Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.
2. Anak bangsa Cryptodira
Cheloniidae, penyu
Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.
Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
* Penyu hijau (Chelonia mydas)
* Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
Dermochelyidae, penyu belimbing
Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.
Chelydridae
Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.
Kinosternidae
Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.
Dermatemyidae
Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.
Carettochelyidae, labi-labi moncong babi
Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.
Trionychidae, labi-lab
Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia adalah:
* Bulus (Amyda cartilaginea)
* Manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra)
* Labi-labi hutan (Dogania subplana)
* Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
* Antipa, labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)
Emydidae
Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk hewan introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta).
Geoemydidae
Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya
* Biuku (Batagur baska)
* Beluku atau tuntong (Callagur borneoensis)
* Kuya batok (Cuora amboinensis)
Testudinidae, kura-kura darat sejati
Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
* Baning sulawesi (Indotestudo forsteni)
* Baning coklat (Manouria emys)
TANAMAN POHON
Judul Pratikum : Tanaman Pohon
Lokasi : Kebun Bibit
Hari : Rabu
Tanggal : 13 Mei 2009
Pukul : 11.00 WIB
A. Tujuan Praktikum
• Untuk mengetahui spesies / jenis Tanaman Pohon
• Untuk mengetahui keadaan fisik dari Tanaman Pohon tersebut.
B. Dasar Teori
Pada abad yang keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya untuk sebelumnya menguyah cengkeh, agar harumlah napasnya. Cengkeh, pala dan merica sangatlah mahal di zaman Romawi. Cengkeh menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkeh dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian dengan sultanTernate. Orang Portugis membawa banyak cengkeh yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkeh sama dengan harga 7 gram emas.
Perdagangan cengkeh akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkeh di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkeh dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar.
Pada abad ke-17 dan ke-18 di Inggris harga cengkeh sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor
BAB I
KAPUK RANDU ATAU KAPUK
( CEIBA PENTANDRA )
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plant
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae (Bombacaceae)
Genus: Ceiba
Spesies: C. pentandra
Nama binomial Ceiba pentandra
A.Pengertian
Kapuk randu atau kapuk (Ceiba pentandra) adalah pohon tropis yang tergolong ordo Malvales dan famili Malvaceae (sebelumnya dikelompokkan ke dalam famili terpisah Bombacaceae), berasal dari bagian utara dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia, dan (untuk varitas C. pentandra var. guineensis) berasal dari sebelah barat Afrika. Kata "kapuk" atau "kapok" juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya. Pohon ini juga dikenal sebagai kapas Jawa atau kapok Jawa, atau pohon kapas-sutra. Juga disebut sebagai Ceiba, nama genusnya, yang merupakan simbol suci dalam mitologi bangsa Maya.
Biji Kapok yang berisi serat di dalamnya
Pohon ini tumbuh hingga setinggi 60-70 m dan dapat memiliki batang pohon yang cukup besar hingga mencapai diameter 3 m.
Pohon ini banyak ditanam di Asia, terutama di pulau Jawa, Indonesia, di Malaysia, Filipina dan Amerika Selatan. Di Bogor terdapat jalan yang di sepanjang tepinya dinaungi pohon kapuk. Pada saat buahnya merekah suasana di jalanan menyerupai hujan salju karena serat kapuk yang putih beterbangan di udara.
B. Deskripsi
Merupakan pohon dengan tinggi mencapai 70 m. Akar menyebar horizontal, di permukaan tanah. Batang dengan atau tanpa cabang, kadang-kadang berduri.
Daun majemuk, berseling; memanjang - lanset, gundul. Bunga bisexual; kelopak menggenta, di bagian luar gundul; mahkota bunga memanjang-bulat telur terbalik, bersatu pada pangkal, biasanya berwarna putih kotor dengan bau seperti susu, di bagian dalam gundul dan di bagian luar berambut lebat seperti sutra; benang sari bersatu pada pangkal dalam kolom staminal, kepala sari bergelung atau seperti ginjal. Buah ketika masak berubah menjadi coklat, dengan banyak biji. Biji bulat telur, coklat tua, putih, kuning muda atau berwarna seperti sutra.
C.Sifat Ekologis dan Penyebarannya
Asal dan penyebaran geografi Kapuk adalah Amerika Tropik. Dari sana meyebar ke Afrika, sepanjang pantai barat dari Senegal ke Angola. Tanaman ini dibawa dari Afrika ke Asia untuk dibudidayakan. Kapuk terlukis di relief Jawa sejak 1000 Setelah Masehi. Kini, tanaman ini dibudidayakan di seluruh daerah tropik, terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.
D. Perbanyakan
Kapuk diperbanyak dengan biji atau stek. Biji disebarkan dalam garis semai 25—30 cm. Jika tanah tidak subur, harus disiapkan 10 hari sebelum biji ditebarkan. Ketika tanaman muda mencapai tinggi 12—15 cm, mereka dapat diletakkan di bawah cahaya matahari penuh. Tanaman yang tidak menerima banyak sinar matahari tumbuh tinggi dan kurus. Tanaman muda ditanam di ladang ketika berumur 8—10 bulan. Metode lain adalah dengan menaburkan biji langsung ke ladang yang telah dibersihkan. 3 biji ditaburkan setioap lubang dan sekitar 2 - 3 bulan berikutnya, seedling dijarangkan menjadi satu per lubang. Kapuk mudah diperbanyak dengan stek, diameter 5—8 cm dan panjang 1.2—1.8 m, dari kayu yang berumur 2—3 tahun. Stek diambil dari cabang yang tegak. Pohon ditanam dari biji lebih baik daripada yang dari stek, tetapi berkembang lebih lambat dan tidak terjadi persilangan. Kemudian sekarang di Indonesia direkomendasikan bahwa kecambah diokulasikan pada pohon dari klon dengan hasil panen yang tinggi. Okulasi dilakukan pada permulaan musim hujan dan kecambah yang telah diokulasi ditanam di ladang ketika kuncup tumbuh menjadi tunas sepanjang 1 m. Dalam penanaman komersial di Jawa, kapok ditanam dengan jarak 8 - 12 m.;
Di Asia Tenggara, pohon kapuk ditanam di sekitar desa, di lahan petani atau di penanaman komersial. Tanaman ini juga ditanam di sepanjang jalan dan di sekeliling ladang. Di Jawa, kapuk sangat jarang ditanam sebagai tanaman yang diperjualbelikan. Tanaman ini digabungkan dengan bermacam-macam tanaman, seperti ketela pohon (Manihot esculenta Crantz), kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan turmeric (Curcuma longa L.). Di Kamboja digabungkan dengan tanaman satu tahunan seperti jagung, kapas dan kedelai selama 2—3 tahun pertama setelah penanaman pohon. Beberapa penanaman di Jawa Timur menyarankan untuk menanam jagung dan kedelai di bawah pohon pada waktu musim hujan..
E. Habitat
Kapok tumbuh bagus pada ketinggian di bawah 500 m. Temperatur malam hari di bawah 17°C. Untuk hasil bagus, tumbuh baik pada 20°N dan 20°S. Kapok menyukai curah hujan yang melimpah selama periode vegetatatif dan lebih kering pada periode berbunga dan berbuah. Curah hujan sebaiknya sekitar 1500 mm per tahun. Periode kering tidak lebih dari 4 bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, dan dalam periode ini, total curah hujan 150—300 mm. Di daerah yang lebih kering, persediaan air terdapat di dalam tanah. Di delta Mekong (Vietnam), dimana curah hujan tidak mencukupi, kapok tumbuh bagus di sepanjang sungai. Untuk hasil yang bagus, tanaman ini sebaiknya ditanam di tanah yang bagus, di Indonesia ditanam di tanah lempung vulkanik. Pohon ini mudah rusak oleh angin yang kuat. di Indonesia, daerah datar di sepanjang sisi jalan dan sungai dipilih untuk penanaman tanaman ini, selama lokasi tersebut cukup sinar matahari dan pengairan. Di Jawa dan Sulawesi kapok juga ditanam di lereng pegunungan..
F. Manfaat dan Kegunaan tumbuhan
Berikut merupakan manfaat dan kegunaan tumbuhan kapuk randu (Ceiba pentandra) :
1) Buah Ceiba pentandra merupakan sumber serat, digunakan untuk bahan dasar matras, bantal, hiasan dinding, pakaian pelindung dan penahan panas dan suara.
2) Tali pinggang untuk menolong orang yang tenggelam ("lifebelts") dan jaket penolong ("life-jackets") dibuat dari serat kapuk, tetapi hanya efektif ketika tidak ada minyak didalam air. Selama Perang Dunia Kedua banyak orang tenggelam karena jaket penolong mereka kehilangan daya mengapungnya; sekarang digunakan bahan sintetik.
3) Di Jawa, plasenta dihancurkan untuk memproduksi serat kapuk kualitas sekunder untuk membuat matras yang lebih murah dan sebagai penyerap air laut yang terkontaminasi minyak.
4) Bahan plasenta juga digunakan untuk mengkultur jamur. Kulit buah sebagai pengganti bahan kertas untuk pembuatan kertas di Jawa.; Kulit kaya akan potasium dan abu yang dapat digunakan sebagai pupuk. Mereka juga digunakan untuk membuat baking soda dan sabun.
5) Kulit kering digunakan sebagai bahan bakar. Biji mengandung minyak yang digunakan dalam industri sabun sebagai pelumas dan minyak lampu, oleh sebab itu dapat dipakai sebagai bahan baku energi.
6) Minyak juga digunakan untuk campuran minyak goreng, tetapi tidak disarankan untuk alasan kesehatan. Residu pembuatan kue digunakan sebagai makanan binatang. Di Indonesia dan Malaysia biji dimakan, tetapi hanya dalam jumlah sedikit karena akan mengganggu pencernaan.
7) Daun muda dimakan sebagai sayuran di Filipina, bunga dan buah muda dimakan di Thailand, dan polong yang masih sangat muda dimakan di Jawa.
8) Daun digunakan sebagai makanan ternak dan untuk memperbaiki tanah.
9) Kayunya digunakan untuk pembuatan kertas, pintu, furniture, kotak dan mainan.
10) Bunganya merupakan sumber madu yang bagus.
11) Di banyak lokasi, kapuk ditanam untuk reforestasi, konservasi air dan untuk mensupply kayu bakar juga untuk pembuatan pagar.
Dalam pengobatan tradisional di seluruh Asia Tenggaram :
a. Daun digunakan untuk mengobati demam, batuk, serak, dan penyakit lainnya.
b. Kulit kayu diyakini sebgai diuretic dan astringent juga digunakan dalam mengobati demam, asma, gonorrhoea dan diare. Akarnya diyakini sebagai diuretic dan febrifuge.
c. Di India rebusan akar digunakan untuk mengobati disentri kronik dan penyakit cacing.
BAB II
CENGKEH
SYZYGIUM AROMATICUM (L.) MERR. & L. M. PERRY
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus: Syzygium
Spesies: Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L. M. Perry
A.Pengertian
Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkeh ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar, India, dan Sri Lanka.
B.Karakteristik
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm
C.Penggunaan
Cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Republik Rakyat Cina dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi
D.Kandungan Aktif dalam buah cengkeh
Minyak esensial dari cengkeh mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkeh sering digunakan untuk menghilangkan bau nafas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkeh yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenangkan saraf gigi. Minyak cengkeh juga digunakan dalam campuran tradisional chōjiyu (1% minyak cengkeh dalam minyak mineral; "chōji" berarti cengkeh; "yu" berarti minyak) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang mereka
E.Manfaat
1. Kolera dan menambah Denyut Jantung
Bahan: Bunga cengkeh yang sudah kering
Cara menggunakan: dikunyah disesap airnya, dilakukan setiap hari.
Minyak cengkeh dapat memperkuat lendir usus dan lambung serta
menambah jumlah darah putih.
2. Campak
Bahan: 10 Biji bunga cengkeh dan gula batu
Cara membuat: bunga cengkeh direndam air masak semalam
kemudian ditambah dengan gula batu dan diaduk sampai merata.
Cara menggunaka : diminum sedikit demi sedikit
3. Menghitamkan alis mata
Bahan: 5-7 biji bunga cengkeh kering dan minyak kemiri.
Cara membuat: bunga cengkeh dibakar sampai hangus, kemudian
ditumbuk sampai halus dan ditambah dengan minyak kemiri
secukupnya.
Cara menggunakan: dioleskan pada alis mata setiap sore hari.
Lokasi : Kebun Bibit
Hari : Rabu
Tanggal : 13 Mei 2009
Pukul : 11.00 WIB
A. Tujuan Praktikum
• Untuk mengetahui spesies / jenis Tanaman Pohon
• Untuk mengetahui keadaan fisik dari Tanaman Pohon tersebut.
B. Dasar Teori
Pada abad yang keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya untuk sebelumnya menguyah cengkeh, agar harumlah napasnya. Cengkeh, pala dan merica sangatlah mahal di zaman Romawi. Cengkeh menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkeh dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian dengan sultanTernate. Orang Portugis membawa banyak cengkeh yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkeh sama dengan harga 7 gram emas.
Perdagangan cengkeh akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkeh di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkeh dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar.
Pada abad ke-17 dan ke-18 di Inggris harga cengkeh sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor
BAB I
KAPUK RANDU ATAU KAPUK
( CEIBA PENTANDRA )
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plant
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae (Bombacaceae)
Genus: Ceiba
Spesies: C. pentandra
Nama binomial Ceiba pentandra
A.Pengertian
Kapuk randu atau kapuk (Ceiba pentandra) adalah pohon tropis yang tergolong ordo Malvales dan famili Malvaceae (sebelumnya dikelompokkan ke dalam famili terpisah Bombacaceae), berasal dari bagian utara dari Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia, dan (untuk varitas C. pentandra var. guineensis) berasal dari sebelah barat Afrika. Kata "kapuk" atau "kapok" juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya. Pohon ini juga dikenal sebagai kapas Jawa atau kapok Jawa, atau pohon kapas-sutra. Juga disebut sebagai Ceiba, nama genusnya, yang merupakan simbol suci dalam mitologi bangsa Maya.
Biji Kapok yang berisi serat di dalamnya
Pohon ini tumbuh hingga setinggi 60-70 m dan dapat memiliki batang pohon yang cukup besar hingga mencapai diameter 3 m.
Pohon ini banyak ditanam di Asia, terutama di pulau Jawa, Indonesia, di Malaysia, Filipina dan Amerika Selatan. Di Bogor terdapat jalan yang di sepanjang tepinya dinaungi pohon kapuk. Pada saat buahnya merekah suasana di jalanan menyerupai hujan salju karena serat kapuk yang putih beterbangan di udara.
B. Deskripsi
Merupakan pohon dengan tinggi mencapai 70 m. Akar menyebar horizontal, di permukaan tanah. Batang dengan atau tanpa cabang, kadang-kadang berduri.
Daun majemuk, berseling; memanjang - lanset, gundul. Bunga bisexual; kelopak menggenta, di bagian luar gundul; mahkota bunga memanjang-bulat telur terbalik, bersatu pada pangkal, biasanya berwarna putih kotor dengan bau seperti susu, di bagian dalam gundul dan di bagian luar berambut lebat seperti sutra; benang sari bersatu pada pangkal dalam kolom staminal, kepala sari bergelung atau seperti ginjal. Buah ketika masak berubah menjadi coklat, dengan banyak biji. Biji bulat telur, coklat tua, putih, kuning muda atau berwarna seperti sutra.
C.Sifat Ekologis dan Penyebarannya
Asal dan penyebaran geografi Kapuk adalah Amerika Tropik. Dari sana meyebar ke Afrika, sepanjang pantai barat dari Senegal ke Angola. Tanaman ini dibawa dari Afrika ke Asia untuk dibudidayakan. Kapuk terlukis di relief Jawa sejak 1000 Setelah Masehi. Kini, tanaman ini dibudidayakan di seluruh daerah tropik, terutama di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.
D. Perbanyakan
Kapuk diperbanyak dengan biji atau stek. Biji disebarkan dalam garis semai 25—30 cm. Jika tanah tidak subur, harus disiapkan 10 hari sebelum biji ditebarkan. Ketika tanaman muda mencapai tinggi 12—15 cm, mereka dapat diletakkan di bawah cahaya matahari penuh. Tanaman yang tidak menerima banyak sinar matahari tumbuh tinggi dan kurus. Tanaman muda ditanam di ladang ketika berumur 8—10 bulan. Metode lain adalah dengan menaburkan biji langsung ke ladang yang telah dibersihkan. 3 biji ditaburkan setioap lubang dan sekitar 2 - 3 bulan berikutnya, seedling dijarangkan menjadi satu per lubang. Kapuk mudah diperbanyak dengan stek, diameter 5—8 cm dan panjang 1.2—1.8 m, dari kayu yang berumur 2—3 tahun. Stek diambil dari cabang yang tegak. Pohon ditanam dari biji lebih baik daripada yang dari stek, tetapi berkembang lebih lambat dan tidak terjadi persilangan. Kemudian sekarang di Indonesia direkomendasikan bahwa kecambah diokulasikan pada pohon dari klon dengan hasil panen yang tinggi. Okulasi dilakukan pada permulaan musim hujan dan kecambah yang telah diokulasi ditanam di ladang ketika kuncup tumbuh menjadi tunas sepanjang 1 m. Dalam penanaman komersial di Jawa, kapok ditanam dengan jarak 8 - 12 m.;
Di Asia Tenggara, pohon kapuk ditanam di sekitar desa, di lahan petani atau di penanaman komersial. Tanaman ini juga ditanam di sepanjang jalan dan di sekeliling ladang. Di Jawa, kapuk sangat jarang ditanam sebagai tanaman yang diperjualbelikan. Tanaman ini digabungkan dengan bermacam-macam tanaman, seperti ketela pohon (Manihot esculenta Crantz), kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan turmeric (Curcuma longa L.). Di Kamboja digabungkan dengan tanaman satu tahunan seperti jagung, kapas dan kedelai selama 2—3 tahun pertama setelah penanaman pohon. Beberapa penanaman di Jawa Timur menyarankan untuk menanam jagung dan kedelai di bawah pohon pada waktu musim hujan..
E. Habitat
Kapok tumbuh bagus pada ketinggian di bawah 500 m. Temperatur malam hari di bawah 17°C. Untuk hasil bagus, tumbuh baik pada 20°N dan 20°S. Kapok menyukai curah hujan yang melimpah selama periode vegetatatif dan lebih kering pada periode berbunga dan berbuah. Curah hujan sebaiknya sekitar 1500 mm per tahun. Periode kering tidak lebih dari 4 bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, dan dalam periode ini, total curah hujan 150—300 mm. Di daerah yang lebih kering, persediaan air terdapat di dalam tanah. Di delta Mekong (Vietnam), dimana curah hujan tidak mencukupi, kapok tumbuh bagus di sepanjang sungai. Untuk hasil yang bagus, tanaman ini sebaiknya ditanam di tanah yang bagus, di Indonesia ditanam di tanah lempung vulkanik. Pohon ini mudah rusak oleh angin yang kuat. di Indonesia, daerah datar di sepanjang sisi jalan dan sungai dipilih untuk penanaman tanaman ini, selama lokasi tersebut cukup sinar matahari dan pengairan. Di Jawa dan Sulawesi kapok juga ditanam di lereng pegunungan..
F. Manfaat dan Kegunaan tumbuhan
Berikut merupakan manfaat dan kegunaan tumbuhan kapuk randu (Ceiba pentandra) :
1) Buah Ceiba pentandra merupakan sumber serat, digunakan untuk bahan dasar matras, bantal, hiasan dinding, pakaian pelindung dan penahan panas dan suara.
2) Tali pinggang untuk menolong orang yang tenggelam ("lifebelts") dan jaket penolong ("life-jackets") dibuat dari serat kapuk, tetapi hanya efektif ketika tidak ada minyak didalam air. Selama Perang Dunia Kedua banyak orang tenggelam karena jaket penolong mereka kehilangan daya mengapungnya; sekarang digunakan bahan sintetik.
3) Di Jawa, plasenta dihancurkan untuk memproduksi serat kapuk kualitas sekunder untuk membuat matras yang lebih murah dan sebagai penyerap air laut yang terkontaminasi minyak.
4) Bahan plasenta juga digunakan untuk mengkultur jamur. Kulit buah sebagai pengganti bahan kertas untuk pembuatan kertas di Jawa.; Kulit kaya akan potasium dan abu yang dapat digunakan sebagai pupuk. Mereka juga digunakan untuk membuat baking soda dan sabun.
5) Kulit kering digunakan sebagai bahan bakar. Biji mengandung minyak yang digunakan dalam industri sabun sebagai pelumas dan minyak lampu, oleh sebab itu dapat dipakai sebagai bahan baku energi.
6) Minyak juga digunakan untuk campuran minyak goreng, tetapi tidak disarankan untuk alasan kesehatan. Residu pembuatan kue digunakan sebagai makanan binatang. Di Indonesia dan Malaysia biji dimakan, tetapi hanya dalam jumlah sedikit karena akan mengganggu pencernaan.
7) Daun muda dimakan sebagai sayuran di Filipina, bunga dan buah muda dimakan di Thailand, dan polong yang masih sangat muda dimakan di Jawa.
8) Daun digunakan sebagai makanan ternak dan untuk memperbaiki tanah.
9) Kayunya digunakan untuk pembuatan kertas, pintu, furniture, kotak dan mainan.
10) Bunganya merupakan sumber madu yang bagus.
11) Di banyak lokasi, kapuk ditanam untuk reforestasi, konservasi air dan untuk mensupply kayu bakar juga untuk pembuatan pagar.
Dalam pengobatan tradisional di seluruh Asia Tenggaram :
a. Daun digunakan untuk mengobati demam, batuk, serak, dan penyakit lainnya.
b. Kulit kayu diyakini sebgai diuretic dan astringent juga digunakan dalam mengobati demam, asma, gonorrhoea dan diare. Akarnya diyakini sebagai diuretic dan febrifuge.
c. Di India rebusan akar digunakan untuk mengobati disentri kronik dan penyakit cacing.
BAB II
CENGKEH
SYZYGIUM AROMATICUM (L.) MERR. & L. M. PERRY
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus: Syzygium
Spesies: Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L. M. Perry
A.Pengertian
Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkeh ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar, India, dan Sri Lanka.
B.Karakteristik
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm
C.Penggunaan
Cengkeh dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Terutama di Indonesia, cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Republik Rakyat Cina dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi
D.Kandungan Aktif dalam buah cengkeh
Minyak esensial dari cengkeh mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkeh sering digunakan untuk menghilangkan bau nafas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkeh yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenangkan saraf gigi. Minyak cengkeh juga digunakan dalam campuran tradisional chōjiyu (1% minyak cengkeh dalam minyak mineral; "chōji" berarti cengkeh; "yu" berarti minyak) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang mereka
E.Manfaat
1. Kolera dan menambah Denyut Jantung
Bahan: Bunga cengkeh yang sudah kering
Cara menggunakan: dikunyah disesap airnya, dilakukan setiap hari.
Minyak cengkeh dapat memperkuat lendir usus dan lambung serta
menambah jumlah darah putih.
2. Campak
Bahan: 10 Biji bunga cengkeh dan gula batu
Cara membuat: bunga cengkeh direndam air masak semalam
kemudian ditambah dengan gula batu dan diaduk sampai merata.
Cara menggunaka : diminum sedikit demi sedikit
3. Menghitamkan alis mata
Bahan: 5-7 biji bunga cengkeh kering dan minyak kemiri.
Cara membuat: bunga cengkeh dibakar sampai hangus, kemudian
ditumbuk sampai halus dan ditambah dengan minyak kemiri
secukupnya.
Cara menggunakan: dioleskan pada alis mata setiap sore hari.
EKOLOGI AIR TAWAR
b. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.
Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.
1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.
2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
a. Plankton;
terdiri alas fitoplankton dan zooplankton;
biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b. Nekton;
hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
c. Neuston;
organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
d. Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung
pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
e. Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada
endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas,
misalnya cacing dan remis. Lihat Gambar.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.
1. Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.
Gbr. Berbagai Organisme Air Tawar
Berdasarkan Cara Hidupnya
Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.
a) Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
b. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih
dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai
fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang
berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama
musim panas dan musim semi.
Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-
udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-
ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian
ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau.
Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi
seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah
limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.
d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos
dan sisa-sisa organisme mati.
Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar
Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :
a. Danau Oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan
kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak
produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,
dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan
kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya
adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan
oksigen terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2. Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.
Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
Ekosistem akuatik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ekosistem air tawar
2. Ekosistem air laut
Ekosistem air tawar dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ekosistem air tenang (lentik) misalnya: danau, rawa.
2. Ekosistem air mengalir (lotik) misalnya: sungai, air terjun.
Ciri-ciri ekosistem air tawar:
a. Kadar garam/salinitasnya sangat rendah, bahkan lebih rendah dari
kadar garam protoplasma organisme akuatik.
b. Variasi suhu sangat rendah.
c. Penetrasi cahaya matahari kurang.
d. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Flora ekosistem air tawar:
Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau).
Fauna ekosistem air tawar:
Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mammalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang
ke air bila mencari makanan saja.
Hewan yang selalu hidup di air mempunyai cara beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam rendah.
Pada ikan dimana kadar garam protoplasmanya lebih tinggi daripada air, mempunyai cara beradaptasi sebagai berikut:
- Sedikit minum, sebab air masuk ke dalam tubah secara terus-menerus melalui proses osmosis.
- Garam dari dalam air diabsorbsi melalui insang secara aktif
- Air diekskresikan melalui ginjal secara berlebihan, juga diekskresikan
melalui insang dan saluran pencernaan.
Pengelompokkan Organisme Pada Ekosistem Air Tawar
1.Berdasarkan cara memperoleh makanan atau energi, dibagi menjadi 2 kelompok:
a.Organisme autotrof: organisme yang dapat mensintesis makanannya sendiri. Tumbuhan hijau tergolong organisme autotrof, peranannya sebagai produsen dalam ekosistem air tawar.
b. Fagotrof dan Saprotrof: merupakan konsumen dalam ekosistem air tawar. Fogotrof adalah pemakan organisme lain, sedang Saprotrof adalah pemakan sampah atau sisa organisme lain.
2.Berdasarkan kebiasaan kehidupan dalam air, organisme air tawar dibedakan atas 5 macam:
a.Plankton: terdiri atas fitoplankton (plankton tumbahan) dan zooplankton (plankton hewan), merupakan organisme yang gerakannya pasif selalu dipengaruhi oleh arus air.
b.Nekton: organisme yang bergerak aktif berenang. Contoh: ikan, serangga air.
c.Neston: organisme yang beristirahat dan mengapung di permukaan air.
d.Bentos: organisme yang hidup di dasar perairan.
e.Perifiton: organisme yang melekat pada suatu substrat (batang, akar, batu-batuan) di perairan.
3.Berdasarkan fungsinya, organisme air tawar dibedakan menjadi 3 macam:
a.Produsen: terdiri dari Bolongan ganggang, ganggang hijau dan ganggang biru, golongan spermatophyta, misal: eceng gondok, teratai, kangkung, genger, kiambang.
b.Konsumen: meliputi hewan-hewan, serangga, udang, siput, cacing, dan hewan-hewan lainnya.
c.Dekomposer/pengurai: sebagian besar terdiri atas bakteri dan mikroba lain.
Berdasarkan intensitas cahaya, ekosistem air tawar dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu:
a.Daerah litoral: daerah air dangkal, sinar matahari dapat menembus sampai dasar perairan organisme daerah litoral adalah tumbuhan yang berakar, udang, cacing dan fitoplankton.
b. Daerah limnetik: daerah terbuka yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Organisme daerah ini adalah plankton, neston dan nekton.
c.Daerah profundal: daerah dasar perairan tawar yang dalam sehingga sinar matahari tidak dapat menembusnya. Produsen sudah tidak ditemukan lagi.
Tabel 2.1 Derajat Pencemaran Berdasarkan Indeks Diversitas, Kadar DO dan BOD
DERAJAT PENCEMARAN INDEKS DIVERSITAS KOMUNITAS DO (mg/L) BOD (mg/L)
Belum tercemar > 2,0 > 6,5 <>
Tercemar ringan 1,6-2.0 4,5-6,5 3,0-4,9
Tercemar sedang 1,0-1,5 2,0-4,4 5,0-15,0
Tercemar berat <> <> > 15
Sumber : Lee, et al (1978)
Sungai merupakan conto utama dari habitat air tawar yang mengalir. Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu. Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
Selama musim panas, suhu air pada lapisan atas menjadi lebih tinggi dari pada air lapisan bawa sehingga hanya air pada lapisan atas yang mengalami sirkulasi dan tidak dapatbercampur dengan lapisan di bawahnya yang lebih dingin dan lebih padat sehingga terdapat lapisan dengan gradient temperatur yang tajam yang di sebut dengan Thermocline.
Air hangat yang mengalami sirkulasi pada bagian atas disebut Epilimnion yang terjadi pada permukaan atas danau. Air dingin pada bagian bawah yang tidak mengalami sirkulasi di sebut dengan Hypolimnion. Pada musim dingin, suhu air pada Epilimnion dengan hypolimnion relatif sama. Ini menyebabkan gerakan air yang mengakibatkan bagian danau yang dalam mendapat pasokan oksigen.
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.
Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.
1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.
2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
a. Plankton;
terdiri alas fitoplankton dan zooplankton;
biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b. Nekton;
hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
c. Neuston;
organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau
bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
d. Perifiton; merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung
pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
e. Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada
endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas,
misalnya cacing dan remis. Lihat Gambar.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.
1. Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.
Gbr. Berbagai Organisme Air Tawar
Berdasarkan Cara Hidupnya
Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.
a) Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
b. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih
dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai
fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang
berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama
musim panas dan musim semi.
Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-
udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-
ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian
ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau.
Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi
seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah
limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.
d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos
dan sisa-sisa organisme mati.
Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar
Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :
a. Danau Oligotropik
Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan
kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak
produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,
dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan
kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya
adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan
oksigen terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2. Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.
Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
Ekosistem akuatik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ekosistem air tawar
2. Ekosistem air laut
Ekosistem air tawar dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Ekosistem air tenang (lentik) misalnya: danau, rawa.
2. Ekosistem air mengalir (lotik) misalnya: sungai, air terjun.
Ciri-ciri ekosistem air tawar:
a. Kadar garam/salinitasnya sangat rendah, bahkan lebih rendah dari
kadar garam protoplasma organisme akuatik.
b. Variasi suhu sangat rendah.
c. Penetrasi cahaya matahari kurang.
d. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Flora ekosistem air tawar:
Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau).
Fauna ekosistem air tawar:
Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mammalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang
ke air bila mencari makanan saja.
Hewan yang selalu hidup di air mempunyai cara beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam rendah.
Pada ikan dimana kadar garam protoplasmanya lebih tinggi daripada air, mempunyai cara beradaptasi sebagai berikut:
- Sedikit minum, sebab air masuk ke dalam tubah secara terus-menerus melalui proses osmosis.
- Garam dari dalam air diabsorbsi melalui insang secara aktif
- Air diekskresikan melalui ginjal secara berlebihan, juga diekskresikan
melalui insang dan saluran pencernaan.
Pengelompokkan Organisme Pada Ekosistem Air Tawar
1.Berdasarkan cara memperoleh makanan atau energi, dibagi menjadi 2 kelompok:
a.Organisme autotrof: organisme yang dapat mensintesis makanannya sendiri. Tumbuhan hijau tergolong organisme autotrof, peranannya sebagai produsen dalam ekosistem air tawar.
b. Fagotrof dan Saprotrof: merupakan konsumen dalam ekosistem air tawar. Fogotrof adalah pemakan organisme lain, sedang Saprotrof adalah pemakan sampah atau sisa organisme lain.
2.Berdasarkan kebiasaan kehidupan dalam air, organisme air tawar dibedakan atas 5 macam:
a.Plankton: terdiri atas fitoplankton (plankton tumbahan) dan zooplankton (plankton hewan), merupakan organisme yang gerakannya pasif selalu dipengaruhi oleh arus air.
b.Nekton: organisme yang bergerak aktif berenang. Contoh: ikan, serangga air.
c.Neston: organisme yang beristirahat dan mengapung di permukaan air.
d.Bentos: organisme yang hidup di dasar perairan.
e.Perifiton: organisme yang melekat pada suatu substrat (batang, akar, batu-batuan) di perairan.
3.Berdasarkan fungsinya, organisme air tawar dibedakan menjadi 3 macam:
a.Produsen: terdiri dari Bolongan ganggang, ganggang hijau dan ganggang biru, golongan spermatophyta, misal: eceng gondok, teratai, kangkung, genger, kiambang.
b.Konsumen: meliputi hewan-hewan, serangga, udang, siput, cacing, dan hewan-hewan lainnya.
c.Dekomposer/pengurai: sebagian besar terdiri atas bakteri dan mikroba lain.
Berdasarkan intensitas cahaya, ekosistem air tawar dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu:
a.Daerah litoral: daerah air dangkal, sinar matahari dapat menembus sampai dasar perairan organisme daerah litoral adalah tumbuhan yang berakar, udang, cacing dan fitoplankton.
b. Daerah limnetik: daerah terbuka yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Organisme daerah ini adalah plankton, neston dan nekton.
c.Daerah profundal: daerah dasar perairan tawar yang dalam sehingga sinar matahari tidak dapat menembusnya. Produsen sudah tidak ditemukan lagi.
Tabel 2.1 Derajat Pencemaran Berdasarkan Indeks Diversitas, Kadar DO dan BOD
DERAJAT PENCEMARAN INDEKS DIVERSITAS KOMUNITAS DO (mg/L) BOD (mg/L)
Belum tercemar > 2,0 > 6,5 <>
Tercemar ringan 1,6-2.0 4,5-6,5 3,0-4,9
Tercemar sedang 1,0-1,5 2,0-4,4 5,0-15,0
Tercemar berat <> <> > 15
Sumber : Lee, et al (1978)
Sungai merupakan conto utama dari habitat air tawar yang mengalir. Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu. Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
Selama musim panas, suhu air pada lapisan atas menjadi lebih tinggi dari pada air lapisan bawa sehingga hanya air pada lapisan atas yang mengalami sirkulasi dan tidak dapatbercampur dengan lapisan di bawahnya yang lebih dingin dan lebih padat sehingga terdapat lapisan dengan gradient temperatur yang tajam yang di sebut dengan Thermocline.
Air hangat yang mengalami sirkulasi pada bagian atas disebut Epilimnion yang terjadi pada permukaan atas danau. Air dingin pada bagian bawah yang tidak mengalami sirkulasi di sebut dengan Hypolimnion. Pada musim dingin, suhu air pada Epilimnion dengan hypolimnion relatif sama. Ini menyebabkan gerakan air yang mengakibatkan bagian danau yang dalam mendapat pasokan oksigen.
EKOLOGI DARAT
BAB I
PENDAHULUAN
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam. Yaitu :
a. Herbivora
Terdapat tiga jenis, yaitu : Ground-dwelling, Arboreal seperti Macaca fascicularis, dan Aerial seperti Burung dan hewan-hewan terbang lainnya.. Pada Ground-dwelling terbagi lagi menjadi empat, yaitu : Cursorial (berlari) seperti rhea dan emu, Saltatory (melompat) seperti kangguru, Graviportal (berat badan) seperti penyu dan gajah, dan Forsial seperti kodok dan katak.
b. Karnovora
Pada karnivora terbagi menjadi empat juga. Ketiganya sama dengan Herbivora, tetapi karnivora tidak Arboreal dan diganti Amphibious. Contoh pada Ground –dwelling adalah seperti cecak, kucing, beruang ular dan lain sebagainya. Contoh pada Aerial adalah beberapa burung, kelelawar, elang dan lain sebagainya. Contoh pada Fossorial seperi beberapa jenis ular, da contoh pada Amphibious seperti Alligator sp dan kataK
BAB II
PEMBAHASAN
1. LINGKUNGAN DARAT
Kita sekarang datang di darat, yang umumnya umumnya diakui paling beraneka ragam, dalam segi waktu dan geografi, dari ketiga lingkungan utama. Meskipun kita tidak mengharapkan memaksakan tujuan atau maksud, beda antara ekosistem peraiaran-terbuka, seperti lisalnya lautan dengan biomas tumbuhan kecilnya, dan ekosistem darat dengan biomas tumbuahan besarnya. Kerana struktur biologi yang sangat jelas dan pasti, pengkajian – pengkajian ekologi pada lingkungan darat cenderung untuk menegaskan asas – asas organisasi populaisi komunitas dan proses – proses perkembangan otogenik.
Kita dapat memikirkan iklim ( temperatur, kelembapan, sinar dan sebagainya ) dan substansi ( fisiografi, tanah, dll ) sebagai dua kelompok faktor yang menentukan sifat dari ekosistem – ekosistem dan komunitas – komunitas darat.
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam. Yaitu :
a. Herbivora
Terdapat tiga jenis, yaitu : Ground-dwelling, Arboreal seperti Macaca fascicularis, dan Aerial seperti Burung dan hewan-hewan terbang lainnya.. Pada Ground-dwelling terbagi lagi menjadi empat, yaitu : Cursorial (berlari) seperti rhea dan emu, Saltatory (melompat) seperti kangguru, Graviportal (berat badan) seperti penyu dan gajah, dan Forsial seperti kodok dan katak.
b. Karnovora
Pada karnivora terbagi menjadi empat juga. Ketiganya sama dengan Herbivora, tetapi karnivora tidak Arboreal dan diganti Amphibious. Contoh pada Ground –dwelling adalah seperti cecak, kucing, beruang ular dan lain sebagainya. Contoh pada Aerial adalah beberapa burung, kelelawar, elang dan lain sebagainya. Contoh pada Fossorial seperi beberapa jenis ular, da contoh pada Amphibious seperti Alligator sp dan katak
2. BIOTA DARAT
Evolusi di darattelah menonjolkan dari kategori – kategori taksonomi yang lebih tinggi dari dua kerajaan tumbuhan dan binatang. Jadi, dari semua organisme yang paling kompleks dan dikhususkan, misalnya tumbuhan biji, serangga2, dan vertebrata2 berdarah panas, adalah dominan di darat sekarang.
3. STRUKTUR UMUM DARI KOMUNITAS DARAT
Klasifikasi dari niche – niche pakan utama, yakni seri-seri autotrof-heterotrof, sangat dapat cocok untuk darat.
AUTOTROF. Ciri2 yang menonjol dari komunitas2 darat, tentu adanya dan biasanya dominasi dari tumbuh-tumbuhan hijau berakar besar dan tidak hanya merupakn pembuat2 pakan melainkan menyediakan juga penaungan untuk organisme2 lain serta memainkan peranan penting dalam mempertahankan dan mengubah permukan bumi. Meskipun ada ganggang tanah yang penting, tak ada lagi darat untuk membandingkan fitoplankton dari lingkungan perairan. Tidak sperti sebanyak yang akhir, yang memerlukan vitamin2 atau hara2 organik lain, produsen2 dasar dari darat adalah autotrof keras, atau obligat yang hanya memerlukan sinar dan hara2 mineral. Sekalipun demikian, tumbuh-tumbuhan darat, dapat tergantung dalam cara2 lain pada mikroorganisme untuk makanan mereka, seperti yang kita lihat dalam contoh dari mikorisa simbiotik, vegetasi yang merupakan istilah yang digunakan untuk semua tumbh-tumbuhan dari suatu daerah, adlah ciri2 sedemikian khas hingga kita umumnya mengklasifikasi dan menamai komunitas2 darat pada dasar dari padanya ketimbang pada dasar lingkungan fisiknya seperti yang sering memudahkan dalam keadaan perairan.
Banyak sekali bentk hidup yang ditunjukkan yang menyesuaikan tumbuh-tumbuhan darat terhadap hampir setiap keadaan yang mungkin. Istilah2 itu tentunya digunakan sexara luas dan dan menjadi dasar yang luas untuk pengenalan komunitas2 darat yang utama.
Keenam katagori primer adalah sebagai berikut :
1. Epiphyta, tumbuhan udara, tidak ada akar2 dalam tanah.
2. Phanerophyta, tumbuhan udara : kuncup2 pembaharu terbuka pada tunas tegak. Lima subgroup meliputi pohon2, semak, batang sukulen, batang2 terna dan liana2 (tumbuhan memanjat).
3. Chamaephyta, tumbuhan permukaan, kuncup pembaharu pada permukaan tanah.
4. Hemi-cryttuphyta, tumbuhan tussok : kuncup berada dalam atau sedikit di bawah permukaan tanah.
5. Cryptophyta atau geophyta, tumbuhan buni, kuncup di bawah permukaan pada umbi atau rimpang.
6. Therophyta, tumbuhan setahun daur hidup lengkap dari biji satu periode vegetatif, dapat hidup dalam musim2 tidak baik sebagai biji2.
KONSUMEN – KONSUMEN (MAKRO) FOGOTROFIK. Dikaitkan dengan banyaknya relung (niche) yang deselenggarakan oleh vegetasi, komunitas2 darat mempunyai barisan yang sangat beranekaragam dari konsumen2 primer tidak meliputi binatang2 kecil seperti misalnya serangga tetapi herbivora2 yang sangat besar, seperti misalnya mamalia berkuku, yang akhir adalah sifat yang unik dari darat dengan hanya sedikit paralel dalam komunitas2 perairan (kura2 pemakan tumbuhan, misalnya). Jadi, “perumput2”darat sangat jauh berbeda dalam ukuran struktur dari “perumput2” air, yakni, zooplankton. Karena autotrof2 darat membuat banyak pakar dari kegunaan rendah secara gizinya (selulosa, liginin, dsb), detritivora2 adalah ciri2 komunitas2 darat yang sangat penting. Keanekaragaman dan banyaknya serangga serta artoproda lain (yang mengisi setiap niche yang mungkin), tentunya, adalah ciri penting lain dari komunitas2 darat.
SAPOTROF – SAPOTROF ATAU MIKROKONSUMEN – MIKROKONSUMEN. Oarganisme2 yang melaksanakan “mineralisasi bahan2 organik”dan fungsi2 penting lainnya, dalam lingkunag darat terutama sekali adalah bakteri dan jamur tetapi juga termasuk protozoa dan binatang2 kecil lainnya. Peranan2 kunci dari spesialis2 mikroba, seperti misalnya bakteri pemikat nitrogen, jamur mikroriza, dan bakteri anaerobik. Apa yang sering disebut mikrooragisme2 pembusukan dapat dianggap suatu kelompok fungsional atau ekologi yang jelas berbeda, yang meliputi 4 satuan taksonomi berikut :
1). Jamur, termasuk khamir dan kapang2.
2). Bakteria heterotrofik, termasuk pembentuk dan pembentuk mirspora.
3). Aptinomisete2, yang berbentuk “benang2”, bakteri yang memliki ciri2 morfologi dari jamur, dan
4). Prozoa tanah termasuk amoeba, caliata, dan terutama flagellata tidak berwarna. Pembusuk2 ini dapat dijumpai diseluruh komunitas darat, tapi mereka terutama terkonsentrasi dalam lapisan2 tanah yang teratas (termasuk serasah).
Di sini, pembususkan residu2 tumbuhan, yang menyebabkan demikian besar bagian dari respirasi komunitas dalam demikian banyak ekosistem2 darat melibatkan suatu urutan mikroorganisme yang dapat ditunjukkan sebagai berikut :
Jamur kapang dan bakteri pembusuk nirspora bakteri pembusuk spora miso bakteri selulosa aktinomiset.
Hasil akhir dari tahap kedua dari pembusukan yang disebut bumifikasi berwarna coklat kuning tua, sangat tahan (tahap pertama kita tunjukkan sebagai pembentukan butir detrtus). Suatu model yang mungkin utuk struktur molekul asam bumik diperliahatkan untuk menggambarkan cici2 kunci seperti misalnya cincin benzum aromati ata venolik (1), dan nirogen siklik (2), rantai2 samping nitrogen (3), dan residu2 karbohidrat (4), yang membuat senyawa2 humik secara relatif sukar dibusukkan.
Tahap ketiga dalam pembusukan, misalnya meneralisasi dari humus, terjadi sangat lambat dalam daerah2 dingin dan sangat cepat dalam daerah2 panas, atau jika tanah terbuka terhadap udara, sperti dalam pambajakan.
Temperatur dan air sangat penting dalam mengatur kegiatan pembusuk2 karena faktor2 ini lebih beranekaragam di darat dari pada dalam habitat2 perairan, meka mudah untuk melihat mengapa pembusukan dalam tanah seringkali berjalan dalam suatu cara sporadik. Kebanyakan bakteri dan jamur memerlukan suatu lingkunagn mikro dengan kandungan air yang lebih tinggi, misalnya. Akibatnya, di daerah2 dengan periode2 kering yang panjang, produksi setahun-tahunnya, sekalipun dalam vegetasi klimaks. Kedua strata dasar yang membentuk secara ekosistem2 lengkap misalnya autotrofik dan heterotrofik, dalam lingkungan ditandai dengan baik.
4. SUBSISTEM TANAH
Tiga Kelompok ukuran yang dikenal :
1. Mikrobiota, yang meliputi algae tanah, bakteri, jamur, dan protozoa. Komponen ini telah ditinjau dalam seksi terdahulu, dan sumbangannya kepada total metabolisme tanah akan diperhatikan kemudian.
2. Mesobiota, yang meliputi nematoda, cacimg2 oligochaeta kecil enchytracid, larva serangga yang lebih kecil, dan terutama apa yang secara bebas mikroartrophoda.
3. Makrobiota, yang meliputi akar2 tumbuhan, serangga2 yang lebih besar, cacing2 tanh atau (lumbrichidae), organisme2 yang s\dapat dengan mudah dipilih dengan tangan. Vertebrata2 yang menggali lubang seperti misalnya tikus2, tupai2, dan tikus2 tanh dapat juga dimasukkan dalam kelompok ini.
RESPIRASI TANAH. Tiga metode telah digunakan untuk menentukan metabolisme tanah total :
1. Metode selisih, yakni, dengan mengurangi energi yang dipakai oleh herbivora2 atas-tanah dari produksi primer bersih.
2. Metode rontokan seresah. Dalam sistem2 yang mantap, penentuan banyaknya dan nilai energi dari masukan detritus (seresah) kedalam subsistem tanah merupakan ukuran dan pembusukan.
3. pengukuran langsung pengembangan CO2 dari tanah yang utuh di alam akan, tentunya memberikan cara2 pengukuran respirasi tanah seluruhnya, termasuk respirasi dari semua tiga kelompok biota.
5. SUBSISTEM VEGETASI
Karena tegakan yang ada dari produsen2, yakni, vegetasi, adalah ciri lingkungan2 darat yang demikian nyata dan mantap, komposisi vegetasi saja telah mendapatkan perhatian yang besar. Pengkajian kuantitatif dari setruktur vegetasi disebut phytosociology, tujuan pokoknya adalah memberikan vegetasi, menerangkan atau menduka polanya, dan mengklasifikasinya dalam cara yang berarti. Telah ada sejumlah pendekatan yang berbeda terhadap tahapan dari ekologi deskriptif ini. Salah pendekatannya didasarkan pada asas suksesi dan bersumber dari wargwarming, coules, clemants,dll.
NISBAH AKAR/TAJUK. Suatu aspek unik yang penting dari struktur ekosistem2 darat, satu yang mendasari fungsi2 produktivitas dan pendauran mineral adalah penyebaran jaringan tumbuhan yang berkesinambungan dari atas stratum autotrofik hingga dasar dari stratum heterotrofik.
TRANSPIRASI. Transpirasi atau penguapan air dari permukaan daun, adalah suatu yang unik dari ekosistem darat, dalam mana hal itu mempunyai pengaruh2 penting pada pendauran hara dan produktivitas. Bagian besar dari energi matahari dihamburkan dalam penguapan air dari padang rumput dan komunitas2 hutan mingkin dalam bentuk transpirasi.
6. PERMEANT-PERMEANT LINGKUNGAN DARAT
Sama dengan nekton dari ekosistem2 perairan adalah permeant2, istilah V.E Shefold untuk binatang2 yang sangat mobil seperti misalnya burung2, mamlia, dan serangga2 terbang.
7. PENYEBARAN DARI KOMUNITAS – KOMUNITAS DARAT UTAMA, BIOMA
Iklim2 regional berinteraksi dengan biota dan substrata2 regional untuk menghasilkan satuan2 komunitas yang dengan mudah dapat dikenal, disebut bioma-bioma. Bioma adalah satuan komunitas darat yang paling besar yang baik sekali untuk dikenal. Vegetasi klimaks dari bioma padang rumput, meskipun jenis dari rumput2 dominan dapat bermacam-macam dalam bagian2 yang berbeda dari bioma itu.karena bentuk hidup dari vegetasi, pada satu sisi, mencerminkan ciri-ciri utam dari iklim dan pada sisi lain menentukan alam struktural dari habitat untuk binatang2, dia memberi dasar yang kuat untuk suatu klasifikasi ekologi alam. Sebaliknya, data iklim dapat digunakan untuk membatasi formasi2 vegetasi utam.
Bioma meliputi tidak hanya vegetasi klimaks iklim, yang merupakan kunci untuk pengenalan, melainkan klimaks edafik dan tingkatan2 perkembangan yang dalam banyak kasus didominasi oleh bentuk hidup lain. Jadi, komunitas padang rumput adalah tingkat2 perkembangan sementara dalam perkembangan hutan ughari dimana pohon2 menggugur daun2 lebar merupakan bentuk hidup klimaks.
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
Tundra
Pada Bioma ini, Memiliki musim dingin yang sangat panjang (ekstrem). Bioma meliputi daerah-daerah yang terletak dekat dengan kutub utara dan di dalamnya tidak ditemukan pohon, didominasi oleh lumut-lumutan, rumput-rumputan, dan perdu.
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
Bioma – bioma Hutan Konifer Utara
Hutan2 konifer termasuk daerah2 penghasil kayu terbesar di dunia. Jarum2 konifer sangat lambat membusuk, dan tanah mengembangkan profil pedsol yang sangat khas. Tanah dapat mengandung populasi organisme2 kecil cukup baik tetapi sedikit organisme2 yang lebih besar. Banyak dari vertebrata herbivora yang lebih besar, seperti misalnya moosa, kelinci salju putih, dan burung belibis, tergantung sebagian paling sedikit, pada komunitas2 perkembangan jenis daun lebar untuk pohonnya. Biji2 konifer memberikan makanan yang penting bagi banyak binatnag misalnya tupai, siskin, dan crossbill.
Biome Hutan Konifer Daerah Beriklim Sedang Basah (Mesothermal)
Hutan2 dari tipe khusus terdapat sepanjang pantai barat amerika dari kalifornia tengah hingga alaska, dimana temperatur adalah lebih tinggi, kisaran musimnya relatif kecil dan kelembabannya sangat tinggi. Meskipun didominasi olehbentuk hidup konifer, hutan2 ini secara floristik dan ekologa sangat berbeda dari hutan konifer utara. Curah hujan berkisar dari 30 hingga 150 inchi, kabut yang mengimbangi curah hujan yang rendah di daerah2 selatan sehingga kelembaban dimana2 tinggi dan nisbah hujan/penguapan jadi sangat baik. Karena air biasanya bukan faktor yang sangat membatasi, hutan2 daerah pantai barat seringkali disebut “hutan2 hujan daerah musim sedang”.
Bioma – Bioma Hutan Ughari Daerah Beriklim Sedang
Komunitas2 hutan ughari menduduki daerah2 dengan curah hujan yang banyak dan merata (30 hingga 60 inchi) dan temperatur sedang yang memperlihatkan pola musiman yang nyata. Bioma2 hutan ughari jadinya lebih terisolir dari satu dan lainnya ketimbang tundra2 dan hutan2 konifer utara, dan komposisi jenis akar, tentunya mencerminkan derajat isolasinya. Karena daun2 rontok dari pohon2 dan semak2 untuk sebagian dari setahun, maka perbedaan antara musim dingin dan musim panas sangat besar. Lapisan2 herba dan semak cenderung untuk berkembang dengan baik, dan demikian juga biota tanah. Terdapat banyak tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah2 yang lunak dan buah2 batu, seperti misalnya buah pasang. Binatang2 dari hutan asli dari Amerika Utara termasuk rusa virgina, tupai abu2 dan tupai srigala, srigala abu2, bobcat dan kalkun liar. Vireo mata merah, wood thrush, titmouse berumbai, overbird, dan dan beberapa burung pelatuk adalah burung2 kecil khas dari tingkat2 klimaks. Kolifer2 jenis tusam adalah tingakt perkembangan atau subklimaks dalam banyak daerah hutan ughari.
Bioma – Bioma Hutan Subtropik selalu hijau Daun Lebar
Dimana kelembaban tetap tinggi sedangkan perbedaan2 antara musim dingin dan musim kemarau menjadi kurang menonjol, hutan ughari daerah musim sedang membuka jalan bagi hutan klimaks selalu hijau daun lebar. Komunitas ini berkembang baik sekali dalam iklim laut panas-sedang. Dominan2 tumbuhan dari hutan ini berkisar dari live oaks dari daerah yang lebih utara, magnolia, bay, dan holly hingga jenis2 yang lebih tropik seperti misalnya ara-pencekik, tamarind liar, dan gumbo limbo. Kelompok terakhir itu meliputi banyak paku2, bromchied2, dan anggrek yang mendukung fauna dari binatang2 kecil yang khas. Sebagaimana pada umumnya memang benar mengenai komunitaas tropik dan subtropik, dominasi di dalam grup2 trofi “dipikul” bersam oleh jenis2 yang lebih berbeda dari pada kasus dalam komunitas2 daerah utara. Untuk analisis ekologi hutan2 laurel dan hutan yang selalu hijau daun lebar di Jepang.
Bioma – Bioma Padang Rumput Daerah Beriklim Sedang
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular
Pada Bioma padang rumput, didominasi oleh vegetasi rumput-rumputan dalam skala luas dan curah hujan dibawah savana, yakni 25 – 75 cm pertahun. Selin itu, juga didominasi oleh hewan-hewan herbivora seperti rusa, sapi dan lain sebagainya.
Bioma – Bioma Savana Tropik
Savana2 tropik ditemukan di daerah2 panas dengan curah hujan 40 hingga 60 inchi tetapi dengan musim kering yang berkepanjangan jika kebakaran merupakan bagian penting dari lingkungannya.
Bioma Gurun Pasir
Gurun pasir pada umumnya terdapat di daerah2 yang mempunyai curah hujan kurang dari 10 inchi atau kadang2 di daerah2 dengan curah hujan yang lebih besar yang tersebar sangat tidak merata. Kelangkaan hujan ini dapat disebabkan oleh (1) tekanan subtropik yag tinggi sepertia di sahara dan gurun2 Australia, (2) kedudukan geografi dalam daerah bayangan hujan seperti di gurun2 Amerika Utara sebelah barat, (3) ketinggian tempat yang tinggi seperti di Gurun2 tibet, bolivia.
Kebanyakan dari gurun pasir menerima beberapa hujan selama tahun itu dan mempunyai paling sedikit penutupan vegetasi yang jarang2, kecuali akalu keadaan edafik dari substrak kebetulan tidak baik.
Ada 3 bentuk hidup tumbuhan yang menyesuaikan terhadap gurun pasir :
1. Tumbuhan tahunan, yang menghindari kekeringan dengan hanya tumbuh jika terdapat cukup lembab.
2. sukulen, seperti misalnya kaktus, yang menyimpan air.
3. Belukar gurun pasir, yang mempunyai banyak cabang yang bercabang – cabang mulai dari pangkal batang yang pendek yang mempunyai daun2 tebal kecil yang dapat di contohkan selam periode2 kekeringan yang berkepanjangan.
Bioma – Bioma Chaparral
Di daerah2 beriklim sedang yang sejuk dengan curah hujan musim dingin yang banyak tetapi musim panas yang kering, vegetasi klimaks terdiri dari pohon2 atau semak2 dengan daun2 selalu hijau tebal dan keras. Termasuk disini kedua-dua chaparral yang sebenarnya atau “chaparral pantai” dalam mana bentuk hidp semak adalah menonjol dan “bukan scherophyl-lebar” yang berisikan pohon2 tersebar. Komunitas2 chaparral sangat luas di kalifornia dan meksiko, sepanjang pantai laut tengah dan sepanjang pantai selatan Australia. Jumlah besar jenis tumbuh-tumbuhan dapat menjalani sebagai jenis dominan, tergantung pada keadaan daerah dan setempat. Kebakaran merupakan faktor penting yang cenderung mengekalkan dominan semak dengan mengorbankan pohon2. jadi, chaparral sebagian dapat, paling sedikit, klimaks kebakaran, sebagaimana hutan pinus daun panjang dan negara2 bagian tenggara.
Bioma Pinon-Junifer
Secara alternatif, tipe komunitas ini, dianggap sebgai suatu sub bagian dari bioma buakn konifer utara. Kelembaban merupakan faktor yang penting, curah hujan dari 10 hingga 20 inchi yang tidak tersebar merata menyebabkan pertumbuhan seperti tanaman dari tusang pinon kecil adan cedas. Komunitas ini menduduki daerah yang lebar antara gurun pasir atau padang rumput dan hutan2 konifer yang lebih lebat dari ketinggian yang lebih tinggi. “buah batu” pinon dan buah bumi cedar adalah makanan penting untuk binatang2.
Bioma – Bioma Hutan Hujan Tropik
Keanekaragaman kehidupan barangkali mencapai puncaknya dalam hutan hujan tropik yang selalu daun lebar, yang menduduki zona2 dengan ketinggian yang rendah dekat khatulistiwa. Curah hujan melebihi 80 atau 90 inchi setahun dan tersebar sepanjang tahun, biasanya dengan satu atau lebih musim yang relatif “kering”.
Hutan hujan sangat berstratifikasi. Pohon2 pada umumnya membentuk 3 lapisan :
1. Pohon2 yang sangat menjulang tinggi, bersebar yang menjulang di atas lapisan umum dari.
2. lapisan tajuk, yang membentuk permadani hijau yang berkesinambungan tinggi 80 hingga 100 kaki,
3. stratum tumbuhan bawah yang menjadi lebat hanya dimana terdapat pembuka tajuk.
Bioma – Bioma Hutan Ughari dan Semak Tropik
Dimana daerah kelembaban berada diantara gurun pasir dan savana di satu pihak dan hutan hujan di lain pihak, semak tropik atau hutan2 duri dan hutan2 ughari tropik dapat dijumpai. Faktor iklim kunci adalah penyebaran yang tidak sempurna dari jumlah total curah hujan yang cukup baik, huatan2 duri yang sering kali dinamakan “belukar” mengandung pohon2 keras kecil seringkali terpilin-pilin secara aneh dan berduri, daun2 kecil dan gugur selama musim kering. Dimana curah hujan lebih besar atau lebih teratur maka akan terdapat huatan ughari yang barekembang biak, seperti misalnya hutan2 monsoon Asia tropik yang tersebar luas. Musim2 basah dan kering kurang sama panjangnya berseling sehingga penampilan dari musimm dingin dan musim panas sama2 menyolok seperti dengan hutan2 ughari daerah beriklim sedang.
Zonasi Di Pegunungan – Pegunungan
Penyebaran komunitas2 biotik di daerah2 pegunungan adalah rumit, seperti akan dapat diharapkan dalam mengingat keanekaragaman keadaan2 fisiknya. Komunitas2 utama umumnya nampak sebagai jalur2 yang tidak teratur, sering kali dengan ekoton2 yang sempit.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya dan saling terjadi interaksi.
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam.
PENDAHULUAN
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam. Yaitu :
a. Herbivora
Terdapat tiga jenis, yaitu : Ground-dwelling, Arboreal seperti Macaca fascicularis, dan Aerial seperti Burung dan hewan-hewan terbang lainnya.. Pada Ground-dwelling terbagi lagi menjadi empat, yaitu : Cursorial (berlari) seperti rhea dan emu, Saltatory (melompat) seperti kangguru, Graviportal (berat badan) seperti penyu dan gajah, dan Forsial seperti kodok dan katak.
b. Karnovora
Pada karnivora terbagi menjadi empat juga. Ketiganya sama dengan Herbivora, tetapi karnivora tidak Arboreal dan diganti Amphibious. Contoh pada Ground –dwelling adalah seperti cecak, kucing, beruang ular dan lain sebagainya. Contoh pada Aerial adalah beberapa burung, kelelawar, elang dan lain sebagainya. Contoh pada Fossorial seperi beberapa jenis ular, da contoh pada Amphibious seperti Alligator sp dan kataK
BAB II
PEMBAHASAN
1. LINGKUNGAN DARAT
Kita sekarang datang di darat, yang umumnya umumnya diakui paling beraneka ragam, dalam segi waktu dan geografi, dari ketiga lingkungan utama. Meskipun kita tidak mengharapkan memaksakan tujuan atau maksud, beda antara ekosistem peraiaran-terbuka, seperti lisalnya lautan dengan biomas tumbuhan kecilnya, dan ekosistem darat dengan biomas tumbuahan besarnya. Kerana struktur biologi yang sangat jelas dan pasti, pengkajian – pengkajian ekologi pada lingkungan darat cenderung untuk menegaskan asas – asas organisasi populaisi komunitas dan proses – proses perkembangan otogenik.
Kita dapat memikirkan iklim ( temperatur, kelembapan, sinar dan sebagainya ) dan substansi ( fisiografi, tanah, dll ) sebagai dua kelompok faktor yang menentukan sifat dari ekosistem – ekosistem dan komunitas – komunitas darat.
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam. Yaitu :
a. Herbivora
Terdapat tiga jenis, yaitu : Ground-dwelling, Arboreal seperti Macaca fascicularis, dan Aerial seperti Burung dan hewan-hewan terbang lainnya.. Pada Ground-dwelling terbagi lagi menjadi empat, yaitu : Cursorial (berlari) seperti rhea dan emu, Saltatory (melompat) seperti kangguru, Graviportal (berat badan) seperti penyu dan gajah, dan Forsial seperti kodok dan katak.
b. Karnovora
Pada karnivora terbagi menjadi empat juga. Ketiganya sama dengan Herbivora, tetapi karnivora tidak Arboreal dan diganti Amphibious. Contoh pada Ground –dwelling adalah seperti cecak, kucing, beruang ular dan lain sebagainya. Contoh pada Aerial adalah beberapa burung, kelelawar, elang dan lain sebagainya. Contoh pada Fossorial seperi beberapa jenis ular, da contoh pada Amphibious seperti Alligator sp dan katak
2. BIOTA DARAT
Evolusi di darattelah menonjolkan dari kategori – kategori taksonomi yang lebih tinggi dari dua kerajaan tumbuhan dan binatang. Jadi, dari semua organisme yang paling kompleks dan dikhususkan, misalnya tumbuhan biji, serangga2, dan vertebrata2 berdarah panas, adalah dominan di darat sekarang.
3. STRUKTUR UMUM DARI KOMUNITAS DARAT
Klasifikasi dari niche – niche pakan utama, yakni seri-seri autotrof-heterotrof, sangat dapat cocok untuk darat.
AUTOTROF. Ciri2 yang menonjol dari komunitas2 darat, tentu adanya dan biasanya dominasi dari tumbuh-tumbuhan hijau berakar besar dan tidak hanya merupakn pembuat2 pakan melainkan menyediakan juga penaungan untuk organisme2 lain serta memainkan peranan penting dalam mempertahankan dan mengubah permukan bumi. Meskipun ada ganggang tanah yang penting, tak ada lagi darat untuk membandingkan fitoplankton dari lingkungan perairan. Tidak sperti sebanyak yang akhir, yang memerlukan vitamin2 atau hara2 organik lain, produsen2 dasar dari darat adalah autotrof keras, atau obligat yang hanya memerlukan sinar dan hara2 mineral. Sekalipun demikian, tumbuh-tumbuhan darat, dapat tergantung dalam cara2 lain pada mikroorganisme untuk makanan mereka, seperti yang kita lihat dalam contoh dari mikorisa simbiotik, vegetasi yang merupakan istilah yang digunakan untuk semua tumbh-tumbuhan dari suatu daerah, adlah ciri2 sedemikian khas hingga kita umumnya mengklasifikasi dan menamai komunitas2 darat pada dasar dari padanya ketimbang pada dasar lingkungan fisiknya seperti yang sering memudahkan dalam keadaan perairan.
Banyak sekali bentk hidup yang ditunjukkan yang menyesuaikan tumbuh-tumbuhan darat terhadap hampir setiap keadaan yang mungkin. Istilah2 itu tentunya digunakan sexara luas dan dan menjadi dasar yang luas untuk pengenalan komunitas2 darat yang utama.
Keenam katagori primer adalah sebagai berikut :
1. Epiphyta, tumbuhan udara, tidak ada akar2 dalam tanah.
2. Phanerophyta, tumbuhan udara : kuncup2 pembaharu terbuka pada tunas tegak. Lima subgroup meliputi pohon2, semak, batang sukulen, batang2 terna dan liana2 (tumbuhan memanjat).
3. Chamaephyta, tumbuhan permukaan, kuncup pembaharu pada permukaan tanah.
4. Hemi-cryttuphyta, tumbuhan tussok : kuncup berada dalam atau sedikit di bawah permukaan tanah.
5. Cryptophyta atau geophyta, tumbuhan buni, kuncup di bawah permukaan pada umbi atau rimpang.
6. Therophyta, tumbuhan setahun daur hidup lengkap dari biji satu periode vegetatif, dapat hidup dalam musim2 tidak baik sebagai biji2.
KONSUMEN – KONSUMEN (MAKRO) FOGOTROFIK. Dikaitkan dengan banyaknya relung (niche) yang deselenggarakan oleh vegetasi, komunitas2 darat mempunyai barisan yang sangat beranekaragam dari konsumen2 primer tidak meliputi binatang2 kecil seperti misalnya serangga tetapi herbivora2 yang sangat besar, seperti misalnya mamalia berkuku, yang akhir adalah sifat yang unik dari darat dengan hanya sedikit paralel dalam komunitas2 perairan (kura2 pemakan tumbuhan, misalnya). Jadi, “perumput2”darat sangat jauh berbeda dalam ukuran struktur dari “perumput2” air, yakni, zooplankton. Karena autotrof2 darat membuat banyak pakar dari kegunaan rendah secara gizinya (selulosa, liginin, dsb), detritivora2 adalah ciri2 komunitas2 darat yang sangat penting. Keanekaragaman dan banyaknya serangga serta artoproda lain (yang mengisi setiap niche yang mungkin), tentunya, adalah ciri penting lain dari komunitas2 darat.
SAPOTROF – SAPOTROF ATAU MIKROKONSUMEN – MIKROKONSUMEN. Oarganisme2 yang melaksanakan “mineralisasi bahan2 organik”dan fungsi2 penting lainnya, dalam lingkunag darat terutama sekali adalah bakteri dan jamur tetapi juga termasuk protozoa dan binatang2 kecil lainnya. Peranan2 kunci dari spesialis2 mikroba, seperti misalnya bakteri pemikat nitrogen, jamur mikroriza, dan bakteri anaerobik. Apa yang sering disebut mikrooragisme2 pembusukan dapat dianggap suatu kelompok fungsional atau ekologi yang jelas berbeda, yang meliputi 4 satuan taksonomi berikut :
1). Jamur, termasuk khamir dan kapang2.
2). Bakteria heterotrofik, termasuk pembentuk dan pembentuk mirspora.
3). Aptinomisete2, yang berbentuk “benang2”, bakteri yang memliki ciri2 morfologi dari jamur, dan
4). Prozoa tanah termasuk amoeba, caliata, dan terutama flagellata tidak berwarna. Pembusuk2 ini dapat dijumpai diseluruh komunitas darat, tapi mereka terutama terkonsentrasi dalam lapisan2 tanah yang teratas (termasuk serasah).
Di sini, pembususkan residu2 tumbuhan, yang menyebabkan demikian besar bagian dari respirasi komunitas dalam demikian banyak ekosistem2 darat melibatkan suatu urutan mikroorganisme yang dapat ditunjukkan sebagai berikut :
Jamur kapang dan bakteri pembusuk nirspora bakteri pembusuk spora miso bakteri selulosa aktinomiset.
Hasil akhir dari tahap kedua dari pembusukan yang disebut bumifikasi berwarna coklat kuning tua, sangat tahan (tahap pertama kita tunjukkan sebagai pembentukan butir detrtus). Suatu model yang mungkin utuk struktur molekul asam bumik diperliahatkan untuk menggambarkan cici2 kunci seperti misalnya cincin benzum aromati ata venolik (1), dan nirogen siklik (2), rantai2 samping nitrogen (3), dan residu2 karbohidrat (4), yang membuat senyawa2 humik secara relatif sukar dibusukkan.
Tahap ketiga dalam pembusukan, misalnya meneralisasi dari humus, terjadi sangat lambat dalam daerah2 dingin dan sangat cepat dalam daerah2 panas, atau jika tanah terbuka terhadap udara, sperti dalam pambajakan.
Temperatur dan air sangat penting dalam mengatur kegiatan pembusuk2 karena faktor2 ini lebih beranekaragam di darat dari pada dalam habitat2 perairan, meka mudah untuk melihat mengapa pembusukan dalam tanah seringkali berjalan dalam suatu cara sporadik. Kebanyakan bakteri dan jamur memerlukan suatu lingkunagn mikro dengan kandungan air yang lebih tinggi, misalnya. Akibatnya, di daerah2 dengan periode2 kering yang panjang, produksi setahun-tahunnya, sekalipun dalam vegetasi klimaks. Kedua strata dasar yang membentuk secara ekosistem2 lengkap misalnya autotrofik dan heterotrofik, dalam lingkungan ditandai dengan baik.
4. SUBSISTEM TANAH
Tiga Kelompok ukuran yang dikenal :
1. Mikrobiota, yang meliputi algae tanah, bakteri, jamur, dan protozoa. Komponen ini telah ditinjau dalam seksi terdahulu, dan sumbangannya kepada total metabolisme tanah akan diperhatikan kemudian.
2. Mesobiota, yang meliputi nematoda, cacimg2 oligochaeta kecil enchytracid, larva serangga yang lebih kecil, dan terutama apa yang secara bebas mikroartrophoda.
3. Makrobiota, yang meliputi akar2 tumbuhan, serangga2 yang lebih besar, cacing2 tanh atau (lumbrichidae), organisme2 yang s\dapat dengan mudah dipilih dengan tangan. Vertebrata2 yang menggali lubang seperti misalnya tikus2, tupai2, dan tikus2 tanh dapat juga dimasukkan dalam kelompok ini.
RESPIRASI TANAH. Tiga metode telah digunakan untuk menentukan metabolisme tanah total :
1. Metode selisih, yakni, dengan mengurangi energi yang dipakai oleh herbivora2 atas-tanah dari produksi primer bersih.
2. Metode rontokan seresah. Dalam sistem2 yang mantap, penentuan banyaknya dan nilai energi dari masukan detritus (seresah) kedalam subsistem tanah merupakan ukuran dan pembusukan.
3. pengukuran langsung pengembangan CO2 dari tanah yang utuh di alam akan, tentunya memberikan cara2 pengukuran respirasi tanah seluruhnya, termasuk respirasi dari semua tiga kelompok biota.
5. SUBSISTEM VEGETASI
Karena tegakan yang ada dari produsen2, yakni, vegetasi, adalah ciri lingkungan2 darat yang demikian nyata dan mantap, komposisi vegetasi saja telah mendapatkan perhatian yang besar. Pengkajian kuantitatif dari setruktur vegetasi disebut phytosociology, tujuan pokoknya adalah memberikan vegetasi, menerangkan atau menduka polanya, dan mengklasifikasinya dalam cara yang berarti. Telah ada sejumlah pendekatan yang berbeda terhadap tahapan dari ekologi deskriptif ini. Salah pendekatannya didasarkan pada asas suksesi dan bersumber dari wargwarming, coules, clemants,dll.
NISBAH AKAR/TAJUK. Suatu aspek unik yang penting dari struktur ekosistem2 darat, satu yang mendasari fungsi2 produktivitas dan pendauran mineral adalah penyebaran jaringan tumbuhan yang berkesinambungan dari atas stratum autotrofik hingga dasar dari stratum heterotrofik.
TRANSPIRASI. Transpirasi atau penguapan air dari permukaan daun, adalah suatu yang unik dari ekosistem darat, dalam mana hal itu mempunyai pengaruh2 penting pada pendauran hara dan produktivitas. Bagian besar dari energi matahari dihamburkan dalam penguapan air dari padang rumput dan komunitas2 hutan mingkin dalam bentuk transpirasi.
6. PERMEANT-PERMEANT LINGKUNGAN DARAT
Sama dengan nekton dari ekosistem2 perairan adalah permeant2, istilah V.E Shefold untuk binatang2 yang sangat mobil seperti misalnya burung2, mamlia, dan serangga2 terbang.
7. PENYEBARAN DARI KOMUNITAS – KOMUNITAS DARAT UTAMA, BIOMA
Iklim2 regional berinteraksi dengan biota dan substrata2 regional untuk menghasilkan satuan2 komunitas yang dengan mudah dapat dikenal, disebut bioma-bioma. Bioma adalah satuan komunitas darat yang paling besar yang baik sekali untuk dikenal. Vegetasi klimaks dari bioma padang rumput, meskipun jenis dari rumput2 dominan dapat bermacam-macam dalam bagian2 yang berbeda dari bioma itu.karena bentuk hidup dari vegetasi, pada satu sisi, mencerminkan ciri-ciri utam dari iklim dan pada sisi lain menentukan alam struktural dari habitat untuk binatang2, dia memberi dasar yang kuat untuk suatu klasifikasi ekologi alam. Sebaliknya, data iklim dapat digunakan untuk membatasi formasi2 vegetasi utam.
Bioma meliputi tidak hanya vegetasi klimaks iklim, yang merupakan kunci untuk pengenalan, melainkan klimaks edafik dan tingkatan2 perkembangan yang dalam banyak kasus didominasi oleh bentuk hidup lain. Jadi, komunitas padang rumput adalah tingkat2 perkembangan sementara dalam perkembangan hutan ughari dimana pohon2 menggugur daun2 lebar merupakan bentuk hidup klimaks.
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
Tundra
Pada Bioma ini, Memiliki musim dingin yang sangat panjang (ekstrem). Bioma meliputi daerah-daerah yang terletak dekat dengan kutub utara dan di dalamnya tidak ditemukan pohon, didominasi oleh lumut-lumutan, rumput-rumputan, dan perdu.
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
Bioma – bioma Hutan Konifer Utara
Hutan2 konifer termasuk daerah2 penghasil kayu terbesar di dunia. Jarum2 konifer sangat lambat membusuk, dan tanah mengembangkan profil pedsol yang sangat khas. Tanah dapat mengandung populasi organisme2 kecil cukup baik tetapi sedikit organisme2 yang lebih besar. Banyak dari vertebrata herbivora yang lebih besar, seperti misalnya moosa, kelinci salju putih, dan burung belibis, tergantung sebagian paling sedikit, pada komunitas2 perkembangan jenis daun lebar untuk pohonnya. Biji2 konifer memberikan makanan yang penting bagi banyak binatnag misalnya tupai, siskin, dan crossbill.
Biome Hutan Konifer Daerah Beriklim Sedang Basah (Mesothermal)
Hutan2 dari tipe khusus terdapat sepanjang pantai barat amerika dari kalifornia tengah hingga alaska, dimana temperatur adalah lebih tinggi, kisaran musimnya relatif kecil dan kelembabannya sangat tinggi. Meskipun didominasi olehbentuk hidup konifer, hutan2 ini secara floristik dan ekologa sangat berbeda dari hutan konifer utara. Curah hujan berkisar dari 30 hingga 150 inchi, kabut yang mengimbangi curah hujan yang rendah di daerah2 selatan sehingga kelembaban dimana2 tinggi dan nisbah hujan/penguapan jadi sangat baik. Karena air biasanya bukan faktor yang sangat membatasi, hutan2 daerah pantai barat seringkali disebut “hutan2 hujan daerah musim sedang”.
Bioma – Bioma Hutan Ughari Daerah Beriklim Sedang
Komunitas2 hutan ughari menduduki daerah2 dengan curah hujan yang banyak dan merata (30 hingga 60 inchi) dan temperatur sedang yang memperlihatkan pola musiman yang nyata. Bioma2 hutan ughari jadinya lebih terisolir dari satu dan lainnya ketimbang tundra2 dan hutan2 konifer utara, dan komposisi jenis akar, tentunya mencerminkan derajat isolasinya. Karena daun2 rontok dari pohon2 dan semak2 untuk sebagian dari setahun, maka perbedaan antara musim dingin dan musim panas sangat besar. Lapisan2 herba dan semak cenderung untuk berkembang dengan baik, dan demikian juga biota tanah. Terdapat banyak tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah2 yang lunak dan buah2 batu, seperti misalnya buah pasang. Binatang2 dari hutan asli dari Amerika Utara termasuk rusa virgina, tupai abu2 dan tupai srigala, srigala abu2, bobcat dan kalkun liar. Vireo mata merah, wood thrush, titmouse berumbai, overbird, dan dan beberapa burung pelatuk adalah burung2 kecil khas dari tingkat2 klimaks. Kolifer2 jenis tusam adalah tingakt perkembangan atau subklimaks dalam banyak daerah hutan ughari.
Bioma – Bioma Hutan Subtropik selalu hijau Daun Lebar
Dimana kelembaban tetap tinggi sedangkan perbedaan2 antara musim dingin dan musim kemarau menjadi kurang menonjol, hutan ughari daerah musim sedang membuka jalan bagi hutan klimaks selalu hijau daun lebar. Komunitas ini berkembang baik sekali dalam iklim laut panas-sedang. Dominan2 tumbuhan dari hutan ini berkisar dari live oaks dari daerah yang lebih utara, magnolia, bay, dan holly hingga jenis2 yang lebih tropik seperti misalnya ara-pencekik, tamarind liar, dan gumbo limbo. Kelompok terakhir itu meliputi banyak paku2, bromchied2, dan anggrek yang mendukung fauna dari binatang2 kecil yang khas. Sebagaimana pada umumnya memang benar mengenai komunitaas tropik dan subtropik, dominasi di dalam grup2 trofi “dipikul” bersam oleh jenis2 yang lebih berbeda dari pada kasus dalam komunitas2 daerah utara. Untuk analisis ekologi hutan2 laurel dan hutan yang selalu hijau daun lebar di Jepang.
Bioma – Bioma Padang Rumput Daerah Beriklim Sedang
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular
Pada Bioma padang rumput, didominasi oleh vegetasi rumput-rumputan dalam skala luas dan curah hujan dibawah savana, yakni 25 – 75 cm pertahun. Selin itu, juga didominasi oleh hewan-hewan herbivora seperti rusa, sapi dan lain sebagainya.
Bioma – Bioma Savana Tropik
Savana2 tropik ditemukan di daerah2 panas dengan curah hujan 40 hingga 60 inchi tetapi dengan musim kering yang berkepanjangan jika kebakaran merupakan bagian penting dari lingkungannya.
Bioma Gurun Pasir
Gurun pasir pada umumnya terdapat di daerah2 yang mempunyai curah hujan kurang dari 10 inchi atau kadang2 di daerah2 dengan curah hujan yang lebih besar yang tersebar sangat tidak merata. Kelangkaan hujan ini dapat disebabkan oleh (1) tekanan subtropik yag tinggi sepertia di sahara dan gurun2 Australia, (2) kedudukan geografi dalam daerah bayangan hujan seperti di gurun2 Amerika Utara sebelah barat, (3) ketinggian tempat yang tinggi seperti di Gurun2 tibet, bolivia.
Kebanyakan dari gurun pasir menerima beberapa hujan selama tahun itu dan mempunyai paling sedikit penutupan vegetasi yang jarang2, kecuali akalu keadaan edafik dari substrak kebetulan tidak baik.
Ada 3 bentuk hidup tumbuhan yang menyesuaikan terhadap gurun pasir :
1. Tumbuhan tahunan, yang menghindari kekeringan dengan hanya tumbuh jika terdapat cukup lembab.
2. sukulen, seperti misalnya kaktus, yang menyimpan air.
3. Belukar gurun pasir, yang mempunyai banyak cabang yang bercabang – cabang mulai dari pangkal batang yang pendek yang mempunyai daun2 tebal kecil yang dapat di contohkan selam periode2 kekeringan yang berkepanjangan.
Bioma – Bioma Chaparral
Di daerah2 beriklim sedang yang sejuk dengan curah hujan musim dingin yang banyak tetapi musim panas yang kering, vegetasi klimaks terdiri dari pohon2 atau semak2 dengan daun2 selalu hijau tebal dan keras. Termasuk disini kedua-dua chaparral yang sebenarnya atau “chaparral pantai” dalam mana bentuk hidp semak adalah menonjol dan “bukan scherophyl-lebar” yang berisikan pohon2 tersebar. Komunitas2 chaparral sangat luas di kalifornia dan meksiko, sepanjang pantai laut tengah dan sepanjang pantai selatan Australia. Jumlah besar jenis tumbuh-tumbuhan dapat menjalani sebagai jenis dominan, tergantung pada keadaan daerah dan setempat. Kebakaran merupakan faktor penting yang cenderung mengekalkan dominan semak dengan mengorbankan pohon2. jadi, chaparral sebagian dapat, paling sedikit, klimaks kebakaran, sebagaimana hutan pinus daun panjang dan negara2 bagian tenggara.
Bioma Pinon-Junifer
Secara alternatif, tipe komunitas ini, dianggap sebgai suatu sub bagian dari bioma buakn konifer utara. Kelembaban merupakan faktor yang penting, curah hujan dari 10 hingga 20 inchi yang tidak tersebar merata menyebabkan pertumbuhan seperti tanaman dari tusang pinon kecil adan cedas. Komunitas ini menduduki daerah yang lebar antara gurun pasir atau padang rumput dan hutan2 konifer yang lebih lebat dari ketinggian yang lebih tinggi. “buah batu” pinon dan buah bumi cedar adalah makanan penting untuk binatang2.
Bioma – Bioma Hutan Hujan Tropik
Keanekaragaman kehidupan barangkali mencapai puncaknya dalam hutan hujan tropik yang selalu daun lebar, yang menduduki zona2 dengan ketinggian yang rendah dekat khatulistiwa. Curah hujan melebihi 80 atau 90 inchi setahun dan tersebar sepanjang tahun, biasanya dengan satu atau lebih musim yang relatif “kering”.
Hutan hujan sangat berstratifikasi. Pohon2 pada umumnya membentuk 3 lapisan :
1. Pohon2 yang sangat menjulang tinggi, bersebar yang menjulang di atas lapisan umum dari.
2. lapisan tajuk, yang membentuk permadani hijau yang berkesinambungan tinggi 80 hingga 100 kaki,
3. stratum tumbuhan bawah yang menjadi lebat hanya dimana terdapat pembuka tajuk.
Bioma – Bioma Hutan Ughari dan Semak Tropik
Dimana daerah kelembaban berada diantara gurun pasir dan savana di satu pihak dan hutan hujan di lain pihak, semak tropik atau hutan2 duri dan hutan2 ughari tropik dapat dijumpai. Faktor iklim kunci adalah penyebaran yang tidak sempurna dari jumlah total curah hujan yang cukup baik, huatan2 duri yang sering kali dinamakan “belukar” mengandung pohon2 keras kecil seringkali terpilin-pilin secara aneh dan berduri, daun2 kecil dan gugur selama musim kering. Dimana curah hujan lebih besar atau lebih teratur maka akan terdapat huatan ughari yang barekembang biak, seperti misalnya hutan2 monsoon Asia tropik yang tersebar luas. Musim2 basah dan kering kurang sama panjangnya berseling sehingga penampilan dari musimm dingin dan musim panas sama2 menyolok seperti dengan hutan2 ughari daerah beriklim sedang.
Zonasi Di Pegunungan – Pegunungan
Penyebaran komunitas2 biotik di daerah2 pegunungan adalah rumit, seperti akan dapat diharapkan dalam mengingat keanekaragaman keadaan2 fisiknya. Komunitas2 utama umumnya nampak sebagai jalur2 yang tidak teratur, sering kali dengan ekoton2 yang sempit.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya dan saling terjadi interaksi.
Ekologi darat mempelajri tentang ekosistem darat. Ekosistem darat mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem laut, karena kemungkinan organisme untuk hidup dan berkembangbiak pada ekosistem darat lebih lebar. Sebab, distribusi oksigen dan sinar matahari lebih banyak.
Pada Ekosistem darat terdapat beberapa jenis dari bentuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, yaitu : pohon, liana, epifit, shrubs, herba, dan tumbuhan taliod. Sedangkan pada jenis adaptasi hewan vertebrata darat ada bermacam-macam.
TUMBUHAN CENDANA
LAPORAN
PRAKTIKUM EKOLOGI
Keanekaragaman Hayati
TUMBUHAN CENDANA
BAB I
PENDAHULUAN
Cendana (Santalum album) dan Bunga Cendana. Makin langkah dan terancam punah, Tumbuhan yang cenderung hidup di daerah Sabana dan sulit dikembangbiakan ini terus menjadi salah satu target perburuan gelap demi bisnis dan perdagangan ilegal karena harganya yang mahal.
Bunga cendana ( Santallum Album .L ) merupakan tumbuhan tropic bernilai ekonomi tinggi yang populasi di habitat aslinya mengalami penurunan drastis. Penurunan populasi tersebut terjadi karena eksploitasi yang berlebihan dan belum dilakukan upaya – upaya konservasi. Dan jika eksploitasi ini dilakukan terus menerus, maka bisa – bisa tanaman cendana akan mengelamai kepunahan.
Salah satu cara mencegah terjadinya kepunahan cendana, maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) bersama pemerintah harus memperbanyak melakukan penanaman benih cendana ( kebun benih cendana ).
Adapun tujuan utama kebun benih cendana adalah :
1. Melindungi cendana agar tidak punah.
2. mencegah terjadinya erosi plasma nutfah cendana.
3. sumber pengadaan bibit atau benih cendana yang berkualitas.
Salah satu kegiatan dalam membangun kebun benih cendana adalah mengunventarisasi pohon cendana yang berpotensi sebagai pohon induk yang menghasilkan biji.
BAB II
LAPORAN PRAKTIKUM KEANEKARAGAAN
HAYATI FLORA
Lokasi Praktikum : Kebun Raya Purwodadi
Hari/tanggal Praktikum : Rabu/03 Juni 2009
Tujuan Umum : Agar mahasiswa mengetahui ragam flora yang ada di Kebun Raya Purwodadi.
Tujuan Khusus :
• Agar mahasiswa mampu mengenali dan mengetahui fungsi dari tanaman cendana.
• Agar mahasiswa memahami arti pentingnya konservasi
DASAR TEORI
Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (en)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi.
Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah:
• Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
• Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
• (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.
• Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
• Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Cendana atau nama latinnya Santalum, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Sandalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.
Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
B. Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Santalales
Famili : Santalaceae
Genus : Santalum
Spesies : S. Album
Nama binomial : Santalum album
B. Habitat
Habitat atau tempat ditanamnya tumbuhan cendana bisa dikebun atau pekarangan rumah.
C. Deskripsi
Tumbuhan berupa pohon, tinggi antara 12 dan 15 meter. Kulit berkayu kasar, berwarna kelabu. Daun mudah gugur. Tumbuh di tanah yang panas dan kering, di tanah yang banyak kapurnya.
Memiliki habitus sebagai tanaman pohon dengan tinggi mencapai 15 sampai dengan 20 meter. Bentuk batang tegak, dengan penampang bulat dan percabangan simpodial dengan tekstur kasar dan warna putih kecoklatan. Bentuk daun tunggal menyebar pertulangan menyirip dan warna hijau serta permukaan licin.
D. Kandungan Cendana
Minyak atsiri, hars, dan zat samak. Minyak:Santalol (seskuiterpenalkohol), santalen (seskuiterpena), santen, santenon, santalal, santalon, dan isovalerilaldehida.
Kandungan kimia yang terdapat dalam kayu cendana adalah saponin dan flavanoida pada akar, batang dan daun, sedangkan pada daun juga terdapat antrakinon.
E. Khasiat Cendana
Khasiat kayu cendana adalah sebagai Antipiretik, analgesik, karminatif, stomakik, dan diuretik.
Khasiat umum dari tanaman ini adalah sebagai penghalus kulit, peluruh keringat, pereda kejang, dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit demam. untuk kasiat penghalus kulit dipakai kayu yang sudah dikeringkan, diserut, ditumbuk dan ditambahkan air hingga menyerupai pasta. penggunaannya sebagai bahan untuk luluran.
F. Resep Tradisional Cendana
1. Gonore Virulenta : Kayu digiling dan ditambah air atau olesi dengan minyak cendana dan tempelkan ketempat yang sakit
2. Emenagogum (pembersih haid) : kulir ditambah air, digiling, disaring dan minum airnya.
RAMUAN DAN TAKARAN
1. Ramuan Disentri
Kulit kayu Cendana 2 gram Daun Patikan Cina 5 gram Gambir sedikit Air 100 ml
Cara pembuatan : Dibuat infus.
Cara pemakaian : Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.
Lama pengobatan : Diulang selama 14 hari.
2. Ramuan Radang Usus
Kayu Cendana (serbuk) 2 sendok teh Air mendidih 100 ml
Cara pembuatan : Diseduh.
Cara pemakaian : Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.
Lama pengobatan : Diulang selama 14 hari.
3. Ramuan Asma
Kayu Cendana (serbuk) secukupnya Daun Tanjung muda beberapa helai.
Cara pembuatan : Daun Tanjung muda dirajang kemudian dikeringkan. Setelah kering ditambahkan sedikit serbuk Cendana, kemudian dibuat rokok.
Cara pemakaian : Dihisap seperti menghisap rokok.
G. Bagian tanaman yang digunakan
Dalam khasiat ataupun resep cendana, bagian tanaman dari cendana yang digunakan adalah :
1) Kayu,
2) Kulit,dan
3) Minyaknya.
H. Cara budidaya
Adapun cara budidaya tanaman Cendana yaitu diantaranya :
1) Perbanyak tanaman dengan biji,
2) Cangkokan dan okulasi,
3) Pemeliharaannya mudah,
4) Pupuk dasar, dan
5) Cukup air serta sinar.
I. Sifat kimiawi dan efek farmakologis:
1. Sifat Kimiawi : Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia yang sudah diketahui antara lain - minyak terbang.
2. Efek Farmakologis : Sifat - berbau harum, anti radang, anti disentri, emenagogum.
J. Fungsi Estetik
Karena bentuk tajuk tanaman ini menyerupai payung maka dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh dengan tingkat reduksi cahaya yang sedang karena tekstur tajuknya medium.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
Dengan khasiat dan kegunaan tumbuhan cendana yang sangat banyak ini, kita harus selalu menjaga kelestarian tumbuhan cendana agar tidak mengalami kepunahan.
DAFTAR PUSTAKA
http://tanamanherbal.wordpress.com
http://www.iptek.net.id
http://www.krpurwodadi.lipi.go.id
Asian Regional Workshop (1998). Santalum album. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 2007-02-08.
Suriamihardja S dan I Wayan Widhana Susila, 1993. Strategi dan Upaya Pelestarian Potensi Cendana di Nusa Tenggara Timur. Savanna. Kupang: Balai Penelitian Kehutanan. 1-8.
PRAKTIKUM EKOLOGI
Keanekaragaman Hayati
TUMBUHAN CENDANA
BAB I
PENDAHULUAN
Cendana (Santalum album) dan Bunga Cendana. Makin langkah dan terancam punah, Tumbuhan yang cenderung hidup di daerah Sabana dan sulit dikembangbiakan ini terus menjadi salah satu target perburuan gelap demi bisnis dan perdagangan ilegal karena harganya yang mahal.
Bunga cendana ( Santallum Album .L ) merupakan tumbuhan tropic bernilai ekonomi tinggi yang populasi di habitat aslinya mengalami penurunan drastis. Penurunan populasi tersebut terjadi karena eksploitasi yang berlebihan dan belum dilakukan upaya – upaya konservasi. Dan jika eksploitasi ini dilakukan terus menerus, maka bisa – bisa tanaman cendana akan mengelamai kepunahan.
Salah satu cara mencegah terjadinya kepunahan cendana, maka Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) bersama pemerintah harus memperbanyak melakukan penanaman benih cendana ( kebun benih cendana ).
Adapun tujuan utama kebun benih cendana adalah :
1. Melindungi cendana agar tidak punah.
2. mencegah terjadinya erosi plasma nutfah cendana.
3. sumber pengadaan bibit atau benih cendana yang berkualitas.
Salah satu kegiatan dalam membangun kebun benih cendana adalah mengunventarisasi pohon cendana yang berpotensi sebagai pohon induk yang menghasilkan biji.
BAB II
LAPORAN PRAKTIKUM KEANEKARAGAAN
HAYATI FLORA
Lokasi Praktikum : Kebun Raya Purwodadi
Hari/tanggal Praktikum : Rabu/03 Juni 2009
Tujuan Umum : Agar mahasiswa mengetahui ragam flora yang ada di Kebun Raya Purwodadi.
Tujuan Khusus :
• Agar mahasiswa mampu mengenali dan mengetahui fungsi dari tanaman cendana.
• Agar mahasiswa memahami arti pentingnya konservasi
DASAR TEORI
Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (en)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi.
Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah:
• Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
• Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
• (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.
• Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
• Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Cendana atau nama latinnya Santalum, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Sandalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.
Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
B. Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Santalales
Famili : Santalaceae
Genus : Santalum
Spesies : S. Album
Nama binomial : Santalum album
B. Habitat
Habitat atau tempat ditanamnya tumbuhan cendana bisa dikebun atau pekarangan rumah.
C. Deskripsi
Tumbuhan berupa pohon, tinggi antara 12 dan 15 meter. Kulit berkayu kasar, berwarna kelabu. Daun mudah gugur. Tumbuh di tanah yang panas dan kering, di tanah yang banyak kapurnya.
Memiliki habitus sebagai tanaman pohon dengan tinggi mencapai 15 sampai dengan 20 meter. Bentuk batang tegak, dengan penampang bulat dan percabangan simpodial dengan tekstur kasar dan warna putih kecoklatan. Bentuk daun tunggal menyebar pertulangan menyirip dan warna hijau serta permukaan licin.
D. Kandungan Cendana
Minyak atsiri, hars, dan zat samak. Minyak:Santalol (seskuiterpenalkohol), santalen (seskuiterpena), santen, santenon, santalal, santalon, dan isovalerilaldehida.
Kandungan kimia yang terdapat dalam kayu cendana adalah saponin dan flavanoida pada akar, batang dan daun, sedangkan pada daun juga terdapat antrakinon.
E. Khasiat Cendana
Khasiat kayu cendana adalah sebagai Antipiretik, analgesik, karminatif, stomakik, dan diuretik.
Khasiat umum dari tanaman ini adalah sebagai penghalus kulit, peluruh keringat, pereda kejang, dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk obat sakit demam. untuk kasiat penghalus kulit dipakai kayu yang sudah dikeringkan, diserut, ditumbuk dan ditambahkan air hingga menyerupai pasta. penggunaannya sebagai bahan untuk luluran.
F. Resep Tradisional Cendana
1. Gonore Virulenta : Kayu digiling dan ditambah air atau olesi dengan minyak cendana dan tempelkan ketempat yang sakit
2. Emenagogum (pembersih haid) : kulir ditambah air, digiling, disaring dan minum airnya.
RAMUAN DAN TAKARAN
1. Ramuan Disentri
Kulit kayu Cendana 2 gram Daun Patikan Cina 5 gram Gambir sedikit Air 100 ml
Cara pembuatan : Dibuat infus.
Cara pemakaian : Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.
Lama pengobatan : Diulang selama 14 hari.
2. Ramuan Radang Usus
Kayu Cendana (serbuk) 2 sendok teh Air mendidih 100 ml
Cara pembuatan : Diseduh.
Cara pemakaian : Diminum 2 kali sehari, pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml.
Lama pengobatan : Diulang selama 14 hari.
3. Ramuan Asma
Kayu Cendana (serbuk) secukupnya Daun Tanjung muda beberapa helai.
Cara pembuatan : Daun Tanjung muda dirajang kemudian dikeringkan. Setelah kering ditambahkan sedikit serbuk Cendana, kemudian dibuat rokok.
Cara pemakaian : Dihisap seperti menghisap rokok.
G. Bagian tanaman yang digunakan
Dalam khasiat ataupun resep cendana, bagian tanaman dari cendana yang digunakan adalah :
1) Kayu,
2) Kulit,dan
3) Minyaknya.
H. Cara budidaya
Adapun cara budidaya tanaman Cendana yaitu diantaranya :
1) Perbanyak tanaman dengan biji,
2) Cangkokan dan okulasi,
3) Pemeliharaannya mudah,
4) Pupuk dasar, dan
5) Cukup air serta sinar.
I. Sifat kimiawi dan efek farmakologis:
1. Sifat Kimiawi : Tumbuhan ini kaya dengan kandungan kimia yang sudah diketahui antara lain - minyak terbang.
2. Efek Farmakologis : Sifat - berbau harum, anti radang, anti disentri, emenagogum.
J. Fungsi Estetik
Karena bentuk tajuk tanaman ini menyerupai payung maka dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh dengan tingkat reduksi cahaya yang sedang karena tekstur tajuknya medium.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
Dengan khasiat dan kegunaan tumbuhan cendana yang sangat banyak ini, kita harus selalu menjaga kelestarian tumbuhan cendana agar tidak mengalami kepunahan.
DAFTAR PUSTAKA
http://tanamanherbal.wordpress.com
http://www.iptek.net.id
http://www.krpurwodadi.lipi.go.id
Asian Regional Workshop (1998). Santalum album. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 2007-02-08.
Suriamihardja S dan I Wayan Widhana Susila, 1993. Strategi dan Upaya Pelestarian Potensi Cendana di Nusa Tenggara Timur. Savanna. Kupang: Balai Penelitian Kehutanan. 1-8.
tanaman ketepeng
Nama latin: Cassia alata L.
Nama daerah: Ketepeng China; Ketepeng badak; Daun kupang; Daun kurapa; Kupang-kupang; Ki manita
Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi 1-5 meter. Daun menyirip genap, poros daun tanpa kelenjar, daun penumpu lama tetap tinggal dengan pangkal lebar dan ujung meruncing seperti kulit merah cokelat, panjang 6-9 mm. anak daun 8-24 pasang, sepasang yang terbawah langsung terletak diatas pangkal tangkai daun hampir memeluk ranting. Ukuran anak daun 3,5-15 cm kali 2,5-9 cm. Tandan bunga tidak bercabang, tangkai bunga 10-20 cm. Daun pelindung pendek dan rontok sebelum mekar, warna jingga ukuran 3×2 cm. Kelopak berbagi 5. Daun mahkota kuning cerah. Buah polong yang gepeng, bersayap pada kedua sisinya, memecah bila telah masak dan bijinya dapat 50-70 butir.
Habitat: 1-1400 m dpl.
Bagian tanaman yang digunakan : Daun
Kandungan kimia: Glikosida anthrakinon; Resin; Asam krisofanat; Zat samak; Aloe emodin
Khasiat: Laksatif; Parasitisida
Nama simplesia: Cassiae alatae Folium
Resep tradisional:
Kapalan dan Herpes
Daun ketepeng China muda 7 helai; Akar kelembak 1 jari tangan; Buah asam sedikit; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Kurap dan Panu :
Daun ketepeng Cina secukupnya; Kapur sirih atau Tawas sedikit; Air sedikit, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian kulit yang sakit.
Ketepeng Kecil
(Cassia tora Linn.)
Sinonim :
Cassia foetida, Salisb. Cassia obtusifolia, Linn. Cassia tagera, Lamk.
Familia :
Caesalpiniaceae (Leguminosae)
Uraian :
Tanaman berupa perdu kecil yang tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 1 m. Tumbuh liar di pinggir kota, daerah tepi sungai, semak belukar dan kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Batangnya lurus, pangkal batang berkayu, banyak bercabang, daerah ujung batang berambut jarang. Daun letak berseling, berupa daun majemuk menyirip ganda terdiri dari 3 pasang anak daun yang bentuknya bulat telur sungsang, panjang 2-3 cm, lebar 1 1/2 - 3 cm ujung agak membulat dan pangkal daun melancip, warna hijau, permukaan bawah daun berambut halus. Bunganya banyak berwarna kuning tersusun dalam rangkaian tandan yang tumbuh pada ketiak daun. Buahnya buah polong berkulit keras berisi 20 - 30 biji yang bentuknya lengkung berwarna coklat kuning mengkilat. Tanaman perdu ini berasal dari Amerika tropik dan menyukai tempat terbuka atau agak teduh dapat tumbuh di dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut.
Nama Lokal :
Ketepeng sapi, ketepeng cilik (jawa), pepo (Timor) ; Ketepeng lentik (Sunda); Jue ming zi (China).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Radang mata, luka cornea, rabun senja, glaucoma, Hipertensi; Hepatitis, cirrhosis, Perut busung air (ascites), sulit buang air besar;
SAGA
Nama latin: Abrus precatorius Linn
Nama daerah: Saga manis; Sogo telik; Si manis; Sagacai; Saga areuy; Piling-piling
Deskripsi tanaman: Perdu, merambat dan membelit, batang berkayu bercabang, batang muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hijau kecokelatan. Daun majemuk, berselang-seling, menyirip ganjil, anak daun bulat telur, warna hijau. Perbungaan bentuk tandan. Buah polong. Biji bulat telur, warna merah bernoda hitam
Habitat: Tumbuh liar di semak belukar dan sebagai tanaman pekarangan pada ketinggian 250-900 m dpl
Bagian tanaman yang digunakan: Akar; Daun; Biji
Kandungan kimia: Glisirhizin; Prekatorina; Abrin; Trigonelina; Kholina; Zat beracun toksalbumin glikosida; Hemoglutinin; Zat racun abrulin
Khasiat: Antiinflamasi; Diuretik; Antitusif; Parasitisida
Nama simplesia: Abri Folium
Resep tradisional:
Batuk
Daun saga 1 genggam; Buah adas 5 butir; Kayu pulasari 1/2 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Sariawan
Daun Saga 2 g; Daun Pegagan 2 g; Rasuk angin 1 g; Kulit kayu turi 1/2 jari tangan; Akar manis 1 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Wasir
Daun saga 1 genggam; Herba Pegagan 1 genggam; Daun Patikan Cina (serbuk)1 sendok teh; Akar Kelembak (serbuk)1/2 sendok teh; Rimpang temu lawak 7 keping; Air 110 ml , Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Nama daerah: Ketepeng China; Ketepeng badak; Daun kupang; Daun kurapa; Kupang-kupang; Ki manita
Deskripsi tanaman: Tanaman perdu, tinggi 1-5 meter. Daun menyirip genap, poros daun tanpa kelenjar, daun penumpu lama tetap tinggal dengan pangkal lebar dan ujung meruncing seperti kulit merah cokelat, panjang 6-9 mm. anak daun 8-24 pasang, sepasang yang terbawah langsung terletak diatas pangkal tangkai daun hampir memeluk ranting. Ukuran anak daun 3,5-15 cm kali 2,5-9 cm. Tandan bunga tidak bercabang, tangkai bunga 10-20 cm. Daun pelindung pendek dan rontok sebelum mekar, warna jingga ukuran 3×2 cm. Kelopak berbagi 5. Daun mahkota kuning cerah. Buah polong yang gepeng, bersayap pada kedua sisinya, memecah bila telah masak dan bijinya dapat 50-70 butir.
Habitat: 1-1400 m dpl.
Bagian tanaman yang digunakan : Daun
Kandungan kimia: Glikosida anthrakinon; Resin; Asam krisofanat; Zat samak; Aloe emodin
Khasiat: Laksatif; Parasitisida
Nama simplesia: Cassiae alatae Folium
Resep tradisional:
Kapalan dan Herpes
Daun ketepeng China muda 7 helai; Akar kelembak 1 jari tangan; Buah asam sedikit; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Kurap dan Panu :
Daun ketepeng Cina secukupnya; Kapur sirih atau Tawas sedikit; Air sedikit, Dipipis hingga berbentuk pasta, Dioleskan pada bagian kulit yang sakit.
Ketepeng Kecil
(Cassia tora Linn.)
Sinonim :
Cassia foetida, Salisb. Cassia obtusifolia, Linn. Cassia tagera, Lamk.
Familia :
Caesalpiniaceae (Leguminosae)
Uraian :
Tanaman berupa perdu kecil yang tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 1 m. Tumbuh liar di pinggir kota, daerah tepi sungai, semak belukar dan kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Batangnya lurus, pangkal batang berkayu, banyak bercabang, daerah ujung batang berambut jarang. Daun letak berseling, berupa daun majemuk menyirip ganda terdiri dari 3 pasang anak daun yang bentuknya bulat telur sungsang, panjang 2-3 cm, lebar 1 1/2 - 3 cm ujung agak membulat dan pangkal daun melancip, warna hijau, permukaan bawah daun berambut halus. Bunganya banyak berwarna kuning tersusun dalam rangkaian tandan yang tumbuh pada ketiak daun. Buahnya buah polong berkulit keras berisi 20 - 30 biji yang bentuknya lengkung berwarna coklat kuning mengkilat. Tanaman perdu ini berasal dari Amerika tropik dan menyukai tempat terbuka atau agak teduh dapat tumbuh di dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut.
Nama Lokal :
Ketepeng sapi, ketepeng cilik (jawa), pepo (Timor) ; Ketepeng lentik (Sunda); Jue ming zi (China).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Radang mata, luka cornea, rabun senja, glaucoma, Hipertensi; Hepatitis, cirrhosis, Perut busung air (ascites), sulit buang air besar;
SAGA
Nama latin: Abrus precatorius Linn
Nama daerah: Saga manis; Sogo telik; Si manis; Sagacai; Saga areuy; Piling-piling
Deskripsi tanaman: Perdu, merambat dan membelit, batang berkayu bercabang, batang muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hijau kecokelatan. Daun majemuk, berselang-seling, menyirip ganjil, anak daun bulat telur, warna hijau. Perbungaan bentuk tandan. Buah polong. Biji bulat telur, warna merah bernoda hitam
Habitat: Tumbuh liar di semak belukar dan sebagai tanaman pekarangan pada ketinggian 250-900 m dpl
Bagian tanaman yang digunakan: Akar; Daun; Biji
Kandungan kimia: Glisirhizin; Prekatorina; Abrin; Trigonelina; Kholina; Zat beracun toksalbumin glikosida; Hemoglutinin; Zat racun abrulin
Khasiat: Antiinflamasi; Diuretik; Antitusif; Parasitisida
Nama simplesia: Abri Folium
Resep tradisional:
Batuk
Daun saga 1 genggam; Buah adas 5 butir; Kayu pulasari 1/2 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Sariawan
Daun Saga 2 g; Daun Pegagan 2 g; Rasuk angin 1 g; Kulit kayu turi 1/2 jari tangan; Akar manis 1 jari tangan; Air 110 ml, Direbus sampai mendidih , Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Wasir
Daun saga 1 genggam; Herba Pegagan 1 genggam; Daun Patikan Cina (serbuk)1 sendok teh; Akar Kelembak (serbuk)1/2 sendok teh; Rimpang temu lawak 7 keping; Air 110 ml , Direbus sampai mendidih, Diminum 1 kali sehari 100 ml.
Langganan:
Postingan (Atom)