PENGANTAR: Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue (virDen) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti atau spesies Aedes lainnya yang sesuai. Gejalanya meliputi demam mendadak (akut) kontinyu 4-7 hari, sakit kepala, nyeri ulu hati, wajah memerah, nyeri tulang punggung, yang berlanjut (pada hari kedua) timbul perdarahan bawah kulit.
DBD berat bisa berlanjut dengan shock syndrome (DSS)
EPIDEMIOLOGI dan PENULARAN DBD
Epidemiologi DBD terkait dengan faktor-faktor agent (virDen: serotip 1, 2, 3 dan 4), manusia dengan viremia dan yang rentan terhadap infeksi virDen), nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer dan sekunder, serta faktor lingkungan.
Faktor lingkungan antara lain lingkungan fisik, klimatologis, demografis, sosial ekonomi dan perilaku penduduk, yang mempengaruhi kepadatan (densitas) nyamuk vektor DBD.
SIG: Aplikasinya untuk studi epidemiologis DBD
Jadi secara epidemiologis, data atau informasi lingkungan geografis, termasuk penting dalam studi epidemiologis dan untuk pemantauan sebaran DBD.
Sebagai contoh, di Bangkok, jumlah kasus DBD sangat dipengaruhi oleh variasi suhu udara setempat yang diduga kuat berkaitan dengan kapasitas vektorial Ae. aegypti dan Ae. albopictus.
Data suhu (dan kelembaban) udara di suatu wilayah endemik DBD, merupakan salah satu database penting dalam sistem informasi DBD, atau sistem informasi geografis (SIG), karena informasi itu menyangkut aspek geografis.
DBD: Data Spasial dan Database SIG
Dalam hal spasial (keruangan), sebaran DBD bergantung kepada adanya nyamuk vektornya, dan adanya manusia sebagai inang virDen, yang viremik atau rentan terhadap infeksi dengan virDen.
Database SIG yang khusus menyangkut vektor Dengue, misalnya, bisa dikategorikan dalam: Dengue vector Info-base.
Studi Sebaran DBD: Misalnya akan dilakukan di DIY
Studi epid DBD secara khusus untuk memahami sebaran spasialnya, diperlukan data makroepidemiologis sebagai data digital, data satelit dan GPS yang diintegrasikan ke dalam database SIG.
Data yang diperlukan meliputi: (1) inderaja digital, (2) NDVI, (3) data perbatasan kabupaten yang didigitalkan, (4) data kasus DBD tiap kabupaten, (5) data kependudukan, dan (6) insidensi DBD per 100 ribu penduduk.
Penjelasan:
1) Data digital inderaja diperoleh dengan satelit, misalnya satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang menggunakan kelengkapan alat AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer).
2)Data NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Ini merupakan transformasi data dari visible channel dan infra-red channel, yang diperoleh dengan satelit NOAA. NDVI terbukti berkorelasi tinggi dengan green-leaf biomass dan mewakili kapasitas fotosintetik dari wilayah (area) yang diukur.
Data NDVI yang diperhitungkan pada tempat-tempat yang dituju pada rangkaian waktu (tanggal). Misalnya: Agustus 2005 sampai Juli 2006.
Data NDVI dari bermacam-macam tanggal pengukuran kemudian disusun dengan memilih NDVI mana yang tertinggi untuk tiap lokasi (desa). Data ini kemudian dipakai dalam pembuatan thematic raster base map yang menunjukkan insidensi DBD per kabupaten. Raster map ditunjukkan dengan latitude/altitude coordinate system.
Data NDVI juga untuk menghitung forest cover di tiap kabupaten dengan menggunakan metode klasifikasi, misalnya untuk memetakan vektor dan forest cover.
3) Data perbatasan kabupaten didigitalkan dengan menggunakan Map-Info software.
4) Data sebaran (%) kasus DBD di kabupaten-kabupaten diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Provinsi
5) Data kependudukan kabupaten diperoleh dari Dinas Kependudukan Kabupaten atau Provinsi.
6) Insidensi DBD diperhitungkan sebagai jumlah kasus baru yang dilaporkan per 100 ribu penduduk.
Data mikroepidemiologis untuk SIG
Ini meliputi data di tingkat desa (unit studi terkecil), yaitu adanya kasus DBD tiap desa (misal ditetapkan 3 desa), dan letak (posisi) rumah di masing-masing desa.
Untuk pemetaan, posisi rumah ditetapkan dengan alat GPS, misalnya: Trimble Geo-explores GPS) sebagai rover unit. Untuk base station digunakan alat lain, misalnya: Trimble Pathfinder Pro XL GPS instrument.
Kedua jenis data tersebut diintegrasikan secara simultan, misalnya dengan alat Trimble software.
ANALISIS STATISTIK
Data yang terkumpulkan dianalis dengan analisis regressi antara insidensi DBD dan persen forest area (forest cover) dihitung dengan program SPSS.
Kerangka Kerja Aplikasi SIG untuk Pemantauan Vektor DBD
SIG adalah kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer yang dapat digunakan untuk keperluan input, menyimpan, mengolah atau menganalisis, menampilkan hasilnya (output) data geografis yang terkumpul dalam bentuk database geografis.
Data Geografis
Data geografis merupakan basis operasi
SIG. Fungsi dan efisiensi oprasional SIG sangat bergantung pada data geografis yang rinci dan akurat.
Database geografis terdiri dari dua tipe:
Grafik (peta) yang merupakan catatan koordinat dan hubungan spasial antar lokasi pada peta; gambar polygon, misalnya mewakili data wilayah dengan insidensi DBD yang tinggi dan hubungan spasialnya dengan lokasi lain yang endemik atau non-endemik DBD;
Alfa-numerik (atribut) merupakan catatan atribut (hal apa) yang menyangkut suatu hal; atribut suatu parsel, bentuk polygon atau yang lain, misalnya menggambarkan pemukiman penduduk, besarnya lahan kosong, tempat perkembangbiakan nyamuk, dsb.
Pada umumnya, suatu SIG menggunakan database management system (DBMS) untuk penyimpanan dan manajemen informasi atribut.
Untuk sejumlah struktur database tersedia, misalnya jejaring, ada hubungan antar data yang dianalisis dengan SIG, dan hubungan yang sifatnya hirarkial antar kelompok data SIG yang lain.
Produk khas program komputer yang sifatnya relational adalah dBase dan ARC/INFO.
Produk SIG
Produk SIG sebagai output hasil analsis adalah Peta tematik digital. Ini adalah peta yang telah diformat digital yang mudah terbaca pada monitor komputer.
Keunggulan peta produk SIG, dibandingkan dengan peta produk kerja tradisional, adalah:
1. mudah perawatan / pemeliharaannya;
2. mudah penyimpanan dan penayangan /
reproduksinya, karena disimpan dalam hard-
disc komputer;
3. memudahkan overlaying beberapa peta yang berbeda
skalanya;
4. tidak ada beban untuk mengupdate setiap waktu.
TOPOLOGI
Topologi adalah teknik matematis untuk mencatat hubungan spasial dari unsur-unsur geografis, yang dapat berupa titik, garis atau area.
Titik untuk menunjukkan lokasi suatu struktur bangunan geografis kecil.
Garis untuk menunjukkan unsur geografis yang tidak begitu penting, misalnya jalan dan sungai.
Area dalam bentuk poligon tertutup yang menunjukkan suatu lokasi atau hal yang sifatnya homogen.
Kegunaan Topologi
Topologi sangat bermanfat dalam SIG
karena:
1. Ruangan untuk penyimpanan data berkurang dan prosesing SIG sangat efisien;
2. Tugas-tugas seperti analisis jejaring atau map overlaying dapat dilaksanakan lebih efisien
Tiga Konsep Dasar Topologi
1. Connectivity: arc-node topologi menentukan hubungan antara nodus dan area. Titik-titik antara nodus disebut vertices, menentukan bentuk suatu arcus. Ujung arcus disebut nodus. Bermacam arcus berhubungan pada nodus.
2. Penentuan polligon: poligon adalah rangkaian dari arcus.
3. Contiguity: suatu arcus ditentukan oleh dua nodi, dari-nodus dan ke-nodus. Tiap arcus mempunyai jurusan (arah). Contiguity adalah penentuan topologi kanan-kiri dari suatu arcus. Poligon yang terletak di kanan dan kiri suatu arcus dicatat untuk tiap arcus.
Pada ARC/INFO tiga basik konsep untuk membangun topologi adalah:
1. Spatial manipulation: perhitungan panjang, area atau perimeter, konversi kordinat, dan analisis proksimal,
2. Spatial analysis: polygon overlay, dan konstruksi buffer atau koridor;
3. Digital terrain analysis: seperti perhitungan slope, analisis aspek, konstruksi 4. kontour atau analisis waktu-jarak;
5. Network analysis: meliputi seleksi route optimal, dan analisis waktu-jarak.
Kerangka Sistem Pemantauan Vektor DBD
Karena kebanyakan data vektor DBD terkait
dengan distribusi geografis, konsep dan perangkat lunak SIG digunakan sebagai basis untuk membangun kerangka sistem pemantauan.
Database relasional untuk pemantauan vektor DBD dibuat untuk:
1. pemantauan peningkatan densitas vektor;
2. memahami distribusi habitat larva Aedes;
3. pelaksanaan pemberantasan DBD;
4. supervisi kasus-kasus DBD;
5. mendukung penyelidikan dan pengambilan
keputusan pemerintah dalam penetapan KLB DBD;
Database Geografis DBD
Database meliputi dua peta yang dapat
dioverlay:
Peta jalan-jalan, dan
Peta tanah kosong, tanpa hunian.
Data geogarfis itu dapat diperoleh dengan foto-udara atau satelit yang dibuat digital, atau lewat Google Earth.
Data atributnya meliputi nama jalan-jalan, nama kampung, panjang jalan, dsb.
Data yang menunjukkan atribut lain juga disimpan, misalnya: densitas vektor, insidensi kasus DBD, tempat perkembangbiakan vektor, sebaran kasus DBD, dsb.
Untuk oprasional SIG, kita dapat gunakan PC ARC/INFO.
Suatu prototip Sistem Pemantauan Vektor DBD dapat dibuat.
Manajemen Database
Atribut gambaran geografis dipertahankan dalam database relasional.
Manajemen database dalam PC ARC/INFO adalah dBase.
Juga sistem informasi yang digital, yang menyangkut vektor DBD, disimpan dalam satu sistem.
Untuk itu dibuat menu-driven data management system untuk manipulasi data.
Untuk kerja rutin data management dapat dibuka lewat menu DATABASE.
Interfacing dengan program eksternal
Untuk keperluan analisis, modeling dan peramalan KLB DBD, beberapa program eksternal seperti program statistik (SPSS) di luar SIG dapat digunakan. Hubungan antar program komputer dalam hal perhitungan statistik ini dapat dilaksanakan, misalnya antara PC ARC/INFO dan Aplikasi DOS.
Setelah selesai perhitungan statistik, dll, aplikasi DOS diakhiri, control kemudian kembali ke SIG lagi, dan data hasil perhitungan itu disimpan.
Mengenai Saya
- BLOG MATA KULIAH KESEHATAN LINGKUNGAN
- selamat datang di blog materi kuliah kesehattan lingkungan,, blog ini berisi tentang materi-materi kuliah yang ada di jurusan kesehatan lingkungan dan bertujuan mempermudah mahasiswa kesehatan lingkungan dalam mencari materi-materi kuliah. semoga blog ini bermanfaat bagi yang membaca, khususnya bagi mahasiswa kesehatan lingkungan sendiri..
Tampilkan postingan dengan label entomologi (semester 1). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entomologi (semester 1). Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Januari 2011
SEMUT
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon.
Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis.
Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka.
MORFOLOGI SEMUT
Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut).
Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole).
Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud). dalam petiole).
Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Semut terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis.
Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat menguasai dan memakai sebuah daerah luas untuk mendukung kegiatan mereka.
MORFOLOGI SEMUT
Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma (dada), dan metasoma (perut).
Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel) di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang kurang abdominal segmen dalam petiole).
Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud). dalam petiole).
Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Pinjal
Ciri-Ciri :
- Merupakan serangga kecil tanpa sayap dan badannya pipih lateral
- Abdomen terdiri dari 10 segmen dan 3 segmen yang terakhir membentuk Kelamin.
- Metamorphosis sempurna.
- Mempunyai 7 pasang spiracle (lubang infuse) atau stigma pada thorax.
- Antenanya pendek dan terdiri dari 3 segmen
1. Kepala
Terdiri dari bagian anterior dan Posterior, terpisah oleh satu lekuk miring pada masing-masing posisi yaitu fossa sungut. Bagian presungut dari kepala mengandung bagian-bagian mulut, maupun mata, dan duri-duri gena apabila ini ada. Mata berfariasi mulai dari yang berkembangbiak sampai yang sama sekali tidak ada, dan menyerupai mata tunggal strukturnya. Duri-duri gena mungkin ada atau tidak. Bila didapatkan mungkin tersusun dari dua sampai lima belas duri pada masing-masing sisi. Pada beberapa pinjal sebuah tentorium yang linear mungkin terlihat mengarah ke bagian anterior di muka mata. Daerah fronts kepala biasanya mengandung sebuah jendolan fronts. Ujung-ujung bagian atas dari lekuk sungut kadang-kadang dihubungkan oleh sutura antarsungut dengan tepi-tepi yang mengeras bagian dalam. Secara kolektif struktur-struktur ini membentuk falks (struktur bulan sabit).
2. Thoraks
Protoraks agak berbentuk huruf L, terdiri dari sebuah pronotum dorsal yang melengkung dan prosternosom yang berbentuk tala yang terletak di sebelah ventral. Batas belakang pronotum seringkali mengandung satu sisir dari duri-duri yang berpigmen. Sklerit plerosternum mesotoraks biasanya terbagi menjadi sebuah mesepis terno anterior dan satu mesepimeron posterior oleh satu batang pleura vertical. Metatoraks juga mempunyai satu batang pleura, tetapi ini mungkin menyusut atau hilang pada pinjal-pinjal yang telah hilang kemampuannya untuk meloncat.
3. Tungkai-Tungkai
Rambut kaku yang berbentuk duri pada koksa-koksa adalah rambut-rambut yang gemuk, biasanya terletak pada ujung koksa. Garis geligi bagian dalam pada koksa-koksa menyebar, biasanya kelihatan pada specimen yang dijernihkan dengan bahan kimiawi sebagai satu garis yang gelap yang meluas sepanjang koksa.
4. Abdomen
Abdomen adalah sepuluh ruas, tetapi ruas pertama menyusut (tidak mempunyai sebuah sternum), dan ruas-ruas delapan sampai sepuluh dimodifikasi menjadi struktur-struktur paragenital, yang dipakai secara ekstensif pada identifikasi jenis. Beberapa jenis mempunyai sebuah striarium (sebuah daerah striae yang sejajar dan tersusun berdekatan) pada metepimeron atau ruas abdomen dasar. Sensilium adalah satu keping yang terletak pada ujung abdomen pada sisi dorsal tubuh, tepat dibelakang tergum abdomen akhir yang tidak mengalami modifikasi. Rambut-rambut antepigidium adalah rambut-rambut yang besar yang terletak tepat di muka sensilium.
Daur Hidup
* Tahap Telur
Seekor pinjal betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan peliharaan anda. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan anda dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor pinjal betina dapat bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya.
* Tahap Larva
Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap sekitar rumah anda dan makan dari kotoran kutu loncat ( darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kempongpong dimana mereka tumbuh menjadi pupae.
* Tahap Pupa
Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun.
* Tahap Dewasa
Pinjal dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhnya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu.
Ada beberapa obat yang dapat memutus siklus ini dengan membunuh kutu dewasa sebelum mereka bertelur. Lalu terus menyediakan perlindungan yang terus menerus terhadap kutu.
Jenis – jenis penyakit yang diakibatkan oleh pinjal
PES
Pes merupakan penyakit Zoonosa terutama pada tikus dan rodent lain dan dapat ditularkan kepada manusia. Pes juga merupakan penyakit yang bersifat akut disebabkan oleh kuman/bakteri. Selain itu pes juga dikenal dengan nama Pesteurellosis atau Yersiniosis/Plague.
Penyebab pes
Pes disebablan oleh :
• Kuman/BAKTERI Yersinia pestis(Pasteurella pestis).
• Kuman berbentuk batang,ukuran 1,5-2X0,5-0,7 mikron.
• Bersifat bipolar,non motil,non sporing.
• Gram negatif
• Pada suhu 280C merupakan suhu optimun tetapi kapsul terbentuk tidak sempurna
• Pada shu 370C merupakan suhu yang terbaik bagi pertumbuhan bakteri tersebut.
Vektor pes
Vektor pes adalah pinjal.Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla cheopis.culex iritans,Neopsylla sondaica, dan Stivalus cognatus.
Reservoir
Reservoir utama dari penyakit pes adalah hewan –hewan rodent (tikus,kelinci).Kucing di Amerika juga pada bajing.
Cara penularan
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent.Kuman-kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan.
1. Penularan pes secara eksidental dapat terjadi pada orang – orang yang bila digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif.Ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja di hutan,ataupun pada orang-orang yang mengadakan rekreasi/camping di hutan.
2. Penularan pes ini dapat terjadi pada para yang berhubungan erat dengan tikus hutan, misalnya para Biologi yang sedang mengadakan penelitian di hutan, dimana ianya terkena darah atau organ tikus yang mengandung kuman pes.
3. Kasus yang umum terjadi dimana penularan pes pada orang karena digigit oleh pinjal infeksi setelah menggigit tikus domestik/komersial yang mengandung kuman pes
4. Penularan pes dari tikus hutan komersial melalui pinjal. Pinjal yang efektif kemudian menggigit manusia.
5. Penularan pes dari orang ke orang dapat pula terjadi melalui gigitan pinjal manusia Culex Irritans (Human flea)
6. Penularan pes dari orang yang menderita pes paru-paru kepada orang lain melalui percikan ludah atau pernapasan
Pada no.1s/d5,penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo.Pes bubo dapat berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes)
Masa Inkubasi
Masa inkubasi untuk penyakit pes bubo adalah 2-6 hari, sedang masa inkubasi untuk pes paru paru adalah 2-4 hari.
Gejala klinik pes Bubo
1. Demam tinggi
2. Tubuh menggigil
3. Perasaan tidak enak,malas
4. Nyeri otot
5. Sakit Kepala hebat
6. Pembengkakan kelenjar lipat paha,ketiak,dan leher (bubo sebesar buah duku bentuk oval dan lunak,serta nyeri)
7. Pembengkakan kelenjar limpa
8. Serangan tiba-tiba
Pes Pneumonik
1. Batuk hebat
2. Berbuih air liur berdarah
3. Susah bernafas
4. Sesak nafas
Diagnosis
Diagnosis pes:
1. Diagnosis lapangan :
Diagnosis di lapangan ditemukan adanya tikus mati tanpa sebab-sebab yang jelas (rat fall) di daerah fokus pes atau bekas fokus pes.
2. Diagnosis Klinis :
Adanya demam tanpa sebab-sebab yang jelas (FUO = Fever Unkwon Origin) Timbul bubo/mringkil/sekelan (pembengkakan kelenjar) sebesar buah duku pada leher/ketiak/selangkangan.
Batuk darah mendadak tanpa tanpa gejala yang jelas sebelumnya
3. Diagnosa Laboratorium :
Macam-macam pemeriksaan yang dilakukan laboratorium adalah:
1. Pemeriksaan Serologi :
Spesimen yang diperiksa adalah serum,yang berasal dari:
• Rodent (tikus)
• Manusia
• Species hewan lain seperti anjing,kucing
•Spesimen hewan, manusia dinyatakan positif pada tikus I :128.
2. Pemeriksaan Bakteriologi
Sepeciman yang diperiksa:
• Untuk manusia :darah,bubo,sputum
• Organ tikus:limpa,paru,hati
• Pinja
Cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh pinjal
PENGOBATAN
1. Untuk tersangka pes
a. Tetracycline 4×250 mg biberikan selama 5 hari berturut-turut atau
b. Cholamphenicol 4×250 mg diberikan selama 5 hari berturut-turut
2. Untuk Penderita Pes
Streptomycine dengan dosis 3 gram/hari (IM) selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis dikurangi menjadi 2 garam/hari selama 5 hari berturut-turut.Setelah panas hilang dilanjutkan dengan pemberian :
a. Tetracycline 4-6 gram/hari selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut atau
b. Chlomphenicol 6-8 gram/hari selama 5 hari berturut –turut, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut.
3. Untuk pencegahan terutama ditujukan pada:
a. Penduduk yang kontak (serumah) dengan pendeita pes bobo.
b. Seluruh penduduk desa/dusun/RW jika ada penderita pes paru
Tetapi yang dianjurkan adalah dengan pemberian Tertracycline 500mg/hari selama 10 hari berturut-turut
Sumber : Petunjuk Pemberantasan Pes Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI, direktorat jendral PPM&PL tahun 2000
PEMBERANTASAN PINJAL
- terhadap lingkungan hidup digunakan larutan minyak tanah, Diazinon, Lindane 1%, bubuk (1 nertdust), Malathion 10%, triklofin 1%.Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan cara mengurangi atau mencegah terjadinya kontak dengan tikus serta pinjalnya
Peran keluarga sangat penting dalam pencegahan penyakit pes demi terciptanya keluarga yang sehat dan bersih dan masing masing anggota keluarga menjaga kebersihan.
- terhadap hewan rumah digunakan bedak (Malathion 4%, atau reterion 10%).
Ditambah dengan pengobatan, langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah kutu loncat anda menyerang hewan peliharaan anda:
• Menyedot menggunakan vaccum
Seringlah menyedot di daerah dimana saja hewan peliharaan anda kunjungi, khususnya di mobil jika anda sering berpergian, daerah berkarpet, dan perabotan yang sering dikunjungi oleh hewan peliharaan anda supaya semua kutu termasuk telur, dan pupae nya dibersihkan sebanyak mungkin.
• Pencucian
Cucilah tempat tidur hewan peliharaan anda, kasur, selimut dan barang lainnya dengan air panas jika memungkinkan.
• Penyemprotan Lingkungan
Ada beberapa macam spray/semprotan yang tersedia yang bertujuan membunuh kutu loncat di lingkungan sekitarnya.
Kebiasaan hidup
Habitat pinjal adalah binatang seperti kucing, tikus, dan anjing
Jenis – jenis pinjal
Pinjal manusia (Pulex Irritans)
Pinjal kucing
Pinjal tikus (Xenopsylla cheopis)
Pinjal anjing
- Merupakan serangga kecil tanpa sayap dan badannya pipih lateral
- Abdomen terdiri dari 10 segmen dan 3 segmen yang terakhir membentuk Kelamin.
- Metamorphosis sempurna.
- Mempunyai 7 pasang spiracle (lubang infuse) atau stigma pada thorax.
- Antenanya pendek dan terdiri dari 3 segmen
1. Kepala
Terdiri dari bagian anterior dan Posterior, terpisah oleh satu lekuk miring pada masing-masing posisi yaitu fossa sungut. Bagian presungut dari kepala mengandung bagian-bagian mulut, maupun mata, dan duri-duri gena apabila ini ada. Mata berfariasi mulai dari yang berkembangbiak sampai yang sama sekali tidak ada, dan menyerupai mata tunggal strukturnya. Duri-duri gena mungkin ada atau tidak. Bila didapatkan mungkin tersusun dari dua sampai lima belas duri pada masing-masing sisi. Pada beberapa pinjal sebuah tentorium yang linear mungkin terlihat mengarah ke bagian anterior di muka mata. Daerah fronts kepala biasanya mengandung sebuah jendolan fronts. Ujung-ujung bagian atas dari lekuk sungut kadang-kadang dihubungkan oleh sutura antarsungut dengan tepi-tepi yang mengeras bagian dalam. Secara kolektif struktur-struktur ini membentuk falks (struktur bulan sabit).
2. Thoraks
Protoraks agak berbentuk huruf L, terdiri dari sebuah pronotum dorsal yang melengkung dan prosternosom yang berbentuk tala yang terletak di sebelah ventral. Batas belakang pronotum seringkali mengandung satu sisir dari duri-duri yang berpigmen. Sklerit plerosternum mesotoraks biasanya terbagi menjadi sebuah mesepis terno anterior dan satu mesepimeron posterior oleh satu batang pleura vertical. Metatoraks juga mempunyai satu batang pleura, tetapi ini mungkin menyusut atau hilang pada pinjal-pinjal yang telah hilang kemampuannya untuk meloncat.
3. Tungkai-Tungkai
Rambut kaku yang berbentuk duri pada koksa-koksa adalah rambut-rambut yang gemuk, biasanya terletak pada ujung koksa. Garis geligi bagian dalam pada koksa-koksa menyebar, biasanya kelihatan pada specimen yang dijernihkan dengan bahan kimiawi sebagai satu garis yang gelap yang meluas sepanjang koksa.
4. Abdomen
Abdomen adalah sepuluh ruas, tetapi ruas pertama menyusut (tidak mempunyai sebuah sternum), dan ruas-ruas delapan sampai sepuluh dimodifikasi menjadi struktur-struktur paragenital, yang dipakai secara ekstensif pada identifikasi jenis. Beberapa jenis mempunyai sebuah striarium (sebuah daerah striae yang sejajar dan tersusun berdekatan) pada metepimeron atau ruas abdomen dasar. Sensilium adalah satu keping yang terletak pada ujung abdomen pada sisi dorsal tubuh, tepat dibelakang tergum abdomen akhir yang tidak mengalami modifikasi. Rambut-rambut antepigidium adalah rambut-rambut yang besar yang terletak tepat di muka sensilium.
Daur Hidup
* Tahap Telur
Seekor pinjal betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan peliharaan anda. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan anda dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor pinjal betina dapat bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya.
* Tahap Larva
Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap sekitar rumah anda dan makan dari kotoran kutu loncat ( darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kempongpong dimana mereka tumbuh menjadi pupae.
* Tahap Pupa
Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun.
* Tahap Dewasa
Pinjal dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhnya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu.
Ada beberapa obat yang dapat memutus siklus ini dengan membunuh kutu dewasa sebelum mereka bertelur. Lalu terus menyediakan perlindungan yang terus menerus terhadap kutu.
Jenis – jenis penyakit yang diakibatkan oleh pinjal
PES
Pes merupakan penyakit Zoonosa terutama pada tikus dan rodent lain dan dapat ditularkan kepada manusia. Pes juga merupakan penyakit yang bersifat akut disebabkan oleh kuman/bakteri. Selain itu pes juga dikenal dengan nama Pesteurellosis atau Yersiniosis/Plague.
Penyebab pes
Pes disebablan oleh :
• Kuman/BAKTERI Yersinia pestis(Pasteurella pestis).
• Kuman berbentuk batang,ukuran 1,5-2X0,5-0,7 mikron.
• Bersifat bipolar,non motil,non sporing.
• Gram negatif
• Pada suhu 280C merupakan suhu optimun tetapi kapsul terbentuk tidak sempurna
• Pada shu 370C merupakan suhu yang terbaik bagi pertumbuhan bakteri tersebut.
Vektor pes
Vektor pes adalah pinjal.Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla cheopis.culex iritans,Neopsylla sondaica, dan Stivalus cognatus.
Reservoir
Reservoir utama dari penyakit pes adalah hewan –hewan rodent (tikus,kelinci).Kucing di Amerika juga pada bajing.
Cara penularan
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent.Kuman-kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi,dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan.
1. Penularan pes secara eksidental dapat terjadi pada orang – orang yang bila digigit oleh pinjal tikus hutan yang infektif.Ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja di hutan,ataupun pada orang-orang yang mengadakan rekreasi/camping di hutan.
2. Penularan pes ini dapat terjadi pada para yang berhubungan erat dengan tikus hutan, misalnya para Biologi yang sedang mengadakan penelitian di hutan, dimana ianya terkena darah atau organ tikus yang mengandung kuman pes.
3. Kasus yang umum terjadi dimana penularan pes pada orang karena digigit oleh pinjal infeksi setelah menggigit tikus domestik/komersial yang mengandung kuman pes
4. Penularan pes dari tikus hutan komersial melalui pinjal. Pinjal yang efektif kemudian menggigit manusia.
5. Penularan pes dari orang ke orang dapat pula terjadi melalui gigitan pinjal manusia Culex Irritans (Human flea)
6. Penularan pes dari orang yang menderita pes paru-paru kepada orang lain melalui percikan ludah atau pernapasan
Pada no.1s/d5,penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo.Pes bubo dapat berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes)
Masa Inkubasi
Masa inkubasi untuk penyakit pes bubo adalah 2-6 hari, sedang masa inkubasi untuk pes paru paru adalah 2-4 hari.
Gejala klinik pes Bubo
1. Demam tinggi
2. Tubuh menggigil
3. Perasaan tidak enak,malas
4. Nyeri otot
5. Sakit Kepala hebat
6. Pembengkakan kelenjar lipat paha,ketiak,dan leher (bubo sebesar buah duku bentuk oval dan lunak,serta nyeri)
7. Pembengkakan kelenjar limpa
8. Serangan tiba-tiba
Pes Pneumonik
1. Batuk hebat
2. Berbuih air liur berdarah
3. Susah bernafas
4. Sesak nafas
Diagnosis
Diagnosis pes:
1. Diagnosis lapangan :
Diagnosis di lapangan ditemukan adanya tikus mati tanpa sebab-sebab yang jelas (rat fall) di daerah fokus pes atau bekas fokus pes.
2. Diagnosis Klinis :
Adanya demam tanpa sebab-sebab yang jelas (FUO = Fever Unkwon Origin) Timbul bubo/mringkil/sekelan (pembengkakan kelenjar) sebesar buah duku pada leher/ketiak/selangkangan.
Batuk darah mendadak tanpa tanpa gejala yang jelas sebelumnya
3. Diagnosa Laboratorium :
Macam-macam pemeriksaan yang dilakukan laboratorium adalah:
1. Pemeriksaan Serologi :
Spesimen yang diperiksa adalah serum,yang berasal dari:
• Rodent (tikus)
• Manusia
• Species hewan lain seperti anjing,kucing
•Spesimen hewan, manusia dinyatakan positif pada tikus I :128.
2. Pemeriksaan Bakteriologi
Sepeciman yang diperiksa:
• Untuk manusia :darah,bubo,sputum
• Organ tikus:limpa,paru,hati
• Pinja
Cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh pinjal
PENGOBATAN
1. Untuk tersangka pes
a. Tetracycline 4×250 mg biberikan selama 5 hari berturut-turut atau
b. Cholamphenicol 4×250 mg diberikan selama 5 hari berturut-turut
2. Untuk Penderita Pes
Streptomycine dengan dosis 3 gram/hari (IM) selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis dikurangi menjadi 2 garam/hari selama 5 hari berturut-turut.Setelah panas hilang dilanjutkan dengan pemberian :
a. Tetracycline 4-6 gram/hari selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut atau
b. Chlomphenicol 6-8 gram/hari selama 5 hari berturut –turut, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut.
3. Untuk pencegahan terutama ditujukan pada:
a. Penduduk yang kontak (serumah) dengan pendeita pes bobo.
b. Seluruh penduduk desa/dusun/RW jika ada penderita pes paru
Tetapi yang dianjurkan adalah dengan pemberian Tertracycline 500mg/hari selama 10 hari berturut-turut
Sumber : Petunjuk Pemberantasan Pes Di Indonesia, Departemen Kesehatan RI, direktorat jendral PPM&PL tahun 2000
PEMBERANTASAN PINJAL
- terhadap lingkungan hidup digunakan larutan minyak tanah, Diazinon, Lindane 1%, bubuk (1 nertdust), Malathion 10%, triklofin 1%.Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan cara mengurangi atau mencegah terjadinya kontak dengan tikus serta pinjalnya
Peran keluarga sangat penting dalam pencegahan penyakit pes demi terciptanya keluarga yang sehat dan bersih dan masing masing anggota keluarga menjaga kebersihan.
- terhadap hewan rumah digunakan bedak (Malathion 4%, atau reterion 10%).
Ditambah dengan pengobatan, langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah kutu loncat anda menyerang hewan peliharaan anda:
• Menyedot menggunakan vaccum
Seringlah menyedot di daerah dimana saja hewan peliharaan anda kunjungi, khususnya di mobil jika anda sering berpergian, daerah berkarpet, dan perabotan yang sering dikunjungi oleh hewan peliharaan anda supaya semua kutu termasuk telur, dan pupae nya dibersihkan sebanyak mungkin.
• Pencucian
Cucilah tempat tidur hewan peliharaan anda, kasur, selimut dan barang lainnya dengan air panas jika memungkinkan.
• Penyemprotan Lingkungan
Ada beberapa macam spray/semprotan yang tersedia yang bertujuan membunuh kutu loncat di lingkungan sekitarnya.
Kebiasaan hidup
Habitat pinjal adalah binatang seperti kucing, tikus, dan anjing
Jenis – jenis pinjal
Pinjal manusia (Pulex Irritans)
Pinjal kucing
Pinjal tikus (Xenopsylla cheopis)
Pinjal anjing
vector control
Jenis-jenis kegiatan General Pest Control
1. Kegiatan Pest Control :
Bersifat Residual
- Penyemprotan
- Pengkabutan
- Pengkalisan
- Pengumpanan
Bersifat Non Residual
- Pengasapan
- Fumigasi : Container, gudang, kapal, silo dll.
2. Termite Control :
- Sistem Konvensional
a. Pra-konstruksi
- Trenching
b. Pasca-Konstruksi
- Trenching
- Rodding
- Sistem Pengumpanan (baiting)
3. Rodent Control :
- Pengumpanan
- Trapping
- Emposan
4. PENGENDALIAN BEBAS KIMIA
Hama dapat dikendalikan secara biologi, mekanis dan elektris serta kontrol lingkungan
- Biologi dengan predator alami (sriti)
- Mekanis dengan perangkap
- Elektris dengan electric killer
- Kontrol atmosfir
- Kontrol temperatur
Ke 4 (empat) kegiatan diatas dapat dikatakan sebagai : PENGENDALIAN HAMA TERPADU
Usaha pengendalian hama dengan memperhatikan seluruh aspek yang mempengaruhi kehidupan hama
Diantaranya:
1. biologi hama
2. teknik pengendalian
3. kondisi lingkungan
Infestasi Hama
Infestasi Aktif
1. “Bau makanan”
2. Air dan kelembaban
3. Penerangan luar
4. Kehangatan
Merayap - terbang - berlari
Infestasi Hama
Infestasi Pasif
1. Baju, peralatan dsb.
2. Ruang Penyimpanan, infestasi dari komoditi sebelumnya
3. Kemasan, sakc, kantung, kotak dsb.
4. Transportasi, kapal, truk, kereta, container, dsb.
5. Komoditi yang terserang, import, perpindahan komoditi
RODENT / TIKUS
JENIS TIKUS :
1. Ratus-ratus diardii (tikus rumah)
2. Mus-musculus castareus (tikus piti)
3. Bandicota indica (tikus wirog)
BIOLOGI DAN PERILAKU
-Membentuk koloni. -Sarang rapi dan terlindung. -Mengerat.
-Jelajah 50 – 100 mtr. -Omnivora.
-Cepat beradaptasi.
-Aktif malam hari.
-Cerdik dan punya sifat mudah jera.
LINGKUNGAN YANG DISUKAI.
-Terlindung dari gangguan
-Didalam gudang
-Di atas plafon bangunan
-Daerah hutan di sekitar pemukiman
DAMPAK NEGATIF
-Merusak produk pertanian
-Inang penyakit pes, typhus, disentri,rabies.
-Mengerat perabot ( AC,PC, kabel mesin dll )
PENGENDALIAN
1. Preventif
- Rodent proofing.
- Sanitasi.
2. Kuratif / Eradikasi
- Peracunan dengan umpan
- Trapping
- Emposan
COCKROACH / KECOA
GERMAN COCKROACH (Blattela germanica)
Panjang (dewasa) : 12-15 mm
Warna tubuh coklat
2 garis gelap di kepala
Sayap sepanjang badan
Biasa hidup di dalam ruangan
Beraktivitas dengan berlari
Omnivora & Cannibal
Nocturnal / keluar pada saat situasi gelap / malam hari
Blattela germanica
1. Kantung telur 4-8 @ 35-40 telur
2. Telur dieram 1 bulan
3. Perkembangan nympha 6 mg - 6 bl
4. Berganti cangkang 5-7 X
Blatta orientalis
(Oriental Cockroach)
Panjang : 25-30 mm
Warna hitam/coklat gelap
Betina tidak bersayap
Sayap jantan ¾ abdomen
Ootheca 5-10 @ 16 telur
Telur menetas 2 bulan
Hidup indoor & outdoor/semak
Perkembangan nimpha 5-9 bulan
Periplaneta americana
(American cockroach)
Ciri – ciri american cockroach :
- Panjang 28 – 44 mm
- Warna coklat kemerahan
- Sayap lebih panjang dari badan
- Produksi telur 10 – 15 ootecha @ 6-28
- Telur menetas 1 – 2 bulan
- Perkembangan nympha 5 – 15 bulan
Supella longipalpa
(Brown-banded)
Ciri – ciri brown banded :
- Panjang 10 – 15 mm
- Warna kuning kecoklatan
- Sayap lebih panjang dari badan
- Produksi telur 10 – 20 ootecha selama hidupnya
- Setiap ootecha 16 telur
- Telur menetas 1 bulan lamanya tergantung kondisi
cuaca.
- Perkembangan nimpha 2 – 9 bulan
- Hidup didalam ruangan, terdapat pada perabot dll
Cara Pengendalian
Preventif :
-Sanitasi.
-Penutupan celah / retakan dan saluran air.
Kuratif :
-Non chemical method : (electromagnetic, Ultrasonic,
mechanical vibration devices).
-Chemical method : (residual surface and baiting).
FLIES / LALAT
Calliphora Vomitoria / Blue Bottle
Lucilia Caesar / Green Bottle
Musca Domestica / The Common Housefly
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH LALAT PADA UMUMNYA
PARATYPHOID / TYPHOID (TIPUS).
CHOLERA
DYSENTERY
DIARRHEA
PENYAKIT CACINGAN
Blue Bottle Dan Green Bottle
Ciri – ciri :
- Badan 2 sampai 3 kali lebih besar dari Housefly
- Dibagian atas perut berwarna abu-abu dan hitam
- Siklus hidup 2 – 4 minggu
- Tempat yang disukai : Pembuangan sampah (garbage)dan Kotoran
- Berkembang biak di musim panas
Musca Domestica / The Common Housefly
Ciri-ciri :
-Panjang badan ¼ inch
-Di bagian kepala terdapat 4 garis berwarna abu-abu
-Tempat yang disukai : Pembuangan sampah, bangkai(sebagai tempat telur)
-Siklus hidup 7 – 45 hari
-Berkembang biak pada awal dan akhir musim panas
Cara Pengendalian
Preventif :
Sanitasi : penutupan tempat sampah, menutup makanan yang mengundang datangnya lalat.
Pemasangan lampu ultraviolet, air conditioner, kasa, dll
Kuratif :
- Penyemprotan, pengumpanan, perangkap lem.
MOSQUITO / NYAMUK
- AEDES AEGYPTI
- CULEX SP
- ANOPHELES SP
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI & PERILAKU SECARA UMUM
Perilaku berkembangbiak (breeding habit). Tempat berkembangbiak nyamuk disebut juga tempat perindukan (mosquito breeding places) : telur, larva dan pupa ada di air tempat perindukannya.
Perilaku beristirahat (resting habit).
a. Endofilik : beristirahat didalam rumah (indoor resting). b. Eksofilik : beristirahat dilua rumah (outdoor resting). Tempat tempat yang disukai nyamuk : lembab, gelap, kurang angin dan jauh dari gangguan musuh.
Perilaku menggigit (feeding habit).
a. Endofagik : cenderung menggigit didalam rumah.
b. Eksofagik : cenderung menggigit diluar rumah.
AEDES AEGYPTI
BIOLOGI & PERILAKU
1. PENYEBAB PENYAKIT YELLOW FEVER (PENYAKIT KUNING) AND DENGUE. (DEMAM BERDARAH).
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA.
3. BERTELUR PADA AKHIR MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA AIR BERSIH SEPERTI BAK MANDI, BEKAS KALENG, BOTOL DLL, SEBAGAI TEMPAT BERKEMBANGNYA LARVA.
5. TEBENTUKNYA LARVA 4 HARI SETELAH TELUR MENETAS, 4 – 8 HARI MENJADI PUPA, 5 HARI DARI PUPA MENJADI NYAMUK DEWASA.
6. BERTAHAN HIDUP SELAMA 50 HARI.
7. AKTIFITAS PADA PAGI DAN SORE HARI.
8. JARAK TERBANG KURANG DARI ½ MILE.
CULEX SP
BIOLOGI & PERILAKU CULEX SP
1. PENYEBAB PENYAKIT ENCEPHALITIS (RADANG OTAK).
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA DAN BINATANG BERTULANG BELAKANG.
3. BERTELUR PADA AWAL MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA PERMUKAAN GENANGAN AIR / KUBANGAN DI AREAL TERBUKA DIDAERAH 5. PERKOTAAN DAN PEDESAAN.
6. JUMLAH TELUR 200 – 400.
7. SETELAH TELUR MENETAS, 2 HARI MENJADI LARVA, 8 –10 HARI PUPA SEBELUM MENJADI NYAMUK DEWASA.
8. JARAK TERBANG LEBIH DARI 1 MILE.
ANOPHELES SP
BIOLOGI & PERILAKU ANOPHELES SP
1. PENYEBAB PENYAKIT MALARIA.
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA DAN BINATANG BERTULANG BELAKANG.
3. BERTELUR PADA AWAL MUSIM HUJAN DAN MENJADI NYAMUK DEWASA DIAKHIR MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA AIR BERSIH DI TEMPAT YANG TEDUH DAN TUMBUH-TUMBUHAN.
5. KELUAR HANYA PADA MALAM HARI DARI TEMPAT ISTIRAHATNYA.
6. TELUR MENETAS 1-3 HARI, 5 HARI MENJADI LARVA, 8 –10 HARI PUPA SEBELUM MENJADI NYAMUK DEWASA.
7.JARAK TERBANG 1 MILE.
CARA PENGENDALIAN :
NON CHEMICAL :
- LampuUtraviolet.
- Sanitasi : Penutupan bak air, kuras bak air 3 hari sekali, timbun botol dan kaleng bekas.
USE CHEMICAL :
- Repellent : penolak nyamuk.
- Larvatisida
- Residual surface : insectisida
PESTISIDA
PERKEMBANGAN
Periode 1950 – 1990 (era Organochlorine)
- Chlordane
- Dieldrin
- Heptachlor
Periode 1980 - 1990 (era Organophosphate)
- Phoxim
- Chlorpyrifos
Periode 1990 - 2000 (era Sintetik Piretroid)
- Permethrin
- Cypermethrin
- Alphamethrin
- Fenvalerate
- Cyfluthrin
- Deltamethrin
- Bifenthrin
Periode 2000 - …. (era Senyawa Baru)
- Imidacloprid
- Fipronil
CARA KERJA
1. CHOLINESTERASE INHIBITOR
a Chlorpyrifos
b Phoxim
2. CENTRAL NERVE SYSTEM
a Chlordane d Deltamethrin g Fipronil
b Permethrin e Fenvalerate h Imidacloprid
c Cypermethrin f Bifenthrin
3. CHITINE INHIBITOR
a Hexaflumuron b Diflubenzuron
4. INSECT GROWTH REGULATOR
a Pyriproxifen b Metropene
c Fenoxycarb
INSEKTISIDA IDEAL
- Aktif pada dosis rendah
- Terikat kuat partikel aplikasi dan efektif pada jangka waktu lama
- Tidak mencemari air dan lingkungan
- Toksisitas pada mamalia yang rendah
- Selektif terhadap organisma bukan sasaran
- Volatilitas yang rendah sehingga tidak terpapar di udara
- Cost effective/ekonomis
APLIKASI PESTISIDA
Alternatif terakhir dari pengendalian hama terpadu adalah penggunaan bahan kimia
1. Sangat tergantung pada:
2. Jenis hama
3. Tujuan aplikasi
4. Jenis aplikasi
5. Jenis bahan kimia
6. Kondisi lingkungan
FUMIGASI
1. FUMIGASI CONTAINER
2. FUMIGASI GUDANG
3. FUMIGASI KAPAL
TERMITE CONTROL
1. PENGUMPANAN
2. PENGEBORAN
PERALATAN PENGKABUTAN & PENGASAPAN
1. ULV / cold fogger
2. Thermal fogger
PERALATAN FUMIGASI
1. ALAT PELINDUNG DIRI
2. ALAT UKUR
1. Kegiatan Pest Control :
Bersifat Residual
- Penyemprotan
- Pengkabutan
- Pengkalisan
- Pengumpanan
Bersifat Non Residual
- Pengasapan
- Fumigasi : Container, gudang, kapal, silo dll.
2. Termite Control :
- Sistem Konvensional
a. Pra-konstruksi
- Trenching
b. Pasca-Konstruksi
- Trenching
- Rodding
- Sistem Pengumpanan (baiting)
3. Rodent Control :
- Pengumpanan
- Trapping
- Emposan
4. PENGENDALIAN BEBAS KIMIA
Hama dapat dikendalikan secara biologi, mekanis dan elektris serta kontrol lingkungan
- Biologi dengan predator alami (sriti)
- Mekanis dengan perangkap
- Elektris dengan electric killer
- Kontrol atmosfir
- Kontrol temperatur
Ke 4 (empat) kegiatan diatas dapat dikatakan sebagai : PENGENDALIAN HAMA TERPADU
Usaha pengendalian hama dengan memperhatikan seluruh aspek yang mempengaruhi kehidupan hama
Diantaranya:
1. biologi hama
2. teknik pengendalian
3. kondisi lingkungan
Infestasi Hama
Infestasi Aktif
1. “Bau makanan”
2. Air dan kelembaban
3. Penerangan luar
4. Kehangatan
Merayap - terbang - berlari
Infestasi Hama
Infestasi Pasif
1. Baju, peralatan dsb.
2. Ruang Penyimpanan, infestasi dari komoditi sebelumnya
3. Kemasan, sakc, kantung, kotak dsb.
4. Transportasi, kapal, truk, kereta, container, dsb.
5. Komoditi yang terserang, import, perpindahan komoditi
RODENT / TIKUS
JENIS TIKUS :
1. Ratus-ratus diardii (tikus rumah)
2. Mus-musculus castareus (tikus piti)
3. Bandicota indica (tikus wirog)
BIOLOGI DAN PERILAKU
-Membentuk koloni. -Sarang rapi dan terlindung. -Mengerat.
-Jelajah 50 – 100 mtr. -Omnivora.
-Cepat beradaptasi.
-Aktif malam hari.
-Cerdik dan punya sifat mudah jera.
LINGKUNGAN YANG DISUKAI.
-Terlindung dari gangguan
-Didalam gudang
-Di atas plafon bangunan
-Daerah hutan di sekitar pemukiman
DAMPAK NEGATIF
-Merusak produk pertanian
-Inang penyakit pes, typhus, disentri,rabies.
-Mengerat perabot ( AC,PC, kabel mesin dll )
PENGENDALIAN
1. Preventif
- Rodent proofing.
- Sanitasi.
2. Kuratif / Eradikasi
- Peracunan dengan umpan
- Trapping
- Emposan
COCKROACH / KECOA
GERMAN COCKROACH (Blattela germanica)
Panjang (dewasa) : 12-15 mm
Warna tubuh coklat
2 garis gelap di kepala
Sayap sepanjang badan
Biasa hidup di dalam ruangan
Beraktivitas dengan berlari
Omnivora & Cannibal
Nocturnal / keluar pada saat situasi gelap / malam hari
Blattela germanica
1. Kantung telur 4-8 @ 35-40 telur
2. Telur dieram 1 bulan
3. Perkembangan nympha 6 mg - 6 bl
4. Berganti cangkang 5-7 X
Blatta orientalis
(Oriental Cockroach)
Panjang : 25-30 mm
Warna hitam/coklat gelap
Betina tidak bersayap
Sayap jantan ¾ abdomen
Ootheca 5-10 @ 16 telur
Telur menetas 2 bulan
Hidup indoor & outdoor/semak
Perkembangan nimpha 5-9 bulan
Periplaneta americana
(American cockroach)
Ciri – ciri american cockroach :
- Panjang 28 – 44 mm
- Warna coklat kemerahan
- Sayap lebih panjang dari badan
- Produksi telur 10 – 15 ootecha @ 6-28
- Telur menetas 1 – 2 bulan
- Perkembangan nympha 5 – 15 bulan
Supella longipalpa
(Brown-banded)
Ciri – ciri brown banded :
- Panjang 10 – 15 mm
- Warna kuning kecoklatan
- Sayap lebih panjang dari badan
- Produksi telur 10 – 20 ootecha selama hidupnya
- Setiap ootecha 16 telur
- Telur menetas 1 bulan lamanya tergantung kondisi
cuaca.
- Perkembangan nimpha 2 – 9 bulan
- Hidup didalam ruangan, terdapat pada perabot dll
Cara Pengendalian
Preventif :
-Sanitasi.
-Penutupan celah / retakan dan saluran air.
Kuratif :
-Non chemical method : (electromagnetic, Ultrasonic,
mechanical vibration devices).
-Chemical method : (residual surface and baiting).
FLIES / LALAT
Calliphora Vomitoria / Blue Bottle
Lucilia Caesar / Green Bottle
Musca Domestica / The Common Housefly
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH LALAT PADA UMUMNYA
PARATYPHOID / TYPHOID (TIPUS).
CHOLERA
DYSENTERY
DIARRHEA
PENYAKIT CACINGAN
Blue Bottle Dan Green Bottle
Ciri – ciri :
- Badan 2 sampai 3 kali lebih besar dari Housefly
- Dibagian atas perut berwarna abu-abu dan hitam
- Siklus hidup 2 – 4 minggu
- Tempat yang disukai : Pembuangan sampah (garbage)dan Kotoran
- Berkembang biak di musim panas
Musca Domestica / The Common Housefly
Ciri-ciri :
-Panjang badan ¼ inch
-Di bagian kepala terdapat 4 garis berwarna abu-abu
-Tempat yang disukai : Pembuangan sampah, bangkai(sebagai tempat telur)
-Siklus hidup 7 – 45 hari
-Berkembang biak pada awal dan akhir musim panas
Cara Pengendalian
Preventif :
Sanitasi : penutupan tempat sampah, menutup makanan yang mengundang datangnya lalat.
Pemasangan lampu ultraviolet, air conditioner, kasa, dll
Kuratif :
- Penyemprotan, pengumpanan, perangkap lem.
MOSQUITO / NYAMUK
- AEDES AEGYPTI
- CULEX SP
- ANOPHELES SP
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI & PERILAKU SECARA UMUM
Perilaku berkembangbiak (breeding habit). Tempat berkembangbiak nyamuk disebut juga tempat perindukan (mosquito breeding places) : telur, larva dan pupa ada di air tempat perindukannya.
Perilaku beristirahat (resting habit).
a. Endofilik : beristirahat didalam rumah (indoor resting). b. Eksofilik : beristirahat dilua rumah (outdoor resting). Tempat tempat yang disukai nyamuk : lembab, gelap, kurang angin dan jauh dari gangguan musuh.
Perilaku menggigit (feeding habit).
a. Endofagik : cenderung menggigit didalam rumah.
b. Eksofagik : cenderung menggigit diluar rumah.
AEDES AEGYPTI
BIOLOGI & PERILAKU
1. PENYEBAB PENYAKIT YELLOW FEVER (PENYAKIT KUNING) AND DENGUE. (DEMAM BERDARAH).
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA.
3. BERTELUR PADA AKHIR MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA AIR BERSIH SEPERTI BAK MANDI, BEKAS KALENG, BOTOL DLL, SEBAGAI TEMPAT BERKEMBANGNYA LARVA.
5. TEBENTUKNYA LARVA 4 HARI SETELAH TELUR MENETAS, 4 – 8 HARI MENJADI PUPA, 5 HARI DARI PUPA MENJADI NYAMUK DEWASA.
6. BERTAHAN HIDUP SELAMA 50 HARI.
7. AKTIFITAS PADA PAGI DAN SORE HARI.
8. JARAK TERBANG KURANG DARI ½ MILE.
CULEX SP
BIOLOGI & PERILAKU CULEX SP
1. PENYEBAB PENYAKIT ENCEPHALITIS (RADANG OTAK).
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA DAN BINATANG BERTULANG BELAKANG.
3. BERTELUR PADA AWAL MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA PERMUKAAN GENANGAN AIR / KUBANGAN DI AREAL TERBUKA DIDAERAH 5. PERKOTAAN DAN PEDESAAN.
6. JUMLAH TELUR 200 – 400.
7. SETELAH TELUR MENETAS, 2 HARI MENJADI LARVA, 8 –10 HARI PUPA SEBELUM MENJADI NYAMUK DEWASA.
8. JARAK TERBANG LEBIH DARI 1 MILE.
ANOPHELES SP
BIOLOGI & PERILAKU ANOPHELES SP
1. PENYEBAB PENYAKIT MALARIA.
2. LEBIH SUKA MENYERANG MANUSIA DAN BINATANG BERTULANG BELAKANG.
3. BERTELUR PADA AWAL MUSIM HUJAN DAN MENJADI NYAMUK DEWASA DIAKHIR MUSIM HUJAN.
4. TELUR DILETAKAN PADA AIR BERSIH DI TEMPAT YANG TEDUH DAN TUMBUH-TUMBUHAN.
5. KELUAR HANYA PADA MALAM HARI DARI TEMPAT ISTIRAHATNYA.
6. TELUR MENETAS 1-3 HARI, 5 HARI MENJADI LARVA, 8 –10 HARI PUPA SEBELUM MENJADI NYAMUK DEWASA.
7.JARAK TERBANG 1 MILE.
CARA PENGENDALIAN :
NON CHEMICAL :
- LampuUtraviolet.
- Sanitasi : Penutupan bak air, kuras bak air 3 hari sekali, timbun botol dan kaleng bekas.
USE CHEMICAL :
- Repellent : penolak nyamuk.
- Larvatisida
- Residual surface : insectisida
PESTISIDA
PERKEMBANGAN
Periode 1950 – 1990 (era Organochlorine)
- Chlordane
- Dieldrin
- Heptachlor
Periode 1980 - 1990 (era Organophosphate)
- Phoxim
- Chlorpyrifos
Periode 1990 - 2000 (era Sintetik Piretroid)
- Permethrin
- Cypermethrin
- Alphamethrin
- Fenvalerate
- Cyfluthrin
- Deltamethrin
- Bifenthrin
Periode 2000 - …. (era Senyawa Baru)
- Imidacloprid
- Fipronil
CARA KERJA
1. CHOLINESTERASE INHIBITOR
a Chlorpyrifos
b Phoxim
2. CENTRAL NERVE SYSTEM
a Chlordane d Deltamethrin g Fipronil
b Permethrin e Fenvalerate h Imidacloprid
c Cypermethrin f Bifenthrin
3. CHITINE INHIBITOR
a Hexaflumuron b Diflubenzuron
4. INSECT GROWTH REGULATOR
a Pyriproxifen b Metropene
c Fenoxycarb
INSEKTISIDA IDEAL
- Aktif pada dosis rendah
- Terikat kuat partikel aplikasi dan efektif pada jangka waktu lama
- Tidak mencemari air dan lingkungan
- Toksisitas pada mamalia yang rendah
- Selektif terhadap organisma bukan sasaran
- Volatilitas yang rendah sehingga tidak terpapar di udara
- Cost effective/ekonomis
APLIKASI PESTISIDA
Alternatif terakhir dari pengendalian hama terpadu adalah penggunaan bahan kimia
1. Sangat tergantung pada:
2. Jenis hama
3. Tujuan aplikasi
4. Jenis aplikasi
5. Jenis bahan kimia
6. Kondisi lingkungan
FUMIGASI
1. FUMIGASI CONTAINER
2. FUMIGASI GUDANG
3. FUMIGASI KAPAL
TERMITE CONTROL
1. PENGUMPANAN
2. PENGEBORAN
PERALATAN PENGKABUTAN & PENGASAPAN
1. ULV / cold fogger
2. Thermal fogger
PERALATAN FUMIGASI
1. ALAT PELINDUNG DIRI
2. ALAT UKUR
PENGAWETAN SERANGGA
1. Metode Panning
Metode panning ditujukan pada serangga yang mempunyai tubuh dan bersayap tipis misalnya, kupu-kupu dan lalat.
a. Alat dan bahan yang diperulkan
Alkohol 70%
Kamper/kapur barus
Jarum serangga nomor 02 dan 03
Kertas label
Gabus
Tabung reaksi
Kapas
b. Cara Kerja
1. Matikan serangga dengan menggunakan cloroform
2. Masukkan serangga tersebut ke dalam alkohol70%
3. Serangga dikeringkan sampai benar-benar kering
4. Siapkan jarum serangga tusukkan pada pertengahan dari arah dorsal (punggung) menuju ke arah ventral (perut)
5. Siapkan kertas manila gunting dalm bentuk segitiga lancip, tulis genus serangga dan spesiesnya. Tusuk pada jarum tersebut tepat di bawah serangga yang diawetkan tersebut
6. Serangga yang telah diawetkan disimpan dalam kotak insektarium yang telah diberi kamper/kapur barus, untuk menjaga agar tidak dimakan semut
2. Pembuatan Slide Mikroskop
Metode ini dikhususkan untuk serangga yang kecil yang tubuhnya berpigmen dan harus diperiksa di bawah mikroskop untuk menentukan spesiesnya.
Adapun metode pengawetan serangga seperti ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Pengawetan serangga secara semi permanen
1. Serangga dimatikan dengan cara dipanaskan di atas api dengan suhu 60°C
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan alkohol 70 % kemudian keringkan sampai benar kering
3. Serangga diletakkan di atas preparat dengan posisi yang diinginkan, kemudian teteskan satu tetes Canada balsam tepat di atas serangga yang diawetkan tersebut
4. Tutup dengan kaca penutup secara perlahan-lahan dengan cara menekan pakai jari sampai Canada balsam merata menutup permukaan kaca penutup
b. Pengawetan serangga secara permanen
1. Serangga dimatikan dengan cara pemanasan di atas api 60°C
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan KOH 10%selama 10 jam, untuk mempercepat proses tersebut KOH dipanaskan tetapi tidak boleh menguap, proses ini disebut clearing
3. Sesudah itu dilakukan pengeringan dengan menggunakan alkohol bertingkat dimulai dari 30%, 50%, 70%, 90%, dan 100%. Kemudian dimasukkan ke dalam larutan xylol dalam proses pengeringan ini dibutuhkan waktu masing-masing 10 menit
4. Proses berikutnya adalah proses mounting (melekatkan) untuk melekatkan serangga pada kaca preparat gunakan lem Canada balsam kemudian tutup dengan kaca penutup
3. Pengawetan serangga dengan menggunakan larutan pengawet (formaline)
Pengawetan serangga ini menggunakan bantuan larutan pengawet formaline. Tingkatan formaline disesuaikan dengan kondisi anatomi tubuh serangga yang mau diawetkan, untuk serangga yang berkulit lunak maka prosentase formaline 4% sedangkan untuk serangga yang berkulit tebal maka dapat memakai formaline 10%.
Cara Kerja:
1. Matikan serangga dengan menggunakan cloroform
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan formaline sesuai kadarnya
3. Selama perendaman serangga bisa dibentuk sesuai yang diinginkan
4. Lama perendaman di dalam larutan formaline tergantung struktur tubuh serangga yang diawetkan
5. Setelah waktu terpenuhi serangga hendaknya dijemur di bawah terik sinar matahari, agar bau formaline hilang
Metode panning ditujukan pada serangga yang mempunyai tubuh dan bersayap tipis misalnya, kupu-kupu dan lalat.
a. Alat dan bahan yang diperulkan
Alkohol 70%
Kamper/kapur barus
Jarum serangga nomor 02 dan 03
Kertas label
Gabus
Tabung reaksi
Kapas
b. Cara Kerja
1. Matikan serangga dengan menggunakan cloroform
2. Masukkan serangga tersebut ke dalam alkohol70%
3. Serangga dikeringkan sampai benar-benar kering
4. Siapkan jarum serangga tusukkan pada pertengahan dari arah dorsal (punggung) menuju ke arah ventral (perut)
5. Siapkan kertas manila gunting dalm bentuk segitiga lancip, tulis genus serangga dan spesiesnya. Tusuk pada jarum tersebut tepat di bawah serangga yang diawetkan tersebut
6. Serangga yang telah diawetkan disimpan dalam kotak insektarium yang telah diberi kamper/kapur barus, untuk menjaga agar tidak dimakan semut
2. Pembuatan Slide Mikroskop
Metode ini dikhususkan untuk serangga yang kecil yang tubuhnya berpigmen dan harus diperiksa di bawah mikroskop untuk menentukan spesiesnya.
Adapun metode pengawetan serangga seperti ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a. Pengawetan serangga secara semi permanen
1. Serangga dimatikan dengan cara dipanaskan di atas api dengan suhu 60°C
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan alkohol 70 % kemudian keringkan sampai benar kering
3. Serangga diletakkan di atas preparat dengan posisi yang diinginkan, kemudian teteskan satu tetes Canada balsam tepat di atas serangga yang diawetkan tersebut
4. Tutup dengan kaca penutup secara perlahan-lahan dengan cara menekan pakai jari sampai Canada balsam merata menutup permukaan kaca penutup
b. Pengawetan serangga secara permanen
1. Serangga dimatikan dengan cara pemanasan di atas api 60°C
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan KOH 10%selama 10 jam, untuk mempercepat proses tersebut KOH dipanaskan tetapi tidak boleh menguap, proses ini disebut clearing
3. Sesudah itu dilakukan pengeringan dengan menggunakan alkohol bertingkat dimulai dari 30%, 50%, 70%, 90%, dan 100%. Kemudian dimasukkan ke dalam larutan xylol dalam proses pengeringan ini dibutuhkan waktu masing-masing 10 menit
4. Proses berikutnya adalah proses mounting (melekatkan) untuk melekatkan serangga pada kaca preparat gunakan lem Canada balsam kemudian tutup dengan kaca penutup
3. Pengawetan serangga dengan menggunakan larutan pengawet (formaline)
Pengawetan serangga ini menggunakan bantuan larutan pengawet formaline. Tingkatan formaline disesuaikan dengan kondisi anatomi tubuh serangga yang mau diawetkan, untuk serangga yang berkulit lunak maka prosentase formaline 4% sedangkan untuk serangga yang berkulit tebal maka dapat memakai formaline 10%.
Cara Kerja:
1. Matikan serangga dengan menggunakan cloroform
2. Serangga dimasukkan ke dalam larutan formaline sesuai kadarnya
3. Selama perendaman serangga bisa dibentuk sesuai yang diinginkan
4. Lama perendaman di dalam larutan formaline tergantung struktur tubuh serangga yang diawetkan
5. Setelah waktu terpenuhi serangga hendaknya dijemur di bawah terik sinar matahari, agar bau formaline hilang
Ordo HEMIPTERA KEPIK - KEPIK
Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Hemiptera terdiri dari 80.000 spesies serangga seperti tonggeret, kutu daun, anggang-anggang, walang sangit, dan lain-lain. Mereka semua memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha
MORFOLOGI KEPIK
Struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum.
Sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran.
Bagian yang beruas dari proboscis itu adalah labium, yang bertindak sebagai suatu selubung bagi empat stilet penusuk (dua mandibel dan dua maksilae).
Maksilae bersama-sama cocok di dalam proboscis membentuk dua saluran, sebuah saluran makanan dan sebuah saluran air liur.
Tidak ada palpus, walaupun struktur kecil seperti bergelambir yang jelas pada proboscis dari beberapa kepik akuatik yangdiperkirakan beberapa ahli sebagai palpus.
DAUR HIDUP KEPIK
Kepik tidak mengalami metamorfosis sempurna. Anakan serangga dari ordo Hemiptera yang baru menetas biasanya memiliki penampilan yang sama dengan induknya, namun ukuranya lebih kecil dan tidak besayap. Fase anakan ini dikenal dengan nama nimfa. Nimfa Hemiptera ini kemudian melakukan pergantian kulit berkali-kali hingga akhirnya menjadi dewasa tanpa melalui fase kepompong. Dengan kata lain melalui tahap : telur nimfa dewasa.
KEBIASAAN KEPIK
Kepik yang berukuran 2,5 cm dengan warna badan coklat kegelapan ditandai dengan huruf “X” pada lipatan sayap di punggung dan ujung antena kemerahan. Tampilannya gagah, dengan “otot-otot” paha yang tampak gempal.
Perilakunya tenang dan selalu memilih pucuk-pucuk daun yang muda, dengan akibat pucuk itu akan segera layu dalam beberapa waktu. Konon air seni yang dihasilkan kepik ini mengandung zat racun yang dapat mematikan pucuk daun, sehingga cenderung dianggap sebagai hama. Hal ini serupa yang terjadi pada kerabatnya yaitu wereng.
PENYAKIT AKIBAT KEPIK
Kepik Helopeltis spp. termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapisebaliknya pada buah muda. Selain kakao,hama ini juga memakan banyak tanamanlain, diantaranya: teh, jambu biji, jambumete, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubijalar, dll.
Kepik leher adalah pemangsa ulat-ulat,kutu, pengisap (seperti Helopeltis) danserangga lainnya. Kepik leher adalahpemburu yang sangat efektif. Sebagianjenis kepik ini aktif siang hari dansebagian malam hari.
CARA PEMBERANTASAN HAMA KEPIK
Dengan cara pemangkasan pada buah yang terserang hama kepik.
Dengan cara hayati
SPECIES
1. KEPIK MATA BESAR
2. KEPIK Helopeltis spp.
3. KEPIK LEHER
PENAMAAN ORDO HEMIPTERA
Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang.
KLASIFIKASI ORDO HEMIPTERA
Ordo hemiptera terdiri dari 4 sub ordo yang berbeda :
1. Auchenorrhyncha
2. Coleorrhyncha
3. Heteroptera
4. Sternorrhyncha
PERSEBARAN HEMIPTERA
Hemiptera tersebar di seluruh dunia, kecuali di daerah-daerah yang terlampau dingin seperti wilayah kutub. Cara hidup mereka yang beragam membuat persebaran mereka begitu luas. Beberapa anggota Hemiptera seperti walang sangit dan tonggeret hidup pada tanaman dan menghisap sarinya. Kepik pembunuh juga hidup di antara tanaman, namun mereka memburu hewan-hewan kecil. Sebagian kecil dari Hemiptera seperti kutu busuk diketahui hidup sebagai parasit dan menghisap darah hewan yang lebih besar. Anggota Hemiptera lainnya juga diketahui hidup di air, misalnya anggang-anggang dan kepik air raksasa. Salah satu anggang-anggang dari genus Halobes bahkan diketahui hidup di air asin.
MORFOLOGI KEPIK
Struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum.
Sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran.
Bagian yang beruas dari proboscis itu adalah labium, yang bertindak sebagai suatu selubung bagi empat stilet penusuk (dua mandibel dan dua maksilae).
Maksilae bersama-sama cocok di dalam proboscis membentuk dua saluran, sebuah saluran makanan dan sebuah saluran air liur.
Tidak ada palpus, walaupun struktur kecil seperti bergelambir yang jelas pada proboscis dari beberapa kepik akuatik yangdiperkirakan beberapa ahli sebagai palpus.
DAUR HIDUP KEPIK
Kepik tidak mengalami metamorfosis sempurna. Anakan serangga dari ordo Hemiptera yang baru menetas biasanya memiliki penampilan yang sama dengan induknya, namun ukuranya lebih kecil dan tidak besayap. Fase anakan ini dikenal dengan nama nimfa. Nimfa Hemiptera ini kemudian melakukan pergantian kulit berkali-kali hingga akhirnya menjadi dewasa tanpa melalui fase kepompong. Dengan kata lain melalui tahap : telur nimfa dewasa.
KEBIASAAN KEPIK
Kepik yang berukuran 2,5 cm dengan warna badan coklat kegelapan ditandai dengan huruf “X” pada lipatan sayap di punggung dan ujung antena kemerahan. Tampilannya gagah, dengan “otot-otot” paha yang tampak gempal.
Perilakunya tenang dan selalu memilih pucuk-pucuk daun yang muda, dengan akibat pucuk itu akan segera layu dalam beberapa waktu. Konon air seni yang dihasilkan kepik ini mengandung zat racun yang dapat mematikan pucuk daun, sehingga cenderung dianggap sebagai hama. Hal ini serupa yang terjadi pada kerabatnya yaitu wereng.
PENYAKIT AKIBAT KEPIK
Kepik Helopeltis spp. termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapisebaliknya pada buah muda. Selain kakao,hama ini juga memakan banyak tanamanlain, diantaranya: teh, jambu biji, jambumete, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubijalar, dll.
Kepik leher adalah pemangsa ulat-ulat,kutu, pengisap (seperti Helopeltis) danserangga lainnya. Kepik leher adalahpemburu yang sangat efektif. Sebagianjenis kepik ini aktif siang hari dansebagian malam hari.
CARA PEMBERANTASAN HAMA KEPIK
Dengan cara pemangkasan pada buah yang terserang hama kepik.
Dengan cara hayati
SPECIES
1. KEPIK MATA BESAR
2. KEPIK Helopeltis spp.
3. KEPIK LEHER
PENAMAAN ORDO HEMIPTERA
Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang.
KLASIFIKASI ORDO HEMIPTERA
Ordo hemiptera terdiri dari 4 sub ordo yang berbeda :
1. Auchenorrhyncha
2. Coleorrhyncha
3. Heteroptera
4. Sternorrhyncha
PERSEBARAN HEMIPTERA
Hemiptera tersebar di seluruh dunia, kecuali di daerah-daerah yang terlampau dingin seperti wilayah kutub. Cara hidup mereka yang beragam membuat persebaran mereka begitu luas. Beberapa anggota Hemiptera seperti walang sangit dan tonggeret hidup pada tanaman dan menghisap sarinya. Kepik pembunuh juga hidup di antara tanaman, namun mereka memburu hewan-hewan kecil. Sebagian kecil dari Hemiptera seperti kutu busuk diketahui hidup sebagai parasit dan menghisap darah hewan yang lebih besar. Anggota Hemiptera lainnya juga diketahui hidup di air, misalnya anggang-anggang dan kepik air raksasa. Salah satu anggang-anggang dari genus Halobes bahkan diketahui hidup di air asin.
LALAT
LALAT
Lalat adalah jenis serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha ordo Diptera
Lalat adalah salah satu jenis serangga peengganggu dan sebagai serangga penular penyakit terhadap kesehatan manusia yang dapat menyebabkan brbagai penyakit
Lalat penghisap darah :
1. Lalat Glossina(Lalat Tsetse)
A. Ciri-ciri :
1. Ukuran sedikit lebih besar daripada lalat rumah.
2. Warna kecoklatan.
3. Mulut memiliki probosis horisontal ke depan berbentuk sangkur.
4. Pangkal probosis tampak membesar.
5. Sayap saling menutupi mirip dengan gunting waktu beristirahat.
B. Lalat glossina jantan maupun betina merupakan lalat pengisap darah waktu siang hari.
C. Glossina tidak bertelur melainkan melahirkan larva.
Larva glossina dalam waktu satu jam akan segera berubah menjadi pupa.
Dalam waktu 3 minggu s/d 60 hari pupa akan berubah jadi dewasa.
Lalat glossina dapat hidup selama satu tahun.
D. Lalat glossina merupakan vektor biologis maupun mekanik dari penyakit:
Trypanosoma gambiense
Trypanosoma rhodesiense.
2. Stomoxys (stable fly, lalat kandang)
A. Ciri-ciri :
1. Bentuk dan ukurannya mirip dengan lalat rumah.
2. Mempunyai probosis memiliki sangkur berwarna hitam dan perutnya lebih lebar dibandingkan dengan perut lalat rumah.
3. Sebelum dapat bertelur lalat betina membutuhkan beberapa kali menghisap darah mangsanya.
4. Dalam waktu 2-5 hari bertelur menetas menjadi larva.
5. Setelah tiga minggu larva berubah menjadi pupa.
6. 9-13 hari dari stadium pupa menjadi dewasa.
7. Lalat stomoxys jantan maupun betina menghisap darah.
8. Umur lalat Stomoxys dewasa rata-rata dalam keadaan baik adalah 20 hari.
9. Lalat ini menghisap darah pada waktu siang hari.
10.Tempat berkembang biak pada tempat yang basah dan lembab (tanaman air, sampah maupun kotoran hewan).
11.Gigitan lalat ini sangat sakit.
B. Lalat Stomoxys merupakan vektor :
Penyakit surra yang disebabkan oleh Trypanosoma evansi yang banyak menimbulkan kematian pada kuda.
Vektor mekanis dari penyakit :
Anthrax
Tetanus
Yellow fever
C. Lalat ini juga dapat menimbulkan traumatik myasis atau pseudomyasis pd manusia.
Lalat Bukan Penghisap Darah
1. Musca Domestica (lalat rumah)
Ciri-ciri :
- Ukuran 6mm - 9mm
- Warna abu-abu kehitaman
- Kepalanya besar berwarna coklat gelap
- Matanya besar menonjol
- Sepasang sungut terletak didepan mata, tiap sungut terdiri atas ruas dasarberbentuk gada dengan sehelai rambut yang bercabang-cabang
- Lidah penghisapnya melebar dibagian ujung
- Torax dorsal bertanda 4 garis membujur
- Abdomennya berwarna kekuning-kuningan, ruas terakhir berwarna coklat kehitaman
- Tiga pasang kakinya ditutupi oleh rambut lebat
- Sayapnya sepasang, tipis serta tembus cahaya, warnanya kelabu pucat dan berpangkal kuning
2. Sarcophaga sp (lalat blirik/lalat daging)
Ciri-ciri :
Ukurannya 11 mm-15 mm.
Berwarna abu-abu.
Bagian toraks terdapat 3 garis hitam.
Abdomen memiliki pola bintik-bintik hitam dan abu-abu spt papan catur.
Struktur mulutnya bukan tipe penusuk tapi penjilat.
Aristanya hanya berambut pada setengah bangian frontal sedangkan sebagiannya distalnya tidak berambut.
3. Chrysomya bezziana ( Lalat hijau)
Ciri-ciri :
Berwarna hijau metalik atu mengkilat.
Ukuran ±1,5 kali lalat rumah.
Sayap jernih dengan guratan urat-urat yang jelas.
Permukaan tubuh tertutup dengan bulu-bulu pendek di selingi dengan sederetan bulu yang keras dan jarang letaknya.
Mulutnya tipe penjilat.
Larva membentuk silinder memanjang terdiri dari 10 ruas dgn ujung depnnya meruncing.
Tiap-tiap batas ruas terdapat duri keras dan pendek yang melingkar.
Larva yang cukup umur dapat berukuran 1 cm dan berwarna kuning keputih-putihan.
Pupa berwarna coklat.
Berbentuk lonjong seperti tong
4. Lalat Buah, Drosophila melanogaster (famili drosophilidae)
Ciri-ciri:
-Ukuran relatif kecil, sekitar 3 mm
-Warna mata merah, bagian torax warna coklat
-Abdomen dorsal hitam dan bagian bawah ke abu-abuan
-Kepala bulat lonjong
-Palpi kecil berbulu
-Alat mulut tipis
-Tartus pertama kaki belakang panjang dan langsing
B. DAUR HIDUP LALAT
Lalat adalah serangga dengan metamorfosa sempurna melalui 4 tahapan yaitu:
1. Telur
2. Larva
3. Pupa
4. Dewasa
Pertumbuhan dari telur sampai dewasa
memerlukan waktu 12-18 hari.
1. Musca domestica :
- Pertumbuhan dari telur sampai dewasa memerlukan waktu 12-14 hari didaerah tropis. -Larva ini sangat rakus,aktif dan akan menjadi pupa setelah 4-7 hari
-Pupa akan menjadi lalat dewasa setelah 4 hari kemudian
-Umur lalat ini ditaksir sekitar 1-2 bulan
2. Sarcophaga sp (Lalat Blirik)
- Waktu yang diperlukan sejak dari telur hingga menjadi lalat dewasa 14-18 hari
-Tergantung pada suhu, Kelembapan dan jenisnya
3. Chrysomya bezziana (lalat hijau)
-lalat betina merupakan penyebab penyakit myasis obligat yang meletakkan telurnya pada tepi luka yang terbuka dalam jumlah 100-150 butir.
-Telur akan menetas setelah 20-30 jam
-Stadium larva dilalui selama 5-6 hari
-Lalu menjatuhkan diri dari luka untuk berubah menjadi pupa yang berlangsung 7-9 hari kemudian menjadi dewasa
4. Lalat Buah, Drosophila melanogaster (famili drosophilidae)
-Larva yang halus akan menetas setelah 30 jam dan makan pada permukaan bahan-bahan yang meragi dan setelah matang larva akan bergerak ke tempat kering untuk berkembang menjadi pupa.
-Perkembangan dari telur menjadi dewasa diperlukan waktu 9-12 hari.
-Setiap lalat buah betina dapat bertelur sampai dengan 500 telur.
C. PENYAKIT YANG DISEBABKAN LALAT
Lalat merupakan vektor mekanis pembawa penyakit.
Diantaranya adalah kholera, typhus, disentri,
surra (Trypanosoma evansi), anthrax, tetanus, yellow Fever, lalat juga dapat menimbulkan traumatic atau pseudomyasis pada manusia, infeksi alat pencernaan (amubiasis, bakteri usus, cacing usus, infksi virus),
D. CARA PENCEGAHAN LALAT
Nonkimiawi :
Sanitasi
pengendalian dengan cara ini dapat ditunjukan dengan menciptakan lingkungan yang tidak memberikan suatu bentuk kehidupan lalat yaitu keadaan yang kering, udara sejuk dan bersih
Penghalang fisik
- pemasangan kawat kasa pada pintu jendela serta lubang angin
- membuat pintu dua lapis.
2. Kimia
Perangkap umpan
Perangkap cahaya
E. TEMPAT-TEMPAT YANG BERPOTENSI ADANYA LALAT
- Terminal penumpang
- Perkantoran
- Pergudangan
- Rumah makan
- pabrik/industri
- Lapangan kontener
- Tempat Pembuangan Sampah sementara
- Tempat pelelangan ikan
Lalat adalah jenis serangga yang berasal dari subordo Cyclorrapha ordo Diptera
Lalat adalah salah satu jenis serangga peengganggu dan sebagai serangga penular penyakit terhadap kesehatan manusia yang dapat menyebabkan brbagai penyakit
Lalat penghisap darah :
1. Lalat Glossina(Lalat Tsetse)
A. Ciri-ciri :
1. Ukuran sedikit lebih besar daripada lalat rumah.
2. Warna kecoklatan.
3. Mulut memiliki probosis horisontal ke depan berbentuk sangkur.
4. Pangkal probosis tampak membesar.
5. Sayap saling menutupi mirip dengan gunting waktu beristirahat.
B. Lalat glossina jantan maupun betina merupakan lalat pengisap darah waktu siang hari.
C. Glossina tidak bertelur melainkan melahirkan larva.
Larva glossina dalam waktu satu jam akan segera berubah menjadi pupa.
Dalam waktu 3 minggu s/d 60 hari pupa akan berubah jadi dewasa.
Lalat glossina dapat hidup selama satu tahun.
D. Lalat glossina merupakan vektor biologis maupun mekanik dari penyakit:
Trypanosoma gambiense
Trypanosoma rhodesiense.
2. Stomoxys (stable fly, lalat kandang)
A. Ciri-ciri :
1. Bentuk dan ukurannya mirip dengan lalat rumah.
2. Mempunyai probosis memiliki sangkur berwarna hitam dan perutnya lebih lebar dibandingkan dengan perut lalat rumah.
3. Sebelum dapat bertelur lalat betina membutuhkan beberapa kali menghisap darah mangsanya.
4. Dalam waktu 2-5 hari bertelur menetas menjadi larva.
5. Setelah tiga minggu larva berubah menjadi pupa.
6. 9-13 hari dari stadium pupa menjadi dewasa.
7. Lalat stomoxys jantan maupun betina menghisap darah.
8. Umur lalat Stomoxys dewasa rata-rata dalam keadaan baik adalah 20 hari.
9. Lalat ini menghisap darah pada waktu siang hari.
10.Tempat berkembang biak pada tempat yang basah dan lembab (tanaman air, sampah maupun kotoran hewan).
11.Gigitan lalat ini sangat sakit.
B. Lalat Stomoxys merupakan vektor :
Penyakit surra yang disebabkan oleh Trypanosoma evansi yang banyak menimbulkan kematian pada kuda.
Vektor mekanis dari penyakit :
Anthrax
Tetanus
Yellow fever
C. Lalat ini juga dapat menimbulkan traumatik myasis atau pseudomyasis pd manusia.
Lalat Bukan Penghisap Darah
1. Musca Domestica (lalat rumah)
Ciri-ciri :
- Ukuran 6mm - 9mm
- Warna abu-abu kehitaman
- Kepalanya besar berwarna coklat gelap
- Matanya besar menonjol
- Sepasang sungut terletak didepan mata, tiap sungut terdiri atas ruas dasarberbentuk gada dengan sehelai rambut yang bercabang-cabang
- Lidah penghisapnya melebar dibagian ujung
- Torax dorsal bertanda 4 garis membujur
- Abdomennya berwarna kekuning-kuningan, ruas terakhir berwarna coklat kehitaman
- Tiga pasang kakinya ditutupi oleh rambut lebat
- Sayapnya sepasang, tipis serta tembus cahaya, warnanya kelabu pucat dan berpangkal kuning
2. Sarcophaga sp (lalat blirik/lalat daging)
Ciri-ciri :
Ukurannya 11 mm-15 mm.
Berwarna abu-abu.
Bagian toraks terdapat 3 garis hitam.
Abdomen memiliki pola bintik-bintik hitam dan abu-abu spt papan catur.
Struktur mulutnya bukan tipe penusuk tapi penjilat.
Aristanya hanya berambut pada setengah bangian frontal sedangkan sebagiannya distalnya tidak berambut.
3. Chrysomya bezziana ( Lalat hijau)
Ciri-ciri :
Berwarna hijau metalik atu mengkilat.
Ukuran ±1,5 kali lalat rumah.
Sayap jernih dengan guratan urat-urat yang jelas.
Permukaan tubuh tertutup dengan bulu-bulu pendek di selingi dengan sederetan bulu yang keras dan jarang letaknya.
Mulutnya tipe penjilat.
Larva membentuk silinder memanjang terdiri dari 10 ruas dgn ujung depnnya meruncing.
Tiap-tiap batas ruas terdapat duri keras dan pendek yang melingkar.
Larva yang cukup umur dapat berukuran 1 cm dan berwarna kuning keputih-putihan.
Pupa berwarna coklat.
Berbentuk lonjong seperti tong
4. Lalat Buah, Drosophila melanogaster (famili drosophilidae)
Ciri-ciri:
-Ukuran relatif kecil, sekitar 3 mm
-Warna mata merah, bagian torax warna coklat
-Abdomen dorsal hitam dan bagian bawah ke abu-abuan
-Kepala bulat lonjong
-Palpi kecil berbulu
-Alat mulut tipis
-Tartus pertama kaki belakang panjang dan langsing
B. DAUR HIDUP LALAT
Lalat adalah serangga dengan metamorfosa sempurna melalui 4 tahapan yaitu:
1. Telur
2. Larva
3. Pupa
4. Dewasa
Pertumbuhan dari telur sampai dewasa
memerlukan waktu 12-18 hari.
1. Musca domestica :
- Pertumbuhan dari telur sampai dewasa memerlukan waktu 12-14 hari didaerah tropis. -Larva ini sangat rakus,aktif dan akan menjadi pupa setelah 4-7 hari
-Pupa akan menjadi lalat dewasa setelah 4 hari kemudian
-Umur lalat ini ditaksir sekitar 1-2 bulan
2. Sarcophaga sp (Lalat Blirik)
- Waktu yang diperlukan sejak dari telur hingga menjadi lalat dewasa 14-18 hari
-Tergantung pada suhu, Kelembapan dan jenisnya
3. Chrysomya bezziana (lalat hijau)
-lalat betina merupakan penyebab penyakit myasis obligat yang meletakkan telurnya pada tepi luka yang terbuka dalam jumlah 100-150 butir.
-Telur akan menetas setelah 20-30 jam
-Stadium larva dilalui selama 5-6 hari
-Lalu menjatuhkan diri dari luka untuk berubah menjadi pupa yang berlangsung 7-9 hari kemudian menjadi dewasa
4. Lalat Buah, Drosophila melanogaster (famili drosophilidae)
-Larva yang halus akan menetas setelah 30 jam dan makan pada permukaan bahan-bahan yang meragi dan setelah matang larva akan bergerak ke tempat kering untuk berkembang menjadi pupa.
-Perkembangan dari telur menjadi dewasa diperlukan waktu 9-12 hari.
-Setiap lalat buah betina dapat bertelur sampai dengan 500 telur.
C. PENYAKIT YANG DISEBABKAN LALAT
Lalat merupakan vektor mekanis pembawa penyakit.
Diantaranya adalah kholera, typhus, disentri,
surra (Trypanosoma evansi), anthrax, tetanus, yellow Fever, lalat juga dapat menimbulkan traumatic atau pseudomyasis pada manusia, infeksi alat pencernaan (amubiasis, bakteri usus, cacing usus, infksi virus),
D. CARA PENCEGAHAN LALAT
Nonkimiawi :
Sanitasi
pengendalian dengan cara ini dapat ditunjukan dengan menciptakan lingkungan yang tidak memberikan suatu bentuk kehidupan lalat yaitu keadaan yang kering, udara sejuk dan bersih
Penghalang fisik
- pemasangan kawat kasa pada pintu jendela serta lubang angin
- membuat pintu dua lapis.
2. Kimia
Perangkap umpan
Perangkap cahaya
E. TEMPAT-TEMPAT YANG BERPOTENSI ADANYA LALAT
- Terminal penumpang
- Perkantoran
- Pergudangan
- Rumah makan
- pabrik/industri
- Lapangan kontener
- Tempat Pembuangan Sampah sementara
- Tempat pelelangan ikan
NYAMUK (Diptera: Culicidae)
Nyamuk termasuk serangga (Arthropoda: Insecta). Tubuhnya terbagi tiga bagian: kaput, toraks, abdomen. Pada kepala ada bagian mulut yang disebut probosis yang lurus ke depan (pada Tribus Culicini dan Anphelini) atau bagian depannya melemgkung ke arah perut (Tribus Megarhini), sepasang antena, dan sepasang palpus maksilaris. Nyamuk jantan antena tipe plumose, yang betina tipe pilose. Tipe bag. mulut menusuk dan mengisap. Pada toraks melekat 3 pasang kaki, dan sepasang sayap, dan sepasang halter (sayap yang sangat mereduksi, bentuknya seperti halter).
Terdiri dari 3453 spesies
NYAMUK (Diptera: Culicidae) Posisi dalam kelasifikasi selanjutnya
Sub-ordo : Nematocera
Famili : Culicidae --------------------- meliputi 3453 spesies nyamuk
1. Sub-fam. Anophelinae – Tribus Anophelini
Genus : Anopheles
Spesies : An. aconitus, dll.
2. Sub-fam: Culicinae --- Tribus Culicini
Genus : Aedes
Spesies : Ae. aegypti, dll
Genus : Culex
Spesies : Cx. quinquefasciatus, dll
Genus : Mansonia
Spesies : Ma. uniformis, dll
3. Sub-fam. Toxorhynchitinae --- Tribus Megarhini
Genus Toxorhynchites
Spesies: T. splendens
Kehidupan nyamuk
Nyamuk stadium dewasa (imago) menempuh kehidupan di daratan (terestrial atau aerial); stadium pradewasa (telur, larva, pupa) berada dalam air atau tanah yang sangat lembab (stadium akuatik). Semua stadia bernafas dengan trachea.
Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna.
Larva nyamuk mengalami perkembangan dari instar I (yang baru menetas dari telur) -> instar II -> instar III -> instar IV. Larva merupakan stadium makan.
Stadium pupa (instar V) merupakan stadium tidak makan, yang nanti muncul (eklosi) stadium dewasa.
Stadium pradewasa berhabitat dalam berbagai kondisi air yang beragam, bergantung kpd spesies dan strainnya: air tawar, atau air payau; air jernih atau air kotor; terbuka kpd sinar matahari, atau di tempat teduh atau tertutup oleh tumbuhan yang lebat (misal di hutan), berasosiasi dengan tumbuhan air tertentu atau tidak sama sekali.
Nyamuk jantan muncul lebih cepat dari pada nyamuk betinanya.
Nyamuk jantan mengawini nyamuk betina segera setelah muncul dari pupa.
Nyamuk betina segera mencarai pakan darah (manusia atau binatang) untuk menyelesaikan siklus gonotropiknya, sedangkan yang jantan mencari tumbuhan sumber nektar untuk kelangsungan hidupnya.
Kehidupan nyamuk
Aktivitas nyamuk betina dalam hal memilih dan menggigit/mengisap darah beragam bergantung kpd spesiesnya, yang diistilahkan menurut:
a) Waktu: malam –> nokturnal
siang diurnal
senja/magrib –> krepuskular
b) Tempat: di dalam rumah –> endofagik
di luar rumah –> eksofagik
c) Sumber darah: manusia –> antropofilik
binatang zoofilik
d) Jenis pakan: darah hematofagik
cairan tumbuhan fitofagik
Sifat-sifat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus
Nyamuk jantan fitofagik mengkonsumsi nektar
Nyamuk betina bersifat hematofagik, antropofilik,, aktivitas diurnal, memilih tampungan air tawar yang jernih. Ae. aegypti lebih banyak di dalam rumah (endofilik, endofagik), termasuk kelompok ‘nyamuk rumah’; nyamuk Ae. albopictus lebih banyak di luar rumah (eksofilik, eksofagik).
Arti penting nyamuk Aedes
Sebagai pengganggu: nyamuk betina sifatnya yang hematofagik, antropofilik, endofilik dan endofagik, dan diurnal, adalah pengganggu aktivitas manusia sewaktu bekerja siang hari, juga mengganggu anak-anak sekolah sewaktu belajar di kelas.
Sebagai vektor penyakit yang berbahaya:
a) penyakit viral: *Demam Dengue (DD) yang bisa menjadi Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dapat menyebabkan kematian karena shock syndrome; **Chikungunya yang menimbulkan gejala rematik yang akut lalu menjadi kronis.
b) penyakit filariasis: Filariasis bancrofti di Pasifik Selatan, vektor Ae. polynesiensis.
Nyamuk Culex sp.
Nyamuk Culex quinquefasciatus adalah salah satu anggota kelompok ‘nyamuk rumah’. Sifatnya: hematofagik, nokturnal, endofilik, endofagik, memilih air kotor spt comberan-comberan, air selokan yang kotor dan mampat, dll. sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangbiakan (breeding places).
Nyamuk Culex ada juga yang larvaenya berhabitat di sawah-sawah ‘nyamuk sawah’: Cx. tritaeniorhynchus, Cx. gelidus, dll. Sifatnya: zoofilik / antropofilik, eksofagik, eksofilik, nokturnal, krepuskular.
Lahan persawahan tempat breeding nyamuk Culex dan Anopheles
Arti penting nyamuk Culex
Sebagai pengganggu: menggigit/mengisap darah waktu malam mengganggu tidur atau kerja malam di dalam rumah atau mungkin juga di luar rumah, di sawah, dll.
Gigitannya bisa menimbulkan alergi kulit dermatitis alergika.
Sebagai vektor:
a) penyakit viral: Japanese Encephalitis (JE), dan
viral encephalitis lainnya, ditularkan oleh Cx.
tritaeniorhynchus, Cx. gelidus, Cx. quinquefasciatus, dll.
b) penyakit filariasis: Filariasis bancrofti tipe urban, ditularkan oleh Cx. quinquefasciatus.
Nyamuk Mansonia
Nyamuk Mansonia berasosiasi dengan rawa-rawa, sungai besar di tepi hutan atau dalam hutan; larvae dan pupa melekat dengan sifonnya pada akar-akar atau ranting tanaman air, spt enceng gondok, teratai, kangkung, dsb.
Bersifat zoofilik/antropofilik, eksofagik, eksofilik, nokturnal.
Arti penting nyamuk Mansonia
Sebagai pengganggu: sifatnya yang antropofilik, nokturnal, eksofagik, mengganggu tidur atau aktivitas manusia di luar rumah sewaktu malam.
Sebagai vektor filariasis: Filariasis malayi, disebabkan oleh Brugia malayi.
Nyamuk Anopheles
Nyamuk Anopheles betina bersifat hematofagik, zoofilik/antropofilik, eksofagik, eksofilik, aktivitas nokturnal, memilih tempat perkembangbiakan air relatif jernih, tawar(sawah, rawa, tepian sungai, dll) atau payau (laguna); larvae umumnya berasosiasi dengan tumbuhan air yang kecil-kecil, tanaman padi yang masih muda, ganggang air, dll.
Terdiri dari sekitar 430 spesies
Breeding zones nyamuk Anopheles
Tempat perkembangbiakan Anopheles mulai dari daerah pantai berair payau sampai ke daerah pegunungan setinggi 2,800 meter diatas permukaan laut. Ada Anopheles yang hidup 400 meter di bawah permukaan tanah (di Laut Mati).
Sebarannya juga mulai dari Equator sampai mendekati kutub (Utara).
Daerah persawahan dan tepian sungai yang berair potensial jadi tempat breeding nyamuk Anopheles
Nyamuk Anopheles sebagai inang definitif parasit malaria
Arti penting nyamuk Anopheles
Sebagai pengganggu: nyamuk menggigit dan mengisap darah waktu malam, di dalam rumah atau di luar rumah menggangu tidur dan menyebabkan kejengkelan
Sebagai vektor penyakit:
a) Malaria ada sekitar 80 spesies vektor malaria di dunia; di Indonesia ada 18 spesies yang jadi vektor malaria, 7 diantaranya termasuk efisien: An. sundaicus, An. aconitus, An. sinensis, An. maculatus, An. balabacensis, An. barbirostris, dan An. farauti.
b) Filariasis bancrofti tipe desa (rural). Vektornya An. subpictus (di NTT), dan An. farauti (di Papua)
Toxorhynchites
- Termasuk Tribus Megarrhini
- Probosis bagian depan membengkok ke ventral
- Termasuk paling besar ukurannya d.p nyamuk lainnya (Anophelini dan Culicini).
- Nyamuk jantan dan betina bersifat fitofagik, eksofagik,dan eksofilik.
- Habitat larvanya di tonggak-tonggak bambu atau lubang-lubang pohon yang terisi air hujan.
- Larvanya sebagai predator dan musuh alami larva nyamuk Aedes.
- Toxorhynchites sebagai polinator bunga
Cara pencegahan gigitan nyamuk
Gunakan kelambu tidur tanpa atau dengan olesan insektisida (permethrin, taua yang lain).
Gunakan obat nyamuk bakar (fumigan) jika tidak ada efek sampingnya.
Gunakan bahan repelen – bahan penolak nyamuk
Gunakan kerudung kepala (head net), jaket, baju lengan panjang dan celana panjang jika keluar malam.
Kerjakan sanitasi lingkungan, hilangkan sumber nyamuk: tutup cekungan-cekungan tanah, alirkan air tergenang, atur dan perbaiki irgasi, dsb.
Gunakan tanaman-tanaman pengusit nyamuk di di dalam dan sekitar rumah.
Terdiri dari 3453 spesies
NYAMUK (Diptera: Culicidae) Posisi dalam kelasifikasi selanjutnya
Sub-ordo : Nematocera
Famili : Culicidae --------------------- meliputi 3453 spesies nyamuk
1. Sub-fam. Anophelinae – Tribus Anophelini
Genus : Anopheles
Spesies : An. aconitus, dll.
2. Sub-fam: Culicinae --- Tribus Culicini
Genus : Aedes
Spesies : Ae. aegypti, dll
Genus : Culex
Spesies : Cx. quinquefasciatus, dll
Genus : Mansonia
Spesies : Ma. uniformis, dll
3. Sub-fam. Toxorhynchitinae --- Tribus Megarhini
Genus Toxorhynchites
Spesies: T. splendens
Kehidupan nyamuk
Nyamuk stadium dewasa (imago) menempuh kehidupan di daratan (terestrial atau aerial); stadium pradewasa (telur, larva, pupa) berada dalam air atau tanah yang sangat lembab (stadium akuatik). Semua stadia bernafas dengan trachea.
Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna.
Larva nyamuk mengalami perkembangan dari instar I (yang baru menetas dari telur) -> instar II -> instar III -> instar IV. Larva merupakan stadium makan.
Stadium pupa (instar V) merupakan stadium tidak makan, yang nanti muncul (eklosi) stadium dewasa.
Stadium pradewasa berhabitat dalam berbagai kondisi air yang beragam, bergantung kpd spesies dan strainnya: air tawar, atau air payau; air jernih atau air kotor; terbuka kpd sinar matahari, atau di tempat teduh atau tertutup oleh tumbuhan yang lebat (misal di hutan), berasosiasi dengan tumbuhan air tertentu atau tidak sama sekali.
Nyamuk jantan muncul lebih cepat dari pada nyamuk betinanya.
Nyamuk jantan mengawini nyamuk betina segera setelah muncul dari pupa.
Nyamuk betina segera mencarai pakan darah (manusia atau binatang) untuk menyelesaikan siklus gonotropiknya, sedangkan yang jantan mencari tumbuhan sumber nektar untuk kelangsungan hidupnya.
Kehidupan nyamuk
Aktivitas nyamuk betina dalam hal memilih dan menggigit/mengisap darah beragam bergantung kpd spesiesnya, yang diistilahkan menurut:
a) Waktu: malam –> nokturnal
siang diurnal
senja/magrib –> krepuskular
b) Tempat: di dalam rumah –> endofagik
di luar rumah –> eksofagik
c) Sumber darah: manusia –> antropofilik
binatang zoofilik
d) Jenis pakan: darah hematofagik
cairan tumbuhan fitofagik
Sifat-sifat nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus
Nyamuk jantan fitofagik mengkonsumsi nektar
Nyamuk betina bersifat hematofagik, antropofilik,, aktivitas diurnal, memilih tampungan air tawar yang jernih. Ae. aegypti lebih banyak di dalam rumah (endofilik, endofagik), termasuk kelompok ‘nyamuk rumah’; nyamuk Ae. albopictus lebih banyak di luar rumah (eksofilik, eksofagik).
Arti penting nyamuk Aedes
Sebagai pengganggu: nyamuk betina sifatnya yang hematofagik, antropofilik, endofilik dan endofagik, dan diurnal, adalah pengganggu aktivitas manusia sewaktu bekerja siang hari, juga mengganggu anak-anak sekolah sewaktu belajar di kelas.
Sebagai vektor penyakit yang berbahaya:
a) penyakit viral: *Demam Dengue (DD) yang bisa menjadi Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dapat menyebabkan kematian karena shock syndrome; **Chikungunya yang menimbulkan gejala rematik yang akut lalu menjadi kronis.
b) penyakit filariasis: Filariasis bancrofti di Pasifik Selatan, vektor Ae. polynesiensis.
Nyamuk Culex sp.
Nyamuk Culex quinquefasciatus adalah salah satu anggota kelompok ‘nyamuk rumah’. Sifatnya: hematofagik, nokturnal, endofilik, endofagik, memilih air kotor spt comberan-comberan, air selokan yang kotor dan mampat, dll. sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangbiakan (breeding places).
Nyamuk Culex ada juga yang larvaenya berhabitat di sawah-sawah ‘nyamuk sawah’: Cx. tritaeniorhynchus, Cx. gelidus, dll. Sifatnya: zoofilik / antropofilik, eksofagik, eksofilik, nokturnal, krepuskular.
Lahan persawahan tempat breeding nyamuk Culex dan Anopheles
Arti penting nyamuk Culex
Sebagai pengganggu: menggigit/mengisap darah waktu malam mengganggu tidur atau kerja malam di dalam rumah atau mungkin juga di luar rumah, di sawah, dll.
Gigitannya bisa menimbulkan alergi kulit dermatitis alergika.
Sebagai vektor:
a) penyakit viral: Japanese Encephalitis (JE), dan
viral encephalitis lainnya, ditularkan oleh Cx.
tritaeniorhynchus, Cx. gelidus, Cx. quinquefasciatus, dll.
b) penyakit filariasis: Filariasis bancrofti tipe urban, ditularkan oleh Cx. quinquefasciatus.
Nyamuk Mansonia
Nyamuk Mansonia berasosiasi dengan rawa-rawa, sungai besar di tepi hutan atau dalam hutan; larvae dan pupa melekat dengan sifonnya pada akar-akar atau ranting tanaman air, spt enceng gondok, teratai, kangkung, dsb.
Bersifat zoofilik/antropofilik, eksofagik, eksofilik, nokturnal.
Arti penting nyamuk Mansonia
Sebagai pengganggu: sifatnya yang antropofilik, nokturnal, eksofagik, mengganggu tidur atau aktivitas manusia di luar rumah sewaktu malam.
Sebagai vektor filariasis: Filariasis malayi, disebabkan oleh Brugia malayi.
Nyamuk Anopheles
Nyamuk Anopheles betina bersifat hematofagik, zoofilik/antropofilik, eksofagik, eksofilik, aktivitas nokturnal, memilih tempat perkembangbiakan air relatif jernih, tawar(sawah, rawa, tepian sungai, dll) atau payau (laguna); larvae umumnya berasosiasi dengan tumbuhan air yang kecil-kecil, tanaman padi yang masih muda, ganggang air, dll.
Terdiri dari sekitar 430 spesies
Breeding zones nyamuk Anopheles
Tempat perkembangbiakan Anopheles mulai dari daerah pantai berair payau sampai ke daerah pegunungan setinggi 2,800 meter diatas permukaan laut. Ada Anopheles yang hidup 400 meter di bawah permukaan tanah (di Laut Mati).
Sebarannya juga mulai dari Equator sampai mendekati kutub (Utara).
Daerah persawahan dan tepian sungai yang berair potensial jadi tempat breeding nyamuk Anopheles
Nyamuk Anopheles sebagai inang definitif parasit malaria
Arti penting nyamuk Anopheles
Sebagai pengganggu: nyamuk menggigit dan mengisap darah waktu malam, di dalam rumah atau di luar rumah menggangu tidur dan menyebabkan kejengkelan
Sebagai vektor penyakit:
a) Malaria ada sekitar 80 spesies vektor malaria di dunia; di Indonesia ada 18 spesies yang jadi vektor malaria, 7 diantaranya termasuk efisien: An. sundaicus, An. aconitus, An. sinensis, An. maculatus, An. balabacensis, An. barbirostris, dan An. farauti.
b) Filariasis bancrofti tipe desa (rural). Vektornya An. subpictus (di NTT), dan An. farauti (di Papua)
Toxorhynchites
- Termasuk Tribus Megarrhini
- Probosis bagian depan membengkok ke ventral
- Termasuk paling besar ukurannya d.p nyamuk lainnya (Anophelini dan Culicini).
- Nyamuk jantan dan betina bersifat fitofagik, eksofagik,dan eksofilik.
- Habitat larvanya di tonggak-tonggak bambu atau lubang-lubang pohon yang terisi air hujan.
- Larvanya sebagai predator dan musuh alami larva nyamuk Aedes.
- Toxorhynchites sebagai polinator bunga
Cara pencegahan gigitan nyamuk
Gunakan kelambu tidur tanpa atau dengan olesan insektisida (permethrin, taua yang lain).
Gunakan obat nyamuk bakar (fumigan) jika tidak ada efek sampingnya.
Gunakan bahan repelen – bahan penolak nyamuk
Gunakan kerudung kepala (head net), jaket, baju lengan panjang dan celana panjang jika keluar malam.
Kerjakan sanitasi lingkungan, hilangkan sumber nyamuk: tutup cekungan-cekungan tanah, alirkan air tergenang, atur dan perbaiki irgasi, dsb.
Gunakan tanaman-tanaman pengusit nyamuk di di dalam dan sekitar rumah.
penyakit Filariasis
F I L A R I A S I S
Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas
WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.
Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).
Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah.
Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ? 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.
Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.
Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?
* *
SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.
Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.
Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.
* *
KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.
Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***PR-9-3-2006
FILARIASIS
Penyakit kaki gajah atau yang sering disebut filariasis / elefantiasis hingga saat ini masih menjadi endemi di ratusan
kabupaten di Indonesia . Gejala ini memprihatinkan dan bagi masyarakat awam kesadaran akan terjangkit penyakit ini
dapat membantu penanggulangannya.
Waspadalah bila tiba-tiba kaki Anda membesar. Mungkin saja virus penyebab penyakit filariasis atau dikenal dengan
kaki gajah, mulai menghinggap. Sebenarnya penyakit ini sendiri berasal dari cacing yang menempel pada nyamuk.
Seperti pada konsep umum kesehatan masyarakat, sistem penularan penyakit ini juga melalui individu agen di
sekitarnya. Biasanya cacing akan menempel pada nyamuk, dan masuk ke aliran darah dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk. Akibat gigitan ini, virus cacing akan menetap di dalam darah, berkembang biak dan menggejala.
Gejala
Gejalanya sebenarnya dapat dilihat dengan mudah, Saat tubuh terlihat demam berulang-ulang setiap satu hingga dua
bulan, selama tiga hingga lima hari. Lalu kemudian terlihat gejala pembengkakan kelenjar pada paha dan ketiak. Kalau
diraba pembengkakan kelanjar ini akan terasa panas. Gejala ini kemudian diikuti dengan pembengkakan serupa pada
daerah-daerah seperti tungkai kaki, lengan, buah dada, bahkan juga pada kantung buah zakar, hingga mencapai ukuran
yang bisa bikin kita geleng kepala. Itulah mengapa penyakit ini dinamakan kaki gajah. Karena penyakit ini umumnya
menyerang kaki sang penderita, hingga berukuran teramat besar, bila dibandingkan ukuran normal.
Pihak jajaran Kesehatan Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan penyakit kaki gajah (filariasis)
sudah menjadi ancaman yang menakutkan warga kabupaten setempat sebab dikatagorikan endemis.
Selama lima tahun terakhir, Dinas Kesehatan & Kessos Kab. Kotabaru melakukan pengobatan massal di empat
kecamatan, Kelumpang Utara, Kelumpang Selatan, Tanjung Seloka dan Pulau Laut Timur, sebagai daerah yang paling
banyak ditemukan penderita filaria. Sampai saat ini kasus filariasis di seluruh Kabupaten Kotabaru sebanyak 36 kasus,
di Kota Kotabaru ibukota kabupaten terdapat 4 kaus, Pudi 11 kasus, Pamukan II 1 kasus, Pantai 1 kasus, dan Tanjung
Seloka 7 kasus. Kemudian di Lontar 3 kasus, Tanjung Batu 1 kasus, Sei Durian 2 kasus, Berangas 2 kasus, Marabatuan
1 kasus, Tanjung Smalantakan 1 kasus, Bakau 1 kasus dan Gunung Batu Besar 1 kasus. Namun di Tahun 2008, pengobatan massal filariasis sudah mencakup semua Kecamatan yang ada di Kabupaten
Kotabaru.
Pengobatan
Secara medis, pengobatan Filariasis menggunakan Garam DEC (dengan jumlah tablet yang dikonsumsi berdasarkan
umur penderita) dan Albendasol. Cara pengobatan ini dilakukan setahun sekali selama kurun waktu 5 tahun berturutturut.
Belakangan ini diketahui bahwa, daun jati Belanda juga dapat digunakan sebagai obat elephantiasis atau penyakit kaki
gajah. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kaki gajah adalah bagian kulit kayu sebelah
dalam. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa daunnya pun apalagi jika dicampur dengan ramuan lain
maka dapat pula dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Untuk mengobati kaki gajah, daun
yang akan digunakan sebagai ramuan dipilih daun yang segar dan berwarna hijau tua. Daun diambil
secukupnya, dikeringkan dengan cara diangin – anginkan, tetapi harus dihindarkan dari cahaya matahari
langsung karena dapat mengubah warna daun menjadi cokelat kehitaman. Pengeringan yang tidak benar akan
mengurangi khasiat zat aktif yang dikandungnya. Kemudian seduh dengan air panas, disaring, dan air saringannya
diminum sehari 2 kali.
Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas
WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.
Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).
Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah.
Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ? 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.
FILARIASIS merupakan istilah lain dari penyakit kaki gajah. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.
Nyamuk adalah termasuk jenis serangga yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berhubungan dengan air. Tepatnya, stadium pradewasa dari nyamuk (telur, jentik, dan pupa) berada di air, sedangkan masa dewasanya berada di luar perairan. Hebatnya lagi dari nyamuk ini, ia ternyata memiliki kesukaan berbeda-beda terhadap air. Ada nyamuk yang suka di air kotor, air tawar atau air payau yang jernih, dan ada pula yang suka di air yang keruh sebagai tempat berkembangbiaknya. Begitu pula dengan keadaan perairannya berbeda-beda. Ada yang banyak ditumbuhi tumbuhan air dan ada juga yang sedikit atau tidak ada sama sekali tumbuhan air.
Pertanyaannya adalah, apa hubungannya antara keberadaan tumbuhan air dengan keberadaan vektor filariasis itu? Dan bagaimana caranya untuk memberantas penyakit kaki gajah yang bikin ampun bagi penderitanya itu?
* *
SAAT ini, telah diketahui ada tiga spesies cacing filaria yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia timori, dan Brugia malayi. Sementara itu, nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah di Indonesia telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Aedes, Armigeres, dan Mansonia.
Keberadaan beberapa jenis tumbuhan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya dengan keberadaan nyamuk sebagai tempat inangnya. Adalah nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan pupanya tidak terlepas dari keberadaan tumbuhan air (tumbuhan inang) di perairan.
Menurut Hadi Suwasono (1996), telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut, kalau pada larva terdapat pada ujung sifhon, sedangkan pada pupa ditemukan pada terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik sifhon maupun terompet dapat berhubungan langsung dengan udara (oksigen) yang ada dijaringan udara tumbuhan air.
* *
KEBERADAAN tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia, dan kita tahu bersama kalau spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya.
Akhirnya, untuk memberantas dan memutuskan penularan penyakit kaki gajah ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan menggunakan insektisida atau secara tidak langsung dengan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang oleh nyamuk Mansonia sp.***PR-9-3-2006
FILARIASIS
Penyakit kaki gajah atau yang sering disebut filariasis / elefantiasis hingga saat ini masih menjadi endemi di ratusan
kabupaten di Indonesia . Gejala ini memprihatinkan dan bagi masyarakat awam kesadaran akan terjangkit penyakit ini
dapat membantu penanggulangannya.
Waspadalah bila tiba-tiba kaki Anda membesar. Mungkin saja virus penyebab penyakit filariasis atau dikenal dengan
kaki gajah, mulai menghinggap. Sebenarnya penyakit ini sendiri berasal dari cacing yang menempel pada nyamuk.
Seperti pada konsep umum kesehatan masyarakat, sistem penularan penyakit ini juga melalui individu agen di
sekitarnya. Biasanya cacing akan menempel pada nyamuk, dan masuk ke aliran darah dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk. Akibat gigitan ini, virus cacing akan menetap di dalam darah, berkembang biak dan menggejala.
Gejala
Gejalanya sebenarnya dapat dilihat dengan mudah, Saat tubuh terlihat demam berulang-ulang setiap satu hingga dua
bulan, selama tiga hingga lima hari. Lalu kemudian terlihat gejala pembengkakan kelenjar pada paha dan ketiak. Kalau
diraba pembengkakan kelanjar ini akan terasa panas. Gejala ini kemudian diikuti dengan pembengkakan serupa pada
daerah-daerah seperti tungkai kaki, lengan, buah dada, bahkan juga pada kantung buah zakar, hingga mencapai ukuran
yang bisa bikin kita geleng kepala. Itulah mengapa penyakit ini dinamakan kaki gajah. Karena penyakit ini umumnya
menyerang kaki sang penderita, hingga berukuran teramat besar, bila dibandingkan ukuran normal.
Pihak jajaran Kesehatan Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan penyakit kaki gajah (filariasis)
sudah menjadi ancaman yang menakutkan warga kabupaten setempat sebab dikatagorikan endemis.
Selama lima tahun terakhir, Dinas Kesehatan & Kessos Kab. Kotabaru melakukan pengobatan massal di empat
kecamatan, Kelumpang Utara, Kelumpang Selatan, Tanjung Seloka dan Pulau Laut Timur, sebagai daerah yang paling
banyak ditemukan penderita filaria. Sampai saat ini kasus filariasis di seluruh Kabupaten Kotabaru sebanyak 36 kasus,
di Kota Kotabaru ibukota kabupaten terdapat 4 kaus, Pudi 11 kasus, Pamukan II 1 kasus, Pantai 1 kasus, dan Tanjung
Seloka 7 kasus. Kemudian di Lontar 3 kasus, Tanjung Batu 1 kasus, Sei Durian 2 kasus, Berangas 2 kasus, Marabatuan
1 kasus, Tanjung Smalantakan 1 kasus, Bakau 1 kasus dan Gunung Batu Besar 1 kasus. Namun di Tahun 2008, pengobatan massal filariasis sudah mencakup semua Kecamatan yang ada di Kabupaten
Kotabaru.
Pengobatan
Secara medis, pengobatan Filariasis menggunakan Garam DEC (dengan jumlah tablet yang dikonsumsi berdasarkan
umur penderita) dan Albendasol. Cara pengobatan ini dilakukan setahun sekali selama kurun waktu 5 tahun berturutturut.
Belakangan ini diketahui bahwa, daun jati Belanda juga dapat digunakan sebagai obat elephantiasis atau penyakit kaki
gajah. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kaki gajah adalah bagian kulit kayu sebelah
dalam. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa daunnya pun apalagi jika dicampur dengan ramuan lain
maka dapat pula dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Untuk mengobati kaki gajah, daun
yang akan digunakan sebagai ramuan dipilih daun yang segar dan berwarna hijau tua. Daun diambil
secukupnya, dikeringkan dengan cara diangin – anginkan, tetapi harus dihindarkan dari cahaya matahari
langsung karena dapat mengubah warna daun menjadi cokelat kehitaman. Pengeringan yang tidak benar akan
mengurangi khasiat zat aktif yang dikandungnya. Kemudian seduh dengan air panas, disaring, dan air saringannya
diminum sehari 2 kali.
FISIOLOGI SERANGGA
FISIOLOGI SERANGGA
Sistem respirasi (pernafasan)
Sistem resperasi serangga merupakan sistem percabangan hawa (trachea), trachea biasanya memanjang sepanjang tubuh serangga. Melalui cabang2 trachea yg lebih kecil (tracheole) udara masuk kejaringan tubuh. Udara digerakan dengan cara mengembangkan dan mengempiskan trachea. Beberapa serangga dpt. mengatur aliran udara dgn. Mengambil udara melalui anterior spiracle dan mengeluarkan melalui posterior.
SISTEM PENCERNAAN DAN PEREDARAN DARAH
A. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada serangga disesuaikan dengan makanan yg bermacam2 tsb. Untuk diubah menjadi karbohidrat,lemah dan protein.
Sistem pencernaan terdiri dari sebuah saluran pencernaan yg menyerupai tabung bermula dari mulut dan berakhir pada anus. Saluran ini dibagi dalam tiga bagian :
1, stomodeum (foregut) terdiri dari rongga mulut dan kelenjar ludah, epi-faring dan hipo-faring, faring proventculus digunakan untuk menyimpan makanan (tembolok) dimana makanan digiling lebih halus.
2. mesenteron atau mit-gut, terdiri dari lambung sebagai tempat pencernaan makanan
3. proctodeum ( hind-gut) sebagai tempat penampungan makanan yag tidak dapat dicerna dibuang melalui anus
B. PEREDARAN DARAH
Sistem peredaran darah serangga merupakan sistem peredaran darah terbuka, artinya darah tidak masuk dalam pembuluh darah ,melainkan darah beredar bebas keseluruh tubuh serangga. Darah meresap ke jantung atau pembuluh darah dorsal melalui klep (astia) dan dipompa kedaerah kepala melalui aorta, dari daerah kepala darah mengalir kebagian belakang,
Darah tidk berwarna atau kuning kehijauan , hanya sedikit serangga yg mempunyai darah berwarna merah karena haemoglobine.
SISTEM SYARAF
Sistem syaraf pada serangga terdapat pada jaringan dan organ yg menyerupai pada binatang yg tingkatnya lebih tinggi.
Otak terdapat pada kepala diatas osophagus yang dihubungkan sub osophageal ganglion dengan dua syaraf yg melingkari aesophagoes.
urat syaraf terdpt pada bagian depan ventral dari arah kepala ke arah belakang.
SISTEM REPRODUKSI SERANGGA
Serangga jantan memiliki dua testes dan sebuah penis, sedangkan serangga betina mempunyai dua ovarium.
SIKLUS HIDUP SERANGGA
Metamorfosa adalah. Perubahan2 yang terjadi selama masa pertumbuhan dan perkembangan dari serangga.
Ada tiga jenis metamorfosa dlm.kehidupan serangga. yaitu:
1). Ametamorfosa yaitu. Suatu metamorfosa dengan perubahan2 dalam siklus hidup serangga yang tidak nyata.
Telur menetas menjadi nimfa, nimfa kemudian mnjadi dewasa.
2)Metamorfosa sederhana (simple metamorphosis, incomplete metamorphosis, heterometabola) dari telur dan fase dewasa terdapat fase-fase nimfa yg bertingat (instar).
3).Metamorfosa sempurna. Disebut complex metamorphosis atau holometabola. Adalah: fase siklus hidup serangga yg mempunyai perbedaan yg nyata pada stadiumnya. Telur,larva,pupa,dewasa.
STRUKTUR BAGIAN LUAR SERANGGA
Untuk mengetahui ttg struktur serangga diperlukan identifkasi.
Salah satu perbedaan yg menyolok antara serangga dgn. Manusia adalah kerangkanya.
Kulit serangga mengeras spt.baju besi yg. Melindungi bagian dalam serangga dan berfungsi sebagai kerangka, kerangka seperti ini disebut Exoskelaton.
Pada manusia dan binatang bertulang belakang (vertebrata)kerangka ada didalam kulit atau disebut Endoskelaton, bagian luar serangga yg mengeras tersebut beruas-ruas yg satu dengan yg lain dihubungkan oleh bagian yg fleksibel yg memungkinkan utk. Bergerak/berkembang, penghubung ini desebut Intersegmental membranes.
PANCA INDRA SERANGGA
Alat peraba
Karena kulit serangga keras,maka tidak peka thd benda yg disentuh. Sebagai alat peraba maka menggunakan bulu perasa yg ada diseluruh tubuhnya.
Alat perasa dan pembau
Rangsangan kimia yang dengan adanya bau dan rasa diterima oleh suatu organ yg berbentuk batang yg terdpt pd permukaan tubuh. Rasa biasanya diterima /dirasakan oleh mulut, kaki dpn dan palpi . Bau dicium dengan anthene dan juga oleh palpi. Alat pembau sangat berkembang pada serangga. Ini digunakan unt menemukan tempat makanan dan utk menemukan pasangannya,serta menempatkan telurnya.
Alat pendengar
Organ pendengan dan tingkat kepekaan terhdp bunyi berbeda-beda pada setiap jenis serangga, serangga tidak tanggap terhdp bermacam-macam bunyi ttp hanya terhadap suara-suara yg khusus saja. Mis. Bunyi yg ditimbulkan oleh jenis kelamin yg berlawanan. Gelombang suara dpt diterima oleh rambut rambut syaraf yg halus.
Alat pengelihatan
Alat pengelihatan utama ad. Mata yg tersusun (ocelli) pada mata terdapat syaraf yg dapat mengirimkan rangsangan kebagian otak. Serangga dapat menerima rangsangan dgn gerakan yg cepat dan tigkatanya berbeda-beda sesuai dg kebiasannya. Serangga dpt membedakan warna, sdgkan tikus tidak, maka tikus dikenal dengan binatang buta warna.
SERANGGA SBG PENULAR PENYAKIT
Serangga sbg vektor /penular penyakit
maka serangga dapt bertindak sbg.vektor :
1. Mekanik
2. Biologik
3. Intermediate host
NYAMUK YANG MENJADI VEKTOR
culex quinquefasciatus = vector penyebab penyakit filariasis
anopheles sp, anopheles maculatus = vector penyebab penyakit malaria
aedes aegypti = vector penyebab penyakit DBD
aedes albopictus = vector penyebab penyakit Chikungunya
ORGANISME PENYEBAB PENYAKIT YG DITULARKAN OLEH SERANGGA
PROTOZOA
Entamoeba histolytica :dpt menimbulkan peny.Disenteri amuba yg ditularkan scr mekanik oleh lalat rumah (musca domestica)
Plasmodium : penyebab penyakit malaria yang ditularkan scr biologis oleh nyamuk Anopheles Sp.
Trypanosoma gambiense : penyebab penyakit tidur (African sleeping sickness) yg ditularkan scr biologis oleh lalat tsetse (glossina)
CACING
Berbabagi macam artropoda , baik insecta maupun crustacea dpt bertindak sbg intermiate host dalam sikus hidup cacing. Cestoda ,nematoda maupun trematoda.
Misal : cacing ascaris Lumbricoides,trichuris trichirura dan cacing filaria penyebab penyakit filaria ditularkan scr biologis oleh serangga.
Wuchereria bancrofti dan brugia malayi oleh nyamuk
BAKTERI
Berbagai bakteri ditularkan secara mekanis serangga, dan yang lain dpt ditularkan scr biologis oleh serangga.
Misal, Shigella dan Salmonella oleh lalat dan lipas
Bacillus anthracis penyebab antraks yg ditularkan oleh tabanus /stomoxys calcitrans (lalat kandang)
Pasteurella pestis (Basil pes) yg ditularkan oleh pinjal xenopsylla cheopis.
JAMUR
Jamur Aspergillus dpt ditularkan scr mekanik oleh lipas (blattidae) dan musca domestica
RICKETTSIA
Berbagai rickettsia ditularkan oleh serangga
Misal, Rickettsia mooseri penyebeb murine typhus ditularkan oleh pinjal (flea) yg termasuk ordo siphonapthera.
Rickettsia akari penyebab rickettsia pox yg ditularkan oleh caplak (tick)
VIRUS
Serangga dpt menularkan virus scr mekenis maupun biologis
Virus polio oleh lalat
Virus yg ditularkan oleh serangga scr bilogis disebut arbovirus (arthropods Borne virus) yg dikelompokan menjadi 2 group yaitu arbo virus group A dan arbo virus group B . yang termasuk group A ad virus yellow fiver, dengue dan virus cikhungunyah yg semuanya ditularkan oleh nyamuk, sedangkan virus gol B (Tick Borne encephalitis) ditularkan oleh Tick
Sistem respirasi (pernafasan)
Sistem resperasi serangga merupakan sistem percabangan hawa (trachea), trachea biasanya memanjang sepanjang tubuh serangga. Melalui cabang2 trachea yg lebih kecil (tracheole) udara masuk kejaringan tubuh. Udara digerakan dengan cara mengembangkan dan mengempiskan trachea. Beberapa serangga dpt. mengatur aliran udara dgn. Mengambil udara melalui anterior spiracle dan mengeluarkan melalui posterior.
SISTEM PENCERNAAN DAN PEREDARAN DARAH
A. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada serangga disesuaikan dengan makanan yg bermacam2 tsb. Untuk diubah menjadi karbohidrat,lemah dan protein.
Sistem pencernaan terdiri dari sebuah saluran pencernaan yg menyerupai tabung bermula dari mulut dan berakhir pada anus. Saluran ini dibagi dalam tiga bagian :
1, stomodeum (foregut) terdiri dari rongga mulut dan kelenjar ludah, epi-faring dan hipo-faring, faring proventculus digunakan untuk menyimpan makanan (tembolok) dimana makanan digiling lebih halus.
2. mesenteron atau mit-gut, terdiri dari lambung sebagai tempat pencernaan makanan
3. proctodeum ( hind-gut) sebagai tempat penampungan makanan yag tidak dapat dicerna dibuang melalui anus
B. PEREDARAN DARAH
Sistem peredaran darah serangga merupakan sistem peredaran darah terbuka, artinya darah tidak masuk dalam pembuluh darah ,melainkan darah beredar bebas keseluruh tubuh serangga. Darah meresap ke jantung atau pembuluh darah dorsal melalui klep (astia) dan dipompa kedaerah kepala melalui aorta, dari daerah kepala darah mengalir kebagian belakang,
Darah tidk berwarna atau kuning kehijauan , hanya sedikit serangga yg mempunyai darah berwarna merah karena haemoglobine.
SISTEM SYARAF
Sistem syaraf pada serangga terdapat pada jaringan dan organ yg menyerupai pada binatang yg tingkatnya lebih tinggi.
Otak terdapat pada kepala diatas osophagus yang dihubungkan sub osophageal ganglion dengan dua syaraf yg melingkari aesophagoes.
urat syaraf terdpt pada bagian depan ventral dari arah kepala ke arah belakang.
SISTEM REPRODUKSI SERANGGA
Serangga jantan memiliki dua testes dan sebuah penis, sedangkan serangga betina mempunyai dua ovarium.
SIKLUS HIDUP SERANGGA
Metamorfosa adalah. Perubahan2 yang terjadi selama masa pertumbuhan dan perkembangan dari serangga.
Ada tiga jenis metamorfosa dlm.kehidupan serangga. yaitu:
1). Ametamorfosa yaitu. Suatu metamorfosa dengan perubahan2 dalam siklus hidup serangga yang tidak nyata.
Telur menetas menjadi nimfa, nimfa kemudian mnjadi dewasa.
2)Metamorfosa sederhana (simple metamorphosis, incomplete metamorphosis, heterometabola) dari telur dan fase dewasa terdapat fase-fase nimfa yg bertingat (instar).
3).Metamorfosa sempurna. Disebut complex metamorphosis atau holometabola. Adalah: fase siklus hidup serangga yg mempunyai perbedaan yg nyata pada stadiumnya. Telur,larva,pupa,dewasa.
STRUKTUR BAGIAN LUAR SERANGGA
Untuk mengetahui ttg struktur serangga diperlukan identifkasi.
Salah satu perbedaan yg menyolok antara serangga dgn. Manusia adalah kerangkanya.
Kulit serangga mengeras spt.baju besi yg. Melindungi bagian dalam serangga dan berfungsi sebagai kerangka, kerangka seperti ini disebut Exoskelaton.
Pada manusia dan binatang bertulang belakang (vertebrata)kerangka ada didalam kulit atau disebut Endoskelaton, bagian luar serangga yg mengeras tersebut beruas-ruas yg satu dengan yg lain dihubungkan oleh bagian yg fleksibel yg memungkinkan utk. Bergerak/berkembang, penghubung ini desebut Intersegmental membranes.
PANCA INDRA SERANGGA
Alat peraba
Karena kulit serangga keras,maka tidak peka thd benda yg disentuh. Sebagai alat peraba maka menggunakan bulu perasa yg ada diseluruh tubuhnya.
Alat perasa dan pembau
Rangsangan kimia yang dengan adanya bau dan rasa diterima oleh suatu organ yg berbentuk batang yg terdpt pd permukaan tubuh. Rasa biasanya diterima /dirasakan oleh mulut, kaki dpn dan palpi . Bau dicium dengan anthene dan juga oleh palpi. Alat pembau sangat berkembang pada serangga. Ini digunakan unt menemukan tempat makanan dan utk menemukan pasangannya,serta menempatkan telurnya.
Alat pendengar
Organ pendengan dan tingkat kepekaan terhdp bunyi berbeda-beda pada setiap jenis serangga, serangga tidak tanggap terhdp bermacam-macam bunyi ttp hanya terhadap suara-suara yg khusus saja. Mis. Bunyi yg ditimbulkan oleh jenis kelamin yg berlawanan. Gelombang suara dpt diterima oleh rambut rambut syaraf yg halus.
Alat pengelihatan
Alat pengelihatan utama ad. Mata yg tersusun (ocelli) pada mata terdapat syaraf yg dapat mengirimkan rangsangan kebagian otak. Serangga dapat menerima rangsangan dgn gerakan yg cepat dan tigkatanya berbeda-beda sesuai dg kebiasannya. Serangga dpt membedakan warna, sdgkan tikus tidak, maka tikus dikenal dengan binatang buta warna.
SERANGGA SBG PENULAR PENYAKIT
Serangga sbg vektor /penular penyakit
maka serangga dapt bertindak sbg.vektor :
1. Mekanik
2. Biologik
3. Intermediate host
NYAMUK YANG MENJADI VEKTOR
culex quinquefasciatus = vector penyebab penyakit filariasis
anopheles sp, anopheles maculatus = vector penyebab penyakit malaria
aedes aegypti = vector penyebab penyakit DBD
aedes albopictus = vector penyebab penyakit Chikungunya
ORGANISME PENYEBAB PENYAKIT YG DITULARKAN OLEH SERANGGA
PROTOZOA
Entamoeba histolytica :dpt menimbulkan peny.Disenteri amuba yg ditularkan scr mekanik oleh lalat rumah (musca domestica)
Plasmodium : penyebab penyakit malaria yang ditularkan scr biologis oleh nyamuk Anopheles Sp.
Trypanosoma gambiense : penyebab penyakit tidur (African sleeping sickness) yg ditularkan scr biologis oleh lalat tsetse (glossina)
CACING
Berbabagi macam artropoda , baik insecta maupun crustacea dpt bertindak sbg intermiate host dalam sikus hidup cacing. Cestoda ,nematoda maupun trematoda.
Misal : cacing ascaris Lumbricoides,trichuris trichirura dan cacing filaria penyebab penyakit filaria ditularkan scr biologis oleh serangga.
Wuchereria bancrofti dan brugia malayi oleh nyamuk
BAKTERI
Berbagai bakteri ditularkan secara mekanis serangga, dan yang lain dpt ditularkan scr biologis oleh serangga.
Misal, Shigella dan Salmonella oleh lalat dan lipas
Bacillus anthracis penyebab antraks yg ditularkan oleh tabanus /stomoxys calcitrans (lalat kandang)
Pasteurella pestis (Basil pes) yg ditularkan oleh pinjal xenopsylla cheopis.
JAMUR
Jamur Aspergillus dpt ditularkan scr mekanik oleh lipas (blattidae) dan musca domestica
RICKETTSIA
Berbagai rickettsia ditularkan oleh serangga
Misal, Rickettsia mooseri penyebeb murine typhus ditularkan oleh pinjal (flea) yg termasuk ordo siphonapthera.
Rickettsia akari penyebab rickettsia pox yg ditularkan oleh caplak (tick)
VIRUS
Serangga dpt menularkan virus scr mekenis maupun biologis
Virus polio oleh lalat
Virus yg ditularkan oleh serangga scr bilogis disebut arbovirus (arthropods Borne virus) yg dikelompokan menjadi 2 group yaitu arbo virus group A dan arbo virus group B . yang termasuk group A ad virus yellow fiver, dengue dan virus cikhungunyah yg semuanya ditularkan oleh nyamuk, sedangkan virus gol B (Tick Borne encephalitis) ditularkan oleh Tick
ENTOMOLOGI
1. PENGERTIAN ENTOMOLOGI
Ad. Ilmu yg mempelajari tentang seluk-beluk serangga pada umumnya.
2.ENTOMOLOGI KESEHATAN
Ilmu yg mempelajari tentang seluk-beluk serangga yg berperan sebagai vektor penyakit / yg merugikan kehidupan manusia
3. PENGAMATAN & PENYELIDIKAN VEKTOR/SERANGGA PENGGANGGU
- Ad. Kegiatan pengamatan/observasi yg dilakukan scr. Terus menerus dalam rangka mengetahui perkembangan perilaku vektor/serangga pengganggu.
- TAXONOMI SERANGGA SCR. UMUM.
Ad. Pengelompokan dunia serangga sesuai dengan tingkat dan kedudukannya.
Contoh : Taxonomi Nyamuk Aedes.
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Bangsa : Diptera
Suku : Culicidae
Marga : Aedes
Jenis :Aedes aegypti
PERANAN SERANGGA DLM KESEHATAN.
- Tidak semua jenis serangga merugikan manusia, ada beberapa jenis serangga mempunyai arti penting bagi kehidupan man.
mis. Lebah penghasil madu. Selain mengh. Madu, juga berperan membantu proses penyerbukan pada tanaman.
- Peranan Serangga dalam kesehatan.
Yaitu serangga (artropoda) itu sendiri yang menyebabkan sakit pada organ man. Atau hewan.
mis. Entomofobia, dermatosis kehilangan darah, racun serangga, alergi, miasis dan kerusakan alat indra.
- Peranan serangga dlm kesehatan.
Selain serangga dapat menimbulkan peny.pada manusia scr langsung, namun serangga jg berperan sebagai vektor penyakit.
misal : Nyamuk Aedes sbg. Vektotr penyakit Demam Berdarah Dengue.
Nyamuk Culex sbg. Vektor peny. filariasis
- Peranan serangga sbg. Vektor dibedakan sbb:
Seraga. Sbg. Vektor biologis.
Ada tiga jenis penularan scr.biologis diantaranya adalah:
Cyclo propagative trasmission.
Cyclo developmental trasmission.
Propagative trasmission.
- Serangga sbg. Vektor mekanis
FILUM ARTROPODA
Morfologi.
Ciri: Tubuh bersegmen-segmen.
Tonjolan tubuhnya selalu berpasangan.
(sayap,anthene dan kaki)
Bertubuh bilateral simetri.
Memiliki rangka luar (eksoskeleton)
Memiliki alat pencernaan yg dilengkapi mulut dan anus
Artropoda merp. Salah satu filum yg terbesar jumlahnya karena. hampir 75 % dari seluruh jumlah binatang.
Artropoda dibagi menjadi 4 kelas :
1 .Kelas Crustacea (berkaki 10)
Ordo : Eucopepoda Mis, Cyclops
Ordo : Decapoda Mis. Udang dan ketam air tawar
2. Kelas Myriapoda
Ordo : chilopoda : Kaki seribu (kelabang)
Ordo: Diplopoda : kaki seribu ( keluwing)
3. Kelas Arachnida : berkaki delapan
ordo : Scorpionida Mis.kalajengking
Ordo : Araneida Mis. Laba-laba
ordo : Acarina Mis. Ticks (caplak) dan Mites (tungau)
4. Kelas Hexopoda : berkaki enam
Ordo Diftera Misal. Nyamuk dan lalat
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM
Parasit malatia memerlukan dua hospes untuk menyelesaikan siklus hidupnya
- Siklus hidup pd manusia
Nyamuk anopheles infektif menghisap darah man. Sporozoit yg ada pd kelenjar liur akan msk kdlm peredaran darah selama 30 menit. Kmd sporozoit akan masuk kedlm sel hati. Kmd berkemb mjd shizon hati yg terdr dr 10.000 – 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus ekso eritrositer yg berlangsung selama 2 minggu.
Pada P Vivax dan Ovale sebagian tropozoit berkmb menjadi shizon, ttp ada sebagian ada yg menjadi dorman yg disebut hipnozoit.
Hipnozoit tsb akan tggl di dlm sel hati slm berbulan2 sampai bertahun2 dan pd saat imunitas tubuh mnrn akan mnjd aktif dan akan merespon tubuh penderita malaria.
Merozoit dr shizon hati akan pecah dan msk dalam peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah berkemb dari stadium tropozoit smp shizon 8-30 merozoit. Proses perkemb ini aseksual ini disebut shizogoni . Selanjutnya eritrosit yg terinfeksi oleh shizon pecah dan merozoit keluar menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut disebut siklus eritrositer. Setelah 2 -3 siklus shizogoni darah, sebagian merozoit yg menginfeksi sel darah merah dan membtk. Stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina.
Siklus hidup pada nyamuk anopheles
Apabila nyamuk anopheles menghisap darah yg mengadung gametosit maka didalam tbh nyamuk gamet jantan dan betina
Melakukan pembuahan menjd zigot, Zigot berkb menjd ookinet kmdian menembus ddng lambung nyamuk . Pada ddg juar lambung ookinet akan mejd ookista dan selanjutnya menjd sporozoit. Dan sporozoit ini akan bersft infektif j ditularkan ke manusia. Ms inkubasi sporozoit masuk smp timb gejala klinis dgn ditandai demam tergantung dr spesies plasmodiumnya
Ad. Ilmu yg mempelajari tentang seluk-beluk serangga pada umumnya.
2.ENTOMOLOGI KESEHATAN
Ilmu yg mempelajari tentang seluk-beluk serangga yg berperan sebagai vektor penyakit / yg merugikan kehidupan manusia
3. PENGAMATAN & PENYELIDIKAN VEKTOR/SERANGGA PENGGANGGU
- Ad. Kegiatan pengamatan/observasi yg dilakukan scr. Terus menerus dalam rangka mengetahui perkembangan perilaku vektor/serangga pengganggu.
- TAXONOMI SERANGGA SCR. UMUM.
Ad. Pengelompokan dunia serangga sesuai dengan tingkat dan kedudukannya.
Contoh : Taxonomi Nyamuk Aedes.
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Bangsa : Diptera
Suku : Culicidae
Marga : Aedes
Jenis :Aedes aegypti
PERANAN SERANGGA DLM KESEHATAN.
- Tidak semua jenis serangga merugikan manusia, ada beberapa jenis serangga mempunyai arti penting bagi kehidupan man.
mis. Lebah penghasil madu. Selain mengh. Madu, juga berperan membantu proses penyerbukan pada tanaman.
- Peranan Serangga dalam kesehatan.
Yaitu serangga (artropoda) itu sendiri yang menyebabkan sakit pada organ man. Atau hewan.
mis. Entomofobia, dermatosis kehilangan darah, racun serangga, alergi, miasis dan kerusakan alat indra.
- Peranan serangga dlm kesehatan.
Selain serangga dapat menimbulkan peny.pada manusia scr langsung, namun serangga jg berperan sebagai vektor penyakit.
misal : Nyamuk Aedes sbg. Vektotr penyakit Demam Berdarah Dengue.
Nyamuk Culex sbg. Vektor peny. filariasis
- Peranan serangga sbg. Vektor dibedakan sbb:
Seraga. Sbg. Vektor biologis.
Ada tiga jenis penularan scr.biologis diantaranya adalah:
Cyclo propagative trasmission.
Cyclo developmental trasmission.
Propagative trasmission.
- Serangga sbg. Vektor mekanis
FILUM ARTROPODA
Morfologi.
Ciri: Tubuh bersegmen-segmen.
Tonjolan tubuhnya selalu berpasangan.
(sayap,anthene dan kaki)
Bertubuh bilateral simetri.
Memiliki rangka luar (eksoskeleton)
Memiliki alat pencernaan yg dilengkapi mulut dan anus
Artropoda merp. Salah satu filum yg terbesar jumlahnya karena. hampir 75 % dari seluruh jumlah binatang.
Artropoda dibagi menjadi 4 kelas :
1 .Kelas Crustacea (berkaki 10)
Ordo : Eucopepoda Mis, Cyclops
Ordo : Decapoda Mis. Udang dan ketam air tawar
2. Kelas Myriapoda
Ordo : chilopoda : Kaki seribu (kelabang)
Ordo: Diplopoda : kaki seribu ( keluwing)
3. Kelas Arachnida : berkaki delapan
ordo : Scorpionida Mis.kalajengking
Ordo : Araneida Mis. Laba-laba
ordo : Acarina Mis. Ticks (caplak) dan Mites (tungau)
4. Kelas Hexopoda : berkaki enam
Ordo Diftera Misal. Nyamuk dan lalat
SIKLUS HIDUP PLASMODIUM
Parasit malatia memerlukan dua hospes untuk menyelesaikan siklus hidupnya
- Siklus hidup pd manusia
Nyamuk anopheles infektif menghisap darah man. Sporozoit yg ada pd kelenjar liur akan msk kdlm peredaran darah selama 30 menit. Kmd sporozoit akan masuk kedlm sel hati. Kmd berkemb mjd shizon hati yg terdr dr 10.000 – 30.000 merozoit hati. Siklus ini disebut siklus ekso eritrositer yg berlangsung selama 2 minggu.
Pada P Vivax dan Ovale sebagian tropozoit berkmb menjadi shizon, ttp ada sebagian ada yg menjadi dorman yg disebut hipnozoit.
Hipnozoit tsb akan tggl di dlm sel hati slm berbulan2 sampai bertahun2 dan pd saat imunitas tubuh mnrn akan mnjd aktif dan akan merespon tubuh penderita malaria.
Merozoit dr shizon hati akan pecah dan msk dalam peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah berkemb dari stadium tropozoit smp shizon 8-30 merozoit. Proses perkemb ini aseksual ini disebut shizogoni . Selanjutnya eritrosit yg terinfeksi oleh shizon pecah dan merozoit keluar menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut disebut siklus eritrositer. Setelah 2 -3 siklus shizogoni darah, sebagian merozoit yg menginfeksi sel darah merah dan membtk. Stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina.
Siklus hidup pada nyamuk anopheles
Apabila nyamuk anopheles menghisap darah yg mengadung gametosit maka didalam tbh nyamuk gamet jantan dan betina
Melakukan pembuahan menjd zigot, Zigot berkb menjd ookinet kmdian menembus ddng lambung nyamuk . Pada ddg juar lambung ookinet akan mejd ookista dan selanjutnya menjd sporozoit. Dan sporozoit ini akan bersft infektif j ditularkan ke manusia. Ms inkubasi sporozoit masuk smp timb gejala klinis dgn ditandai demam tergantung dr spesies plasmodiumnya
penyakit Demam Berdarah Dengue
PENDAHULUAN.
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transpotasi.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue karena virus penyebab clan nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah maupun tempat- tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh propinsi di Indonesia sudah terjangkit penyakit ini baik di kota maupun desa terutama yang padat penduduknya dan arus transportasinya lancar. Menurut laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada tahun 1989 (awal Pelita V ) tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir Pelita V meningkat menjadi 9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka kematian tercatat sebesar 4,5 %.
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia. Cara yang tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah memberantas vektor/nyamuk penular. Vektor Demam Berdarah Dengue mempunyai tempat perkembangbiakan yakni di lingkungan tempat tinggal manusia terutama di dalam stan diluar rumah. Nyamuk Aedes aegypti berkembangbiak di tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, tempayan dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang seperti kaleng bekas, tempurung kelapa , dan lain-lain yang dibuang sembarangan. Pemberantasan vektor Demam Berdarah Dengue dilaksanakan dengan memberantas sarang nyamuk untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti. Mengingat nyamuk Aedes aegypti tersebar luas diseluruh tanah air baik dirumah maupun tempat-tempat umum, maka untuk memberantasnya diperlukan peran serta seluruh masyarakat.
MEKANISME PENULARAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiapkali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.
MEKANISME PENULARAN
Penularan penyakit demam berdarah melalui vektor penyakit Nyamuk Aedes Aegepti, A. albopictus dan A. Polynesiensis. Nyamuk tertular oleh virus ketika menggigit penderita deman berdarah yang mengalami viremia yaitu dua hingga lima hari setelah demam timbul. Virus selanjutnya berkembang biak di lambung atau organ lain dan berreplikasi di kelenjar liur nyamuk selama 8-10 hari, sebelum nyamuk menjadi infektif (menularkan virus selama hidupnya). Nyamuk yang terinfeksi menularkan penyakit ke tubuh manusia dan virus berkembang selama 4-6 hari di dalam ogan tubuh manusia, menginfeksi sel darah putih dan kelenjar getah bening, selanjutnya dilepaskan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Setelah masa perkembangan itulah gejala klinis demam berdarah timbul.
Penderita yang terinfeksi virus dengue akan memperlihatkan manifestasi klinis yang beragam tergantung pada banyak faktor termasuk serotipe virusnya. WHO membedakan empat manifestasi klinis yang dikenal dengan manifestasi klinis derajat 1 hingga derajat 4. Pada manifetasi klinis derajat satu, penderita akan mengalami demam ringan yang tidak spesifik dan manifestasi perdarahan spontan. Pada derajat kedua dijumpai demam ringan yang tidak spesifik dan manifestasi perdarahan spontan, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat. Selanjutnya pada derajat ketiga, didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< style=""> Manifestasi klinis terberat dikenal sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS), yaitu syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
MEKANISME PENULARAN
Penyakit DBD hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty betina.
Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang :
Yang sakit DBD atau
Yang tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus Dengue (karena orang ini memiliki kekebalan terhadap virus dengue)
Orang yang mengandung virus dengue tetapi tidak sakit, dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegypti.
Virus dengue yang terhisap akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk termasuk kelenjar liurnya.
Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
Bila orang yang ditulari itu tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak), ia akan segera menderita DBD.
Nyamuk Aedes Aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan kepada orang lain.
Dalam darah manusia, virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu lebih kurang 1 minggu.
Tanda-tanda Penyakit Demam Berdarah Dengue
Mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah dan lesu suhu badan antara 38 °C sampai 40 °C
Tampak bintik-bintik merah pada kulit, seperti bekas gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler dikulit, untuk membedakannya kulit direnggangkan, bila bintik merah itu hilang, berarti bukan tanda penyakit DBD.
Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan)
Akan terjadi muntah darah/berak darah.
Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena terjadi perdarahan di lambung.
Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat, bila tidak segera ditolong di Rumah Sakit dalam 2-3 hari dapat meninggal dunia.
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transpotasi.
Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue karena virus penyebab clan nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah maupun tempat- tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh propinsi di Indonesia sudah terjangkit penyakit ini baik di kota maupun desa terutama yang padat penduduknya dan arus transportasinya lancar. Menurut laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah tersebar di 27 propinsi di Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada tahun 1989 (awal Pelita V ) tercatat angka kejadian sebesar 6,9 % dan pada akhir Pelita V meningkat menjadi 9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka kematian tercatat sebesar 4,5 %.
Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan vaksin untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue belum tersedia. Cara yang tepat guna untuk menanggulangi penyakit ini secara tuntas adalah memberantas vektor/nyamuk penular. Vektor Demam Berdarah Dengue mempunyai tempat perkembangbiakan yakni di lingkungan tempat tinggal manusia terutama di dalam stan diluar rumah. Nyamuk Aedes aegypti berkembangbiak di tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, tempayan dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang seperti kaleng bekas, tempurung kelapa , dan lain-lain yang dibuang sembarangan. Pemberantasan vektor Demam Berdarah Dengue dilaksanakan dengan memberantas sarang nyamuk untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti. Mengingat nyamuk Aedes aegypti tersebar luas diseluruh tanah air baik dirumah maupun tempat-tempat umum, maka untuk memberantasnya diperlukan peran serta seluruh masyarakat.
MEKANISME PENULARAN
Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiapkali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain.
MEKANISME PENULARAN
Penularan penyakit demam berdarah melalui vektor penyakit Nyamuk Aedes Aegepti, A. albopictus dan A. Polynesiensis. Nyamuk tertular oleh virus ketika menggigit penderita deman berdarah yang mengalami viremia yaitu dua hingga lima hari setelah demam timbul. Virus selanjutnya berkembang biak di lambung atau organ lain dan berreplikasi di kelenjar liur nyamuk selama 8-10 hari, sebelum nyamuk menjadi infektif (menularkan virus selama hidupnya). Nyamuk yang terinfeksi menularkan penyakit ke tubuh manusia dan virus berkembang selama 4-6 hari di dalam ogan tubuh manusia, menginfeksi sel darah putih dan kelenjar getah bening, selanjutnya dilepaskan dan masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Setelah masa perkembangan itulah gejala klinis demam berdarah timbul.
Penderita yang terinfeksi virus dengue akan memperlihatkan manifestasi klinis yang beragam tergantung pada banyak faktor termasuk serotipe virusnya. WHO membedakan empat manifestasi klinis yang dikenal dengan manifestasi klinis derajat 1 hingga derajat 4. Pada manifetasi klinis derajat satu, penderita akan mengalami demam ringan yang tidak spesifik dan manifestasi perdarahan spontan. Pada derajat kedua dijumpai demam ringan yang tidak spesifik dan manifestasi perdarahan spontan, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat. Selanjutnya pada derajat ketiga, didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< style=""> Manifestasi klinis terberat dikenal sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS), yaitu syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
MEKANISME PENULARAN
Penyakit DBD hanya dapat ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty betina.
Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang :
Yang sakit DBD atau
Yang tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus Dengue (karena orang ini memiliki kekebalan terhadap virus dengue)
Orang yang mengandung virus dengue tetapi tidak sakit, dapat pergi kemana-mana dan menularkan virus itu kepada orang lain di tempat yang ada nyamuk Aedes Aegypti.
Virus dengue yang terhisap akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk termasuk kelenjar liurnya.
Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah orang lain, virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
Bila orang yang ditulari itu tidak memiliki kekebalan (umumnya anak-anak), ia akan segera menderita DBD.
Nyamuk Aedes Aegypti yang sudah mengandung virus dengue, seumur hidupnya dapat menularkan kepada orang lain.
Dalam darah manusia, virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu lebih kurang 1 minggu.
Tanda-tanda Penyakit Demam Berdarah Dengue
Mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah dan lesu suhu badan antara 38 °C sampai 40 °C
Tampak bintik-bintik merah pada kulit, seperti bekas gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler dikulit, untuk membedakannya kulit direnggangkan, bila bintik merah itu hilang, berarti bukan tanda penyakit DBD.
Kadang-kadang terjadi perdarahan di hidung (mimisan)
Akan terjadi muntah darah/berak darah.
Kadang-kadang nyeri ulu hati, karena terjadi perdarahan di lambung.
Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat, bila tidak segera ditolong di Rumah Sakit dalam 2-3 hari dapat meninggal dunia.
Cara Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypty
Cara Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypty
A. Tujuan
1. Mempersiapkan bahan penelitian khusus dalam hubungannya dengan pemberantasan dan taxonomi
2. Mempersiapkan bahan bio assay test fogging
3. Mengetahui gonotrophic cycle
4. Lain-lain kebutuhan antara lain pengiriman specimen
B. Bahan yang dibutuhkan
1. Air gula
2. Makanan jentik antara lain pellet, dog food, atau hati ayam segar
3. Vitamin B komplek
4. Kertas filter whatmain
C. Peralatan
1. Kurungan nyamuk dengan handuk basah
2. Panci almunium
3. Pipet
4. Wadah mangkok atau paper cup
D. Cara memelihara koloni
1. Bahan dari telur Aedes aegypty yang dapat diperoleh dari hasil ovitrap, koleksi telur di dinding bejana, atau kiriman dari tempat lain.
a. Telur yang menempel di kertas dimasukkan ke dalam panic almunium yang berisi air setengahnya, diletakkan mengambang.
b. Kalau telur cukup baik akan menetas dalam waktu 3-24 jam menjadi instar I.
c. Instar I akan tumbuh menjadi instar II dalam waktu 2-3 hari.
Pada tingkat ini ke dalam panci.
d. Instar II dalam waktu 2 hari tumbuh menjadi instar III, kemudian dalam waktu 2 hari, menjadi instar IV, yang masih aktif makan.
e. Instar IV, dalam waktu 2 hari akan berubah menjadi kepompong, yang sudah tidak aktif makan.
f. Kepompong ini kemudian dipindahkan ke dalam mangkok dengan cara memipet, kemudian mangkok ini dimasukkan ke dalam kurungan nyamuk yang telah disediakan.
g. Dlam waktu 24-36 jam kepompong akan tumbuh menjadi nyamuk atau imago
h. Imago yang terjadi ini jenis kelaminnhya dapat jantan atau betina, dengan jumlah yang hamper sama.
i. Ke dalam kurungan nyamuk juga disediakan air gula yang terserap dalam kapas, ini dimaksudkan sebagai makanan nyamuk.
j. Pada setiap pagi dan sore, maka nyamuk ini diberi umpan darah, sampaisemua nyamuk makan dan dalam keadaan kenyang.
k. Ke dalam kurungan kita sediakan mangkok/paper cup yang berisi air, yang dindingnya ditempeli potongan kertas filter whatmain, dimaksudkan untuk menyediakan tempat meletakkan telur bagi nyamuk betina.
l. Kertas filter yang telah ditempeli telur kemudian diambil untuk diteteskan, atau disimpan di tempat yang kering dan bebas dari semut.
2. Bahan dari jenis instar I/II/III atau kepompong yang diperoleh dari koleksi jentik di wadah-wadah air.
3. Bahan dari nyamuk Aedes aegypty, Yng diambil dari hasil penangkapan umpan badan atau trap.
E. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pemeliharaan koloni
Stadium Pra Dewasa
1. Air :
Air yang digunakan air tawar, kalau bisa air hujan
Air mengandung bahan makanan yang bisa cocok
Air setiap hari harus selalu diganti dengan yang baru /segar
Temperatur sebaiknya antara lebih kurang 20°C
2. Temperatur :
Temperatur lingkungan diusahakan sama dengan suhu kamar biasa lebih kurang 28°C, atau kamar dengan Ac, suhu antara 20°C - 24°C
3. Makanan :
Diusahakan dicoba makanan yang cocok dan mudah diperoleh, semakin cocok makanan yang tersedia semakin baik untuk pertumbuhan. Terutama tingkat instar II sampai IV
4. Ph Air :
Derajad keasaman yang cocok antara 6,5 sampai 7. Kalau terlalu asam atau basa pertumbuhan terhambat/mati
Stadium Dewasa
1. Kelembaban Udara
Suhu sekitar kurungan nyamuk diusahakan lembab, kalau bisa dengan AC, kalau tidak, dapat diusahakan selalu diselimuti handuk yang cukup basah dan terus menerus diganti. Kalau perlu bisa diberi pelepah pisang disekitar kurungan.
2. Temperatur
Diusahakan berkisar antara 20°C - 28°C
3. Makanan
Disediakan air gula dengan takaran 1:3 (satu bagian gula, 3 bagian air putih), untuk nyamuk jantan dan betina.Umpan darah, baik hewan atau manusia (untuk nyamuk betina). Diusahakan diberi makan 2 kali sehari (pagi dan sore) sampai kenyang atau tidak mau lagi. Kalau perlu diberi cairan vitamin B komplek, agar cukup kebutuhan asam amino dan tumbuh dengan cepat.
NB : Kurungan nyamuk ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm, agar hanya diisi 50 ekor nyamuk saja.
A. Tujuan
1. Mempersiapkan bahan penelitian khusus dalam hubungannya dengan pemberantasan dan taxonomi
2. Mempersiapkan bahan bio assay test fogging
3. Mengetahui gonotrophic cycle
4. Lain-lain kebutuhan antara lain pengiriman specimen
B. Bahan yang dibutuhkan
1. Air gula
2. Makanan jentik antara lain pellet, dog food, atau hati ayam segar
3. Vitamin B komplek
4. Kertas filter whatmain
C. Peralatan
1. Kurungan nyamuk dengan handuk basah
2. Panci almunium
3. Pipet
4. Wadah mangkok atau paper cup
D. Cara memelihara koloni
1. Bahan dari telur Aedes aegypty yang dapat diperoleh dari hasil ovitrap, koleksi telur di dinding bejana, atau kiriman dari tempat lain.
a. Telur yang menempel di kertas dimasukkan ke dalam panic almunium yang berisi air setengahnya, diletakkan mengambang.
b. Kalau telur cukup baik akan menetas dalam waktu 3-24 jam menjadi instar I.
c. Instar I akan tumbuh menjadi instar II dalam waktu 2-3 hari.
Pada tingkat ini ke dalam panci.
d. Instar II dalam waktu 2 hari tumbuh menjadi instar III, kemudian dalam waktu 2 hari, menjadi instar IV, yang masih aktif makan.
e. Instar IV, dalam waktu 2 hari akan berubah menjadi kepompong, yang sudah tidak aktif makan.
f. Kepompong ini kemudian dipindahkan ke dalam mangkok dengan cara memipet, kemudian mangkok ini dimasukkan ke dalam kurungan nyamuk yang telah disediakan.
g. Dlam waktu 24-36 jam kepompong akan tumbuh menjadi nyamuk atau imago
h. Imago yang terjadi ini jenis kelaminnhya dapat jantan atau betina, dengan jumlah yang hamper sama.
i. Ke dalam kurungan nyamuk juga disediakan air gula yang terserap dalam kapas, ini dimaksudkan sebagai makanan nyamuk.
j. Pada setiap pagi dan sore, maka nyamuk ini diberi umpan darah, sampaisemua nyamuk makan dan dalam keadaan kenyang.
k. Ke dalam kurungan kita sediakan mangkok/paper cup yang berisi air, yang dindingnya ditempeli potongan kertas filter whatmain, dimaksudkan untuk menyediakan tempat meletakkan telur bagi nyamuk betina.
l. Kertas filter yang telah ditempeli telur kemudian diambil untuk diteteskan, atau disimpan di tempat yang kering dan bebas dari semut.
2. Bahan dari jenis instar I/II/III atau kepompong yang diperoleh dari koleksi jentik di wadah-wadah air.
3. Bahan dari nyamuk Aedes aegypty, Yng diambil dari hasil penangkapan umpan badan atau trap.
E. Faktor-faktor yang berpengaruh pada pemeliharaan koloni
Stadium Pra Dewasa
1. Air :
Air yang digunakan air tawar, kalau bisa air hujan
Air mengandung bahan makanan yang bisa cocok
Air setiap hari harus selalu diganti dengan yang baru /segar
Temperatur sebaiknya antara lebih kurang 20°C
2. Temperatur :
Temperatur lingkungan diusahakan sama dengan suhu kamar biasa lebih kurang 28°C, atau kamar dengan Ac, suhu antara 20°C - 24°C
3. Makanan :
Diusahakan dicoba makanan yang cocok dan mudah diperoleh, semakin cocok makanan yang tersedia semakin baik untuk pertumbuhan. Terutama tingkat instar II sampai IV
4. Ph Air :
Derajad keasaman yang cocok antara 6,5 sampai 7. Kalau terlalu asam atau basa pertumbuhan terhambat/mati
Stadium Dewasa
1. Kelembaban Udara
Suhu sekitar kurungan nyamuk diusahakan lembab, kalau bisa dengan AC, kalau tidak, dapat diusahakan selalu diselimuti handuk yang cukup basah dan terus menerus diganti. Kalau perlu bisa diberi pelepah pisang disekitar kurungan.
2. Temperatur
Diusahakan berkisar antara 20°C - 28°C
3. Makanan
Disediakan air gula dengan takaran 1:3 (satu bagian gula, 3 bagian air putih), untuk nyamuk jantan dan betina.Umpan darah, baik hewan atau manusia (untuk nyamuk betina). Diusahakan diberi makan 2 kali sehari (pagi dan sore) sampai kenyang atau tidak mau lagi. Kalau perlu diberi cairan vitamin B komplek, agar cukup kebutuhan asam amino dan tumbuh dengan cepat.
NB : Kurungan nyamuk ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm, agar hanya diisi 50 ekor nyamuk saja.
Langganan:
Postingan (Atom)